Loading...

PENGENDALIAN JAMUR PIRANG PADA TANAMAN LADA

PENGENDALIAN JAMUR PIRANG PADA TANAMAN LADA
Jamur pirang atau ganggang pirang merupakan penyakit pada tanaman lada. Penyakit ini disebut juga dengan nama penyakit velvet blight atau penyakit hawar beludru. Jamur pirang menyerang semua stadium pertumbuhan dan menyerang semua bagian tanaman seperti daun, tangkai daun, batang/salur panjat, cabang produktif, bunga dan buah. Gejala penyakit ini ditandai adanya lapisan seperti beludru/karpet yang berwarna putih kemudian menjadi berwarna abu-abu dan akhirnya menjadi coklat/pirang. Gejala serangan awal tidak nampak apabila hanya mengamati permukaan luar tanaman, karena tanaman nampak seperti tanaman sehat. Gejala awal dapat dilihat pada bagian dalam kanopi tanaman yaitu adanya lapisan beludru/karpet berwarna putih, abu-abu dan akhirnya menjadi coklat/pirang yang menyelimuti bagian batang atau cabang dan dapat meluas. Serangan selanjutnya akan menyebabkan kematian bagian atas dari batang atau cabang yang diserangnya sehingga kanopi tampak tidak utuh. Selain menyerang batang atau cabang, penyakit ini juga dapat menyerang daun, tangkai daun dan buah. Gejala serangan pada daun ditandai dengan adanya lapisan beludru berbentuk seperti kipas pada permukaan daun. Serangan pada tangkai daun menyebabkan daun gugur atau tetap tergantung dengan terjadi perubahan warna menjadi coklat hitam. Sedangkan serangan pada buah muda meskpiun buah masih dapat masak, akan tetapi selimut koloni jamur sulit untuk dilepaskan meskipun dilakukan perendaman dalam air untuk menghasilkan lada putih. Dan seringkali buah yang terserang akan menjadi kering dan mati setelah 20 – 25 hari. Perluasan dan perkembangan penyakit akan lebih cepat jika pathogen bersimbiosis dengan hama kutu tempurung dan pada musim penghujan. Penyebaran jamur dapat terjadi melalui angin dan bahan tanaman atau stek. Pengendalian Penyakit Penyakit jamur pirang dilakukan secara mekanis, kultur teknis, hayati/nabati dan secara kimiawi. Secara mekanis dengan cara melakukan monitoring kebun secara berkala, jika menemukan gejala awal dari penyakit ini segera lakukan pemangkasan bagian yang terserang dan dimusnahkan dengan cara dibakar serta lakukan pembongkaran tanaman yang sudah parah. Secara kultur teknis dapat dilakukan dengan menggunakan bahan tanaman/benih yang bersertifikat dan benar-benar bebas dari penyakit serta dengan melakukan pemupukan Berimbang sesuai dengan dosis dan umur tanaman. Intensitas penyakit dipengaruhi oleh pemberian pupuk N dan K. Untuk itu lakukan pemberian pupuk N dan K yang seimbang dan lakukan perbaikan struktur tanah dengan pemberial pupuk organik terutama pada jenis tanah lempung dengan top soil yang tipis. Pengendalian secara hayati/nabati dapat dilakukan dengan pemberian metabolit sekunder agens pengendali hayati dengan cara infus akar dan atau dengan cara penyemprotan pada bagian tanaman bergejala. Penyemprotan insektisida nabati berupa rendaman daun tembakau untuk mengendalikan kutu yang bersimbiosis dengan patogen, sehingga penyebaran penyakit tidak meluas. Sedangkan untuk pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif karbosulfan atau deltamethrin. Atau gunakan fungisida berbahan aktif copper oxychloride, copper hydroksida, tebuconazole atau dapat juga digunakan bubur bordo (campuran kapur dan terusi) untuk serangan sedang. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Dyah Manohara dan Dono Wahyuno, 2020. Jamur Pirang Patogen Penting Pada Tanaman Lada. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Vol 26 (1) April 2020. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Bogor. Akhmad Faisal Malik, Nilam Sari Sarjono, dan Romauli Siagian, 2021. Pengendalian Terpadu Penyakit Hawar Beludru (Velvet Blighi) Pada Tanaman Lada. Kementerian Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan.