Loading...

Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Petani

Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Petani
Petani mengelola usahatani bersama keluarganya untuk mendapatkan laba dan akan menanggung risiko bila mengalami kerugian. Agar petani dapat mengembangkan usahanya dengan baik dan mendapatkan laba yang selalu meningkat, maka mereka harus memahami dan menerapkan jiwa-jiwa kewirausahaan, antara lain: mempunyai tujuan ke depan, percaya diri, mau kerja keras, mampu menghadapi risiko, mau bekerjasama dengan orang lain, menghargai kritik dan saran, selalu mempunyai ide-ide yang baru, mencari dan memanfaatkan peluang. 1. Memiliki tujuan ke masa depan Petani sebagai pengusaha harus menetapkan tujuan yang jelas (apa dan seberapa) sesuatu yang ingin dicapai, tetapi sekiranya dapat terwujud dalam waktu tertentu (setahun/dua tahun/tiga tahun dan seterusnya jangan lebih dari 10 tahun). Contoh: "Dua tahun lagi, saya ingin memiliki modal 3 kali dari sekarang". Maka saya harus melakukan langkah-langkah, antara lain: mulai sekarang saya harus memaksakan berhemat untuk dapat menabung setiap minggu/2 minggu/bulan. Dari contoh tersebut jelas manfaatnya seseorang memiliki tujuan ke masa depan, antara lain: memotivasi/mendorong diri untuk memusatkan kegiatan ke arah tujuan yang akan dicapai dan tidak banyak waktu dan tenaga yang terbuang. 2. Percaya diri Petani harus percaya diri atau yakin, saya memiliki kemampuan untuk mengelola agribisnis dengan baik dan dapat melakukan sesuatu untuk merubah hidup yang lebih baik. Jangan meremehkan kemampuan dan bakat, maka harus berjanji pada diri sendiri saya akan selalu melakukan kegiatan yang bermanfaat, misalnya: belajar kepada petani yang sudah sukses tentang cara membuat rencana usaha,, teknologi usahatani, dan menilai hasil agribisnis yang telah dilakukan. Kemudian petani dalam memilih usaha harus yakin akan berhasil. Dengan "yakin" inilah seseorang akan berupaya untuk melakukan sesuatu dengan sungguh-sunguh. 3. Mau kerja keras Petani harus mau dan mempunyai tekad untuk bekerja keras serta tekun yang diikuti dengan penuh semangat serta memulai tindakan untuk memcapai sesuatu keberhasilan. Disamping itu petani harus memperhatikan hasil produksi agar terjaga mutu, jumlah, dan waktu sesuai kebutuhan masyarakat/pasar. 4. Mampu menghadapi risiko Risiko usaha adalah kemungkinan hasil usaha yang tidak menyenangkan dan harus ditanggung oleh pelaku usaha, misalnya kerugian. Petani harus mampu mengenali dan menghitung risiko, sehingga kerugian dapat dicegah atau siap mengatasinya. Sebagai contoh: petani mempunyai usahatani yang potensi untuk dikembangkan, tetapi perlu tambahan modal sekitar Rp 15.000.000,- agar memperoleh keuntungan yang lebih besar. Apabila tambahan modal tersebut meminjam di bank harus membayar bunga 15% sebulan selama 4 bulan, tetapi bila berhasil akan memperoleh keuntungan 100%. Hal seperti ini petani harus mampu mengitung dan harus berani menghadapi kerugian berupa pinjaman pokok dan bunga bila gagal. Untuk mengurangi risiko usaha petani harus melakukan antara lain: rencana usaha dengan baik, usahatani menurut anjuran, pencegahan hama/penyakit, orientasi pasar, dan lain-lain agar hasilnya baik. 5. Mau bekerjasama dengan orang lain Petani dalam mengembangkan usahataninya harus mau bekerjasama dengan pihak lain, karena usaha yang sudah berkembang/menjadi besar akan memerlukan lebih banyak tenaga, waktu, pikiran, modal, dan lain-lain. Kerjasama dengan pihak lain apabila benar-benar memerlukan, misalnya dengan: (1) Lembaga keuangan/bank dalam penambahan modal, (2) Pedagang/tengkulak dalam pemasaran hasil, (3) Kelompoktani lainnya dalam pemasaran, penyediaan bahan baku, (4) Lainnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kerjasama antra lain: saling memerlukan, saling menguntungkan, saling menghormati, saling terdorong semangat, dll. Kerjasama harus ada keyakinan bahwa rezki datang dari hubungan yang luas. 6. Menghargai kritik dan saran orang lain Petani yang ingin maju harus memiliki perasaan antara lain : sabar, tidak mudah tersinggung dan berpikir positif (menganggap baik) terhadap semua orang. Komentar pelanggan/pembeli dapat berupa pujian, kritik dan saran harus didengar dan dipertimbangkan. Sebenarnya komentar pelanggan/pembeli merupakan selera mereka dan apabila dipenuhi akan mendatangkan keuntungan lebih banyak. 7. Selalu mempunyai ide-ide baru Petani yang ingin maju jangan menerima nasib dan melaksanakan usaha dengan meniru orang lain atau nenek moyang. Melainkan harus berpikir mencari cara-cara lain yang lebih produktif, praktis, efisien (menghemat biaya) dan mencari produk apa yang laku di pasaran atau sedang diperlukan konsumen/masyarakat setempat. Contoh: petani menanam padi dan menjual hasil panennya dengan tengkulak yang datang seperti yang dilakukan oleh orang tuanya dahulu. Suatu ketika ada gagasan untuk menjual padi ke tempat lain dan secara berkelompok, ternyata harganya lebih tinggi. Gagasan menjual padi ke tempat lain dan secara berkelompok inilah disebut ide baru yang dapat meningkatkan laba yang diperoleh. 8. Mencari dan memanfaatkan peluang pasar Petani melakukan usahatani harus mau dan mampu mancari produk pertanian yang diperlukan banyak orang, kemudian menanam dan memasarkannya. Semakin banyak orang memerlukan dan membeli hasil usahatani, maka lebih besar peluang pasar untuk mendapatkan laba lebih besar. Contoh: pada bulan puasa banyak orang memerlukan pisang kepok, timun suri, blewah, dan lain-lain. Kesempatan ini harus dilihat oleh petani dan dimanfaatkan petani dengan menanam pisang kepok, timun suri, blewah, dan lain-lain sebelum bulan puasa dan diperkirakan bisa panen pada bulan puasa. Sumber informasi: 1. Geoffrey G.Meredith et al. 1995. Kewirausahaan: Teori dan Praktek. Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo, Cetakan Keempat. 2. Ace Partadiredja. 1992. Pengantar Ekonomika. Yogyakarta,BPFE, Edisi Keempat. 1992. Penulis Susilo Astuti h. (penyuluh pertanian, pusbangluhtan)