Semangka (Citrullus Vulgaris Schard) merupakan salah satu jenis buah semusim di daerah tropis yang mempunyai nilai komersial tinggi, dapat dibudidayakan sepanjang tahun dengan umur tanaman yang pendek, dan menjadi buah yang dapat diandalkan untuk dikembangkan sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Buah Semangka mengandung vitamin A, vitamin C dan vitamin lainnya serta mengandung antioksidan yang tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan, dan dapat mencegah dehidrasi karena banyak mengandung air. Permasalahan yang dihadapi dalam budidaya semangka, salah satunya adanya serangan hama dan penyakit sehingga perlu dilakukan pengendaliannya. Cara pengendalian hama dan penyakit yang menyerang buah semangka, antara lain: Hama 1. Kutu Thrips (Thrips palmi Karny) Gejala : Daun mengkerut dan terpelintir “keriting daun” disebabkan hama ini menusuk dan menghisap daun di pucuk tanaman akibatnya pertumbuhannya menjadi terhambat, apabila menyerang bunga, buah yang terbentuk akan menjadi cacat. Pengendalian Cara kultur teknis : Melakukan sanitasi lingkungan dengan memusnahkan sisa-sisa tanaman inang lain di sekitar pertanaman. Menghindari menanam tanaman semangka pada lahan yang terdapat tanaman semangka dewasa atau tanaman sefamili. Tanaman yang terserang parah apalagi juga terserang virus segera dicabut dan dibakar. Cara kimiawi : Menggunakan insektisida yang telah terdaftar dan diizinkan oleh Mentan yaitu insektisida yang berbahan aktif karbosulfan, Lamda Sihalotrin + Tiametoksam, sipermetrin, tetasipermetrin, dan dimetoat sesuai dosis anjuran. 2. Kutu Daun (Aphis ghossyipii) Gejala : Nimfa dan imago memakan permukaan bawah daun membentuk koloni dalam jumlah besar menyebabkan daun menjadi keriting atau keriput. Serangga ini mensekresikan embun madu sebagai cendawan jelaga dan mengakibatkan embun jelaga. Pengendalian Cara kultur teknis : Memangkas daun yang terserang, kemudian musnahkan dengan cara dibakar, kemudian dilakukan sanitasi kebun dengan cara membersihkan gulma dari pertanaman, Tanaman yang sudah parah dan terserang virus, segera dicabut dan dibakar dan hindarkan pemukuan Nitrogen secara berlebihan. Cara kimiawi : Aplikasi insektisida pada pucuk atau ranting yang terkoloni oleh serangga, tidak harus menyemprot seluruh tanaman. dengan insektisida yang berbahan aktif berbahan aktif karbosulfan, Lamda Sihalotrin + Tiametoksam, sipermetrin, tetasipermetrin, dan dimetoat sesuai dosis anjuran. 3. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn) Gejala : Batang tanaman yang masih muda dipotong sehingga terlihat pada pangkal batang yang menyebabkan kematian tanaman. Biasanya menyerang tanaman semangka di pembibitan sampai satu minggu setelah tanam. Pengendalian Cara kultur teknis : Menjaga kebersihan lingkungan Membersihkan gulma secara intensif dan melakukan pengolahan tanah sempurna sehingga kepompong dan imago musnah. Cara kimiawi : Insektisida sistemik berbahan aktif karbofuran (seperti furadan, curater, dan darmafur) sesuai dengan dosis anjuran. Penyakit 1. Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f. niveum S&H) Gejala : Layu dimulai dari ujung sulur diikuti menguningnya daun dan berujung pada kematian tanaman. Penyakit ini juga menyerang tanaman di pembibitan. Tanaman yang terserang bila batangnya dibelah memanjang akan terlihat pembuluh silem mengalami nekrisis berwarna coklat . Pengendalian Cara kultur teknis : Menanam varietas yang tahan misalnya Quality (semangka tanpa biji) dan New Dragon (semangka berbiji) . Mengurangi penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan kerena mengasamkan tanah. Cara kimiawi : Perlakuan benih dengan fungisida bahan aktif hexa-conazole, difeneconazole, triksilazole dan benomyl. 2. Antraknosa (Colletotricum langenarium (Pass) Ell. est Halst) Gejala : Daun yang terserang penyakit ini diawali dengan adanya bercak – bercak berwarna kuning kemudian menjadi coklat mengkilat dan daun mengering. Apabila menyerang buah akan menimbulkan bercak–bercak coklat dan berlendir kemudian mengeluarkan lendir. Pengendalian Cara kultur teknis : Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman tidak satu famili . Mengurangi kelembaban dengan pengaturan jarak tanam dan memperlancar sirkulasi udara. Bagian tanaman yang terserang dibersihkan dan dimusnahkan apabila serangan belum parah. Cara kimiawi Lakukan perendaman benih dengan fungisida. Aplikasi fungisida yang terdaftar dan diizinkan oleh Mentan, yaitu fungisida berbahan aktif mancozeb, propineb, karbendazim, benomil dan klorotalonil. 3. Busuk Buah Phytophtora (Phytopthora nicotianae) Gejala : Buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan kemudian menjadi coklat kehitaman dan lunak. Ujung tangkai buah diselimuti cendawan putih. Biasanya menyerang pada bagian bawah buah yang menempel pada tanah/mulsa. Pengendalian Cara kultur teknis : Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman tidak satu famili . Mengurangi kelembaban dengan pengaturan jarak tanam dan memperlancar sirkulasi udara. Cara kimiawi Aplikasi fungisida sistemik dimetomorf, propamokarb hidroklorida, propineb dan mancozeb sesuai dosis anjuran. 4.. Busuk pangkal batang (Didymella bryoniae) Gejala : Rebah kecambah (dumping-off), busuk pada bunga, bercak pada daun kanker batang dan busuk buah pada melon. Lesi kotiledon dan daun berbentuk bulat atau tidak beraturan, coklat dan lingkaran agak kabur disekelilingnya. Lesi pada bunga dan batang berwarna coklat dan memutih ketika makin tua, lesi pada buah berwarna coklat, lunak, agak bundar, lesi pada batang mengeluarkan lendir sehingga dinamakan gummy. Penyakit ini tular benih dan dapat menular melalui percikan air atau terbawa brangkasan tanaman cacat. Pengendalian Cara kultur teknis : Rotasi tanaman dan penggunaan varietas tahan. Cara kimiawi : Aplikasi fungisida dengan bahan aktif mancozeb, chlo-rothalonil, azoxystrobin, thiophanate methyl, azoxystrobin, trifloxystrobin sesuai dosis anjuran. 5. Kresek/embun bulu (Pseudoperenosopra cubensis Barkley et Curtis) Gejala : Muncul bintik kekuningan hingga kecoklatan pada bagian atas daun. Pada serangan yang parah, daun akan berubah warna menjadi coklat atau kuning tua kemudian dan mengering. Pada bagian bawah daun terdapat kumpulan konidia dan kondiofor cendawan berwarna kelabu. Pengendalian Cara kultur teknis : Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman tidak satu famili . Mengurangi kelembaban dengan pengaturan jarak tanam dan memperlancar sirkulasi udara. Cara kimiawi : Aplikasi fungisida dengan bahan aktif simoksanil + klorotalonil, simoksanil + mancozeb, tembaga hidroksida, dimetomorf, hexakonazol 6. Penyakit Virus Gejala : Pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun menjadi keriting, dengan warna bercak-bercak kuning tidak teratur dan daun menjadi bergelombang. Pada tingkat serangan yang berat umumnya tanaman gagal membentuk buah, kalaupun terbentuk, bentuknya kerdil dan abnormal. Pengendalian Cara kultur teknis : Lakukan sanitasi kebun dengan memusnahkan gulma di sekitar pertanaman yang menjadi tanaman inangnya . Musnahkan bagian tanaman dan tanaman yang terserang parah dan dibakar. Cara kimiawi : Pengendalian serangga vektor (Myzus persicae, Aphis) dengan insektisida berbahan aktif sipermetrin atau dimetoat sesuai dosis anjuran. Penulis : Ely Novrianty (Penyuluh Pertanian BSIP Lampung/BPTP Lampung) Sumber : Direktorat Buah dan Florikultura, Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian