Loading...

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO

PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO
PENGENDALIAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO Hama penggerek buah kako (BPK) sering disebut hama mot (Cacao moth) merupakan hama yang berbahaya dan merugikan pada budidaya kakao. Saat ini hama BPK menyerang sebagian besar tanaman kakao di Lampung, yang mengakibatkan petani kakao gagal panen. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah untuk menanggulanginya antara lain: karantina, sanitasi kebun, pemangkasan dan lain-lain. CIRI HAMA Serangga hama PBK termasuk golongan ngengat (moth), yang memiliki ukuran paling kecil diantara anggota ordo Lepidoptera. Serangga betina biasa melepaskan telur pada permukaan buah kakao, dan buah yang paling disukai adalah buah yang memiliki alur paling banyak permukaannya serta ukuran panjang 8 cm. Telur berbentuk oval dengan panjang 0,45-50 mm dan lebar 0,25-0,30 mm, pipih dan berwarna orange pada saat baru diletakkan. Lama stadium telur 2-7 hari. Akibat serangan hama PBK dapat menurunkan produksi 80-90%. GEJALA SERANGAN Buah kakao yang terserang umumnya menunjukkan gejala masak lebih awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning dan jika digoyang tidak berbunyi seperti halnya buah masak normal. Jika dibelah tampak biji-biji kakao saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang, serta ukuran biji kecil tidak bernas. PENGENDALIAN 1. Karantina dan sanitasi kebun Tindakan karanntina bertujuan untuk mencegah masuknya hama PBK dari daerah terserang ke daerah yang bebas PBK baik secara internasional antar Negara maupun domestik antar pulau atau antar provinsi. Monitoring hama di tempat pengumpulan hasil (TPH) bertujuan untuk mendeteksi secara dini adanya serangan baru. Sanitasi kebun dilakukan dengan cara menguburkan kulit, plasenta dan buah busuk. 2. Pemangkasan Bentuk Pemangkasan bentuk bertujuan untuk membatasi tinggi tajuk tanaman maksimal 5 m yang berguna untuk mempermudah pengendalian dan panen. 3. Cara Panen Buah kakao memerlukan waktu sekitar 20,5 minggu mulai dari pembuahan sampai masak sempurna. Sementara hama PBK meletakkan telur kurang lebih 6-8 minggu sebelum buah masak sempurna. Kondisi ini menunjukkan bila panen dilakukan pada masak awal mengakibatkan sebagian besar larva ikut terpanen sehingga dapat menurunkan populasi hama. Untuk menurunkan populasi hama panen sebaiknya dilakukan pada masak awal yang dikombinasikan dengan frekuensi panen sesering mungkin (7 hari sekali), langkah lain yang dapat dilakukan untuk membunuh stadia hama yang terbawa saat panen secepat mungkin lakukan tindakan berikut: (a) buah dipecah dan kulit buah dibenam, dibakar atau disemprot dengan insektisida kontak, (b) kulit buah diletakkan dalam karung plastic kemudian diikat rapat dan diamkan minimal 9 hari. 4. Rampasan Buah Rampasan berfungsi untuk memutus daur hidup hama dengan cara meniadakan makanan yang sesuai bagi serangga hama, yaitu dengan merampas semua buah yang berada dipohon selama jangka waktu tertentu selama 2 bulan. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, rampasan harus dilakukan secara serentak dan tidak ada buah yang tersisa. Sebaiknya rampasan buah dilakukan saat panen rendah. 5. Penyelubungan Buah (Kondomisasi) Penyelubungan buah ata kondomisasi bertujuan untuk menghambat ngengat betina meletakkan telur. Cara pengendalian dengan menggunakan kantong plastik untuk menyelubingi buah yang panjangnya 7-10 cm. Sistem penyelubungan buah muda ini sangat efektif (95-100%) untuk pengendalian hama penggerek buah kakao, hama Helopeltis sp, serangan penyakit Phytoptora palmivora, dan serangan hama tikus. 6. Menggunakan Semut Hitam Semut merupakan salah satu predator hama, dan untuk meningkatkan populasi semut hitam perlu membuat sarang yang terbuat dari lipatan daun kelapa atau kakao. Semut-semut tersebut menyerang larva pada buah. Aktivitas semut terjadi baik siang, maupun malam kecuali pada musim hujan. 7. Cara Kimiawi Penyemprotan merupakan tindakan terakhir. Adapun insektisida yang digunakan terutama dari golongan sintetik piretroid antara lain: Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Betasiflutrin (Buldok 25 EC), Esvenvalerat (Sumialpha 25 EC), dengan konsentrasi formulasi berturut-turut 0,6% , 0,06%, 0,20%, dan 0,20%. Alat semprot gunakan knapsack sprayer, volume semprot 250 l/ha, dan frekunsi 10 hari sekali, sasaran utama buah dan cabang horizontal. Jamakuddin.SPPPL Desa Bulutellue