Setiap petani harus bisa memimpin dirinya sendiri maupun orang lain dalam melakukan agribisnis, agar selalu memperoleh keuntungan dan berkembangan secara berkelanjutan. Dalam UU RI Nomer 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (SP3K) pada bab II pasal 4 mengamanatkan, bahwa sistem penyuluhan pertanian harus dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan bagi petani baik sebagai pelaku utama maupun sebagai pelaku usaha pertanian. Dengan demikian petani menjadi sumberdaya manusia pertanian berkualitas yang mampu mengorganisasikan agribisnis dengan baik. Pada kenyataannya masih banyak petani mempunyai kebiasaan menggarap lahan atau memelihara ternak dengan jenis komoditas meniru petani sekitar, akhirnya pada saat panen terjadilah masalah produksi melimpah. Sesuai hukum ekonomi, penawaran banyak akibatnya harga turun, sehingga produk dijual dengan harga murah atau sulit dijual. Akhirnya untung hanya sedikit atau kembali modal saja, bahkan bisa mengalami kerugian. Hanya kembali modalpun sebetulnya mengalami rugi waktu, pikiran dan tenaga, tetapi tidak terasa oleh petani yang bersangkutan. Kebiasaan petani ini perlu dirubah melalui pendampingan/pembinaan oleh penyuluh pertanian dengan mengingatkan, bahwa petani itu sebetulnya seorang pengusaha atau wirausaha (entrepreneur) yang perlu memiliki jiwa kepemimpinan. Mengembangkan jiwa kepemimpinan petani ini merupakan salah satu tugas penyuluh pertanian pendamping/pembina petani atau yang bertugas di setiap desa/kelurahan. Untuk itu setiap penyuluh pertanian sebagai pendamping petani harus memahami pengertian kepemimpinan dan perilaku pemimpin. Pengertian kepemimpinan Kebanyakan pemimpin merupakan orang yang aktif serta terlibat dalam kegiatan produktif dan mampu mencapai hasil yang baik. Kesimpulan dari beberapa teori, kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain dalam proses pencapaian tujuan bersama (organisasi) pada situasi tertentu (Machmur, 2007). Dalam Anonim (1996), walaupun tidak menduduki jabatan sebagai kepala, seseorang akan merupakan sikap kepemimpinan pada diri sendiri. Apabila ingin memiliki jiwa kepemimpinan yang baik harus mengikuti ciri-ciri berikut: - Tidak menjadi pengikut; - Berperan aktif dalam masyarakat; - Senang membantu orang lain; - Mengembangkan dan menerapkan ide-ide baru; - Berusaha meningkatkan kekuatan dan menghilangkan kelemahan; - Belajar dari kesalahan dan pengalaman sendiri; - Mengatur waktu dan kegiatan secara efisien/hemat; - Harus mempunyai rencana untuk meningkatkan kadar kepemimpinan; - Berorientasi/memperhatikan pada hasil dan menyelesaikan pekerjaan yang telah dimulai; - Melakukan perubahan untuk menjadikan agribisnisnya menjadi lebih baik. - Meningkatkan prestasi mitra kerjanya (anggota keluarga dan pekerjanya), karena mereka harta paling penting dalam usaha agribisnis; - Mendelegasikan kekuasaan dan tanggung jawab kepada mitra kerjanya. - Membagi keberhasilan kepada mitra kerjanya. Perilaku Pemimpin Petani berjiwa kepemimpinan harus manpu mencapai tujuan/harapan yaitu agribisnis yang dilakukan harus meningkat produksinya, menguntungkan dan berkembang secara berkelanjutan. Dalam mecapai tujuan tersebut tidak sendirian melainkan harus kerjasama dengan mitra kerjanya, maka seorang petani berjiwa kepemimpinan harus mempunyai perilaku memperhatikan tugas dan mitra kerjanya. Memperhatikan tugas antara lain: (1) Menetapkan tujuan yang sulit tetapi dapat dicapai; (2) Merumuskan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan, baik harus dilaksanakan sendiri maupun kegiatan yang harus dilaksanakan oleh mitra kerjanya; (3) Merumuskan secara jelas ukuran/hal-hal yang bisa untuk melihat pencapaian tujuan; (4) Melaksanakan pekerjaan secara aktif dalam hal merencanakan, mengarahkan, membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan; dan (5) Berminat mencapai peningkatan produktivitas. Sedangkan memperhatikan mitra kerja antara lain: (1) Memelihara keharmonisan dengan mitra kerjanya; (2) Menganggap mitra kerja sebagai manusia yang mempunyai perasaan dan sikap, bukan alat produksi yang berupa benda; (3) Mengahargai kebutuhan, tujuan, keinginan, perasaan dan ide-ide mitra kerja; (4) Menciptakan komunikasi timbal balik yang baik dengan mitra kerja,yaitu: mendengar, bertanya, berdiskusi, berdebat tentang informasi yang diterima untuk mengarahkan dan melibatkan mitra kerja dalam tindakan yang efektif/tepat; (5) Memberikan penghargaan, misalnya memberi pujian atau menambah imbalan kepada mitra kerja yang hasil kerjanya lebih dari target dan menegur untuk bekerja lebih baik kepada mitra kerja yang hasil kerjanya kurang dari target; (6) Membagi tugas dan tanggung jawab kepada mitra kerjanya, serta mendorong inisiatif; (7) Menciptakan suasana kerjasama yang saling menguntungkan; (8) Tanggap dan membantu terhadap kebutuhan mitra kerjanya; (9) Menghormati mitra kerja dan memperlakukan sebagai bagian penting untuk pencapaian tujuan; dan (10) Menerima dan mengahargai nilai-nilai dan gaya hidup yang berlainan. Sumber Informasi: 1. Mulyono Machmur. Bunga Rampai Ilmu Kepemimpinan. Jakarta. 2007. 2. Geoffrey G. Meredith et al. Kewirausahaan (Teori dan Praktek). Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo, cetakan keempat. 1989. 3. ---------. Buku Pintar P4K seri 16. Jakarta. (halaman 96). 1996 Penulis : Susilo Astuti H. (Penyuluh Pertanian Pusluhtan)