Pendahuluan Potensi lahan padi sawah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat seluas 12.588 ha (Distanbunnak, 2015). Luasan sawah tersebut tersebar di 56 (enam) kabupaten masing-masing Kabupaten Bangka Selatan seluas 8.075 ha, Bangka Barat 1.648 ha, Belitung Timur 1.239 ha, Bangka 809 ha, Belitung 709 ha dan Bangka Tengah seluas 108 ha. Salah satu hama utama yang kerap menjadi permasalahan dan kendala petani di lahan adalah hama tikus. Tercatat ada 167 spesies tikus di Indonesia, 8 spesies diantaranya merupakan hama di pertanian dan pemukiman, misalnya Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Beberapa spesies tikus hama yang ada dalam kehidupan sehari-hari kita, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Tikus sawah (Rattus argentiventer), sebagai hama padi, palawija dan tebu2. Tikus ladang, tikus angin, tikus semak (Rattus exulans), sebagai hama padi gogo dan palawija3. Tikus pohon, tikus hutan (Rattus tiomanicus), hama pada tanaman kelapa sawit4. Mencit sawah (Mus caroli), hama pada tanaman padi dan palawija5. Tikus wirok (Bandicota indica), hama pada ubikayu, tebu dan pemukiman6. Tikus rumah (Rattus rattus diardii), menyerang bahan pangan dalam penyimpanan7. Tikus got, tikus riul (Rattus norvegicus), hama di gudang pasar8. Mencit rumah (Mus musculuis), menyerang bahan pangan dalam penyimpananPada setiap siklus pertanaman padi, mulai dari 0 hst sampai dengan panen (± 120 hst), serangan tikus selalu ada pada setiap stadia tanaman padi. Kebiasaan Petani dalam Menghadapi Hama Tikus Masalah dilapangan yang sering kita temui sehubungan dengan keberadaan tikus sebagai hama diantaranya adalah : 1. Pengendalian tikus di tingkat petani pada umumya dilakukan setelah terjadi serangan sehingga penanganannya sering terlambat. 2. Sering terjadi ledakan populasi tikus yang tidak diantisipasi sebelumnya, sehingga menimbulkan kerugian besar, hal ini biasanya terjadi karena lemahnya monitoring 3. Persepsi petani yang beragam tentang hama tikus 4. Dinamika perkembangbiakan tikus yang belum sepenuhnya diketahui dan dipahami petani Pengendalian Tikus Secara Terpadu Pengendalian hama terpadu merupakan suatu sistem pengendalian hama yang memanfaatkan perpaduan semua teknik dan metode yang memungkinkan secara kompatibel untuk menekan populasi hama agar selalu dibawah tingkat yang menyebabkan kerugian secara ekonomi. Pelaksanaan pengendalian dilakukan oleh petani secara bersama-sama atau berkelompok dan terkoordinasi dengan cakupan skala luas. Model pengendalian tikus, diantaranya adalah tanam serempak/panen serempak, sanitasi habitat, gropyokan masal, fumigasi, LTBS, TBS dengan tanaman perangkap dan pengumpanan. Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan pembersihan tanggul, pematang, semak, serta pekarangan dekat sawah dan lahan kosong yang berada di sekitar pertanaman padi, harapanya agar tikus kehilangan tempat bersembunyi. Mengurangi ukuran pematang (maksimal 30 cm) juga merupakan salah satu cara mengurangi tempat bersarangnya tikus. Pemasangan LTBS (Linier Trap Barrier System) merupakan salah satu teknik pengendalian tikus dengan cara memagari sekeliling pertanaman padi dengan plastik dan menempatkan beberapa bubu perangkap tikus diantara bentangan plastik tersebut, dengan maksud agar tikus yang akan menyerang dapat masuk ke dalam perangkap yang telah disediakan. Penempatan LTBS sebaiknya di daerah yang populasi tikusnya sangat tinggi, dekat habibat tikus sawah serta dekat dengan sumber air. Plastik yang digunakan sebaiknya plastik bening atau yang sejenis terpal dengan tinggi antara 50 “ 60 cm. Perlu ditempatkan ajir bambu setiap jarak 1 “ 1,5 m sebagai penegak agar plastik tidak roboh. Bagian bawah plastik harus terendam air, agar tikus tidak bisa naik ke permukaan plastik. Diantara sisi pagar plastik ditempatkan bubu perangkap dengan interval 20 m. Bubu perangkap dapat dibuat sendiri dari bahan ram kawat dengan ukuran standar 20 x 20 x 40 cm atau tergantung modifikasi setempat. Bubu terdiri dari 2 sisi, sisi depan sebagai tempat masuknya tikus dengan corong perangkap (diameter 10 cm) dan sisi belakang sebagai tempat pintu pengeluaran. Tanaman perangkap perlu diadakan sebagai umpan agar tikus tertarik masuk ke dalam perangkap. Tanaman ini ditanam 3 minggu lebih awal dibanding pertanaman padi lainnya, ukurannya sekitar 25 x 25 m atau lebih, tergantung kondisi. Dengan penggunaan tanaman perangkap ini, diharapkan tikus dapat tertangkap sepanjang musim tanam.Tanam serempak juga merupakan suatu cara agar tingkat serangan tikus bisa berkurang. Pemanfaatan musuh alami juga patut dipertimbangkan untuk menekan populasi tikus, misalnya dengan penggunaan burung hantu dsb, ular maupun agensia hayati yang dapat menekan populasi tikus. Fumigasi atau pengemposan dilakukan dengan cara penjenuhan udara dengan bahan toksik/racun yang disemprotkan ke lubang tikus dengan asap belerang (SO2), setelah itu lubang segera ditutup dengan lumpur atau tanah agar tikus didalamnya dapat mati. Kesimpulan yang dapat diambil dari teknologi pengendalian tikus ini adalah: 1. Sanitasi habitat sumber populasi tikus, bakar atau komposkan bekas-bekas pembersihan agar tidak menjadi tempat bersembunyi tikus, lakukan setiap awal musim/sebelum tanam2. Pengumpanan beracun dilakukan setelah sanitasi dengan meletakkan umpan yang sudah diberi racun dipotongan bambu ± 20 cm3. Gropyokan masal perlu dilakukan terus menerus secara rutin4. Lakukan fumigasi di sarang lubang tikus5. Pesemaian sebaiknya diberi pagar plastik dan diberi bubu perangkap.6. Tanam serentak perlu dilakukan, bila tidak memungkinkan gunakan varietas padi yang beragam Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (Penyuluh BPTP Kep. Bangka Belitung) Sumber Bacaan : Agus Anggara dan Sudarmaji (Laboratorium Tikus, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi) Distanbunnak Prov. Kep. Babel. 2015. Percepatan Pembangunan Tanaman Pangan di Provinsi Kep. Babel. Sumber Foto : Dokumentasi BPTP Kep. Bangka Belitung