Loading...

Pengembangan Tepung Kasava (MOCAL) di Kabupaten Trenggalek

Pengembangan Tepung Kasava (MOCAL) di Kabupaten Trenggalek
Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap tepung terigu sangat tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah impor gandum sebagai bahan baku tepung terigu yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada akhir tahun 2007, Indonesia menjadi Negara pengimpor gandum tertinggi kelima di dunia setelah Mesir, China, Jepang dan Brasil. Tentunya hal ini sangat menguras devisa Negara, terutama bila terjadi lonjakan harga gandum seperti yang terjadi pada tahun 2008. Belajar dari kasus tersebut, Pemerintah berusaha untuk terus mengembangkan tepung berbahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan pada tepung terigu. Untuk itu pemerintah menentapkan kebijakan pengembangan agroindustri berbasis tepung lokal dan pengembangan potensi pangan alternatif sebagai sarana penganekaragaman sumber karbohidrat serta menciptakan kemandirian dan kedaulatan pangan. Beruntung, dengan ditemukannnya starter bakteri asam laktat oleh Dr. Ahmad Subagyo dari Universitas Jember, maka dikembangkanlah tepung kasava terfermentasi (MOCAL) sebagai bahan substitusi bagi tepung terigu. Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu daerah yang terpilih sebagai sentra pengembangan ketela pohon dan tepung kasava terfermentasi (Modified Cassava Flour/MOCAL). Saat ini di Trenggalek telah berdiri sebuah pabrik mini yang memproduksi MOCAL dengan kemampuan produksi 50 ton/bulan serta berdiri puluhan cluster (usaha yang memproduksi chips kasava). Pabrik ini dikelola oleh Koperasi Gemah Ripah, berlokasi di Desa Kerjo Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek. Dengan keberhasilannya dalam mengembangkan tepung kasava, maka pada tanggal 24 November 2009 Trenggalek terpilih sebagai lokasi Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Kasava Terfermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional yang dicanangkan langsung oleh Menteri Pertanian Ir. Suswono, MS dengan berlokasi di Kecamatan Karangan. Dalam industri makanan, MOCAL dimanfaatkan sebagai bahan substitusi tepung terigu, sehingga dapat mengurangi konsumsi tepung terigu dan menekan harga produksi. Saat ini sudah banyak industri pengolahan makanan yang menggunakan MOCAL untuk menggantikan ataupun mengurangi penggunaan tepung terigu dalam kegiatan produksinya. Penggunaan MOCAL dapat mengurangi biaya produksi secara cukup signifikan. Pada saat harga tepung terigu Rp 6.500,00 per kg, harga MOCAL hanyalah Rp 4.000,00 per kg. Tak hanya industri rumah tangga, MOCAL juga banyak digunakan oleh industri besar, seperti PT. Indoofod Sukses Makmur (produsen mie dan bihun), PT. Radiance (produsen mie dan snack), PT. Tiga Pilar Sejahtera (produsen mie, biscuit, dan snack), PT. Multi Aneka Pangan (produsen snack dan meses). Dengan berbagai keunggulan, seperti kemudahan dalam bahan baku, harga yang kompetitif dan kandungan nilai gizi yang tinggi, maka MOCAL sangat potensial untuk dikembangkan. Diperkirakan, konsumen pengguna MOCAL akan terus meningkat sehingga kebutuhan MOCAL juga akan meningkat di tahun-tahun mendatang. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka pemerintah Kabupaten Trenggalek telah dilaksanakan program pengembangan ketela pohon dengan luas tanam seluas 20 ribu Ha. Untuk meningkatkan produksi rata-rata per Ha, maka telah dilaksanakan Sekolah Lapang dan demplot dengan menggunakan varietas unggul. Saat ini rata-rata produktivitas usaha tani ketela pohon ditingkat petani (3 ton/ha) masih lebih rendah dibandingkan dengan potensi hasilnya (6-10 ton/ha), sehingga dengan adanya program tersebut maka produktivitas diharapkan akan makin meningkat. Produktivas yang tinggi sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku MOCAL yang masih saja belum memenuhi kebutuhan. Sebagai contoh, pabrik mini milik Koperasi Gemah Ripah Desa Kerjo Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek baru bisa memproduksi tepung kasava sebanyak 50 ton/bulan. Padahal kapasitas maksimum pabrik adalah 500 ton/bulan. Selain itu, pada tahun 2010 ini kabupaten Trenggalek mendapat kesempatan lagi berupa program pengembangan tepung kasava di Desa Melis Kecamatan Gandusari. Peluang pasar bagi pengembangan tepung kasava masih terbuka lebar, mengingat kemampuan produksi selama ini masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan tepung kasava nasional. Oleh : Titik Amrih Rahayu, STP. / Bapelluh Trenggalek