Loading...

Pengendalian Penyakit Blast Pada Tanaman Padi Kalimantan Barat

Pengendalian Penyakit Blast Pada Tanaman Padi Kalimantan Barat
Penyakit blast merupakan penyakit utama yang menyerang pertanaman padi di Indonesia terutama padi pasang surut dan gogo. Penyakit ini disebabkan oleh jamuar Pyricularia grisae dan dapat menurunkan hasil padi yang sangat besar. Ada 2 gejala penyakit blast yang khas yaitu blast daun yang menyerang daun dan blast leher malai yang menyerang pangkal leher malai. Gejala blast daun ditandai dengan bercak coklat berbentuk belah ketupat dengan pusat bercak berwarna putih, sedangkan blast leher malai berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher yang dapat mengakibatkan leher malai tidak mampu menopang malai yang patah. Kemampuan patogen membentuk strain dengan cepat menyebabkan pengendalian penyakit ini sangat sulit (Puslitbangtan, 2008). Penyakit blast ini jika tidak dikendalikan secara cepat maka akan menurunkan produksi hingga 50%. Penyakit blast ini beberapa tahun terakhir ini menjadi momok bagi pertanaman padi di Kalimantan Barat karena menyerang sebagian pertanaman padi di lahan pasang surut Kabupaten Sambas, Mempawah dan Kubu Raya di Kalimantan Barat. Penyakit blast ini juga menyerang pertanaman padi di lokasi demfarm Padi di Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas. Penyakit blast ini menyerang padi varietas Cibogo pada masa pertumbuhan vegetatif pada saat tanaman berumur ± 50 Hari Setelah Tanam (HST) yang ditandai dengan bercak coklat berbentuk belah ketupat dengan ujung runcing pada daun . Pusat bercak berwarna abu-abu dengan tepi bercak berwarna kecoklatan. Serangan blast ini cepat sekali menyebar terutama pada cuaca lembab dan varietas Cibogo yang saat itu terserang blast tidak mempunyai ketahanan terhadap blas sehingga bercak cukup cepat meluas dan bercak kemudian menyatu yang dimulai dari pinggir-pinggir daun sampai ujung daun dan mulai mengering. Informasi yang lambat dari petani membuat pengendalian agak terlambat dilakukan karena daun-daun yang terserang blas sudah mulai ada yang mengering. Dengan kondisi seperti ini maka pengendalian yang kami lakukan adalah sebagai berikut :1. Melakukan Penyemprotan dengan fungsida berbahan aktif propikonazol 125 g/1 + trikizol 400 g/l dengan dosis 1 “ 2 cc/liter dengan interval 5 hari sekali. 2. Melakukan perambanan dengan membuang daun-daun yang mengering. 3. Menunda pemupukan urea yang ke III karena dapat menyebabkan tanaman menjadi sukulen, tetapi diganti dengan pemberian KCl 5 kg/ha agar tanaman dapat menjadi lebih tahan.4. Memberikan tambahan pupuk pelengkap cair sebagai tambahan makanannya agar tanaman dapat memproduksi anakan-anakan yang baruBerdasarkan pengalaman kami dengan melakukan pengendalian di atas, serangan penyakit blast dapat dikendalikan dan tanaman padi dapat tumbuh dengan cukup baik Secara umum pengendalian penyakit blas pada tanaman padi dapat dilakukan sebagai berikut :1. Gunakan varietas yang tahan blast seperti Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 6 dan Inpara 7 (beras merah) untuk lahan pasang surut, Inpari 11, Inpari 12, Inpari 13, 14 dan 15 untuk lahan sawah dan Inpago 7, Inpago 8 untuk lahan kering namun dapat juga dipakai untuk lahan tadan hujan yang kondisinya kering terutama pada musim tanam gadu.2. Lakukan pergiliran varietas tahan blast untuk mengantisipasi perubahan ras yang cepat3. Lakukan perlakuan benih dengan menggunakan fungisida 1 gr/5 liter air selama 24 jam4. Lakukan pengendalian dengan menggunakan fungisida sebelum tanaman berumur 14 HST dan pada saat anakan maksimum pada umur 40 HST dengan dosis sesuai yang tertera pada kemasan5. Lakukan pemupukan NPK yang tepat (Sari Nurita) Sumber :1. Puslitbangtan, 2008. Masalah Lapang Hama Penyakit Hara Pada Padi.2. Hasil Kegiatan Pendampingan PTT Padi di Kec. Paloh Kab. Sambas