a. Penggerek batang (Chilo auricilius Dudgeon)Gejala : Serangan biasanya dijumpai pada tanaman tebu berumur 5 bulan ke atas. Pengendalian : (1) Menggunakan benih bebas penggerek , (2) Varietas tahan penggerek antara lain PSJT 941, PS 851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144, (3) Pengendalian hayati dengan parasit Lalat Jatiroto, 30 pasang/ha parasitoid telur Trichogramma 50 pias @ 2000 ekor/minggu pada tanaman tebu berumur 1-4 bulan.b. Hama TikusTikus mempunyai kemampuan berkembang-biak sangat cepat sehingga populasinya juga akan cepat meningkat. Kemampuan yang sangat cepat ini karena masa bunting dan menyusui bagi tikus betina sangat singkat. Induk betina mampu kawin lagi dalam waktu hanya 48 jam setelah melahirkan, mampu menyusui dan hamil pada waktu yang sama. Strategi yang digunakan dalam pengelolaan hama tikus adalah pendekatan secara terpadu, baik secara institusi maupun teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan keadaan di lapang. Keterpaduan Organisasi Keterpaduan secara institusi dilaksanakan dengan melibatkan semua instansi yang terkait seperti Instansi Penelitian Tanaman Pangan, Instansi Penelitian Tanaman Perkebunan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Dinas Perkebunan, KUD, Pemerintah Daerah, pihak swasta, petani, dan masyarakat. Keterpaduan ini dimulai sejak sebelum adanya serangan tikus dalam bentuk pertemuan-pertemuan, koordinasi, rapat, diskusi, himbauan, dan bentuk-bentuk komunikasi. Keterpaduan Teknik Pengendalian Keterpaduan teknik pengendalian adalah penerapan secara terpadu (PHT) berbagai cara pengendalian yang saling menunjang baik sekaligus, berurutan, maupun bertahap agar diperoleh hasil pengendalian yang maksimal, stabil, efektif, efisien serta berwawasan lingkungan. PHT ini harus berdasar pada hasil pemantauan sebelumnya dan terkait juga dengan tingkat pertumbuhan tanaman (padi, palawija, tebu, dll.) di lapang.Adapun teknik-teknik pengendalian yang dapat diterapkan secara terpadu dalam pengendalian hama tikus, antara lain adalah : tanam serempak, sanitasi lingkungan, pengendalian secara mekanis dan biologis, pengendalian secara kimiawi (pengumpanan beracun, pengasapan beracun). Pengendalian juga diarahkan ke daerah yang merupakan konsentrasi populasi tikus saat kondisi lahan sawah belum tersedia makanan bagi tikus. Oleh karena itu sanitasi, pemasangan umpan beracun, maupun fumigasi untuk daerah-daerah tersebut juga perlu dilakukan. Pengendalian menggunakan sistem emposan asap beracun untuk saat ini cukup efektif bila dilakukan di pematang-pematang sawah atau tepi saluran irigasi dimana dijumpai banyak liang tikus yang aktif, namun tidak akan efektif bila dilakukan pada lahan tebu karena tanahnya kering dan pecah-pecah. Sistem emposan pada lobang/liang tikus di pematang sawah saat ini efektif karena populasi tikus kecil dominan di dalam liang, sehingga hasil pengendalian berupa penekanan populasi tikus akan sangat nyata.Di susun Oleh :Bakti Woro Haryanti, SPPenyuluh Pertanian MudaDinPPKP Kab Purworejo