Penyakit kuning adalah salah satu penyakit utama pada tanaman lada. Di Indonesia, pertama kali dilaporkan oleh Van der Vecht tahun 1932. Penyakit ini disebabkan oleh keadaan yang kompleks, khususnya di wilayah Bangka yaitu adanya serangan nematoda (Radopholus similis dan Meloidogyne incognita), jamur parasit (Fusarium solani dan F. oxysporum), serta rendahnya kesuburan tanah dan kelembaban atau kadar air tanah. Hasil penelitian menunjukkan faktor utama penyebab penyakit adalah serangan nematoda. Gejala penyakit tanaman terdiri dari gejala di atas dan bawah permukaan tanah. Gejala di atas permukaan tanah terlihat pada daun dan dahan tanaman. Daun dan dahan akan berubah menjadi kekuning-kuningan secara bertahap dari bagian bawah dan menjalar ke bagian atas tanaman. Daun-daun yang telah menguning tidak menjadi layu tapi sangat rapuh sehingga secara bertahap akan gugur. Hal ini juga terjadi pda dahan dan sulur panjat sehingga tanaman akan menjadi gundul. Gejala di bawah permukaan tanah terlihat pada bagian akar terutama rambut-rambut akar. Apabila bagian akar digali terdapat luka nekrosis dan puru. Luka-luka pada akar adalah gejala serangan nematoda R. similis, sedangkan puru akar adalah gejala serangan nematoda Meloidogyne spp. Di dalam jaringan akar yang luka dan berpuru tersebut terdapat kumpulan nematoda dan cairan yang menyumbat pembuluh jaringan akar.Melihat penyebab penyakit yang kompleks maka perlu strategi pengendalian secara terpadu, terutama untuk pengendalian nematoda dan jamur parasitnya. Selain itu, perlu juga diperhatikan pemenuhan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman. Beberapa komponen pengendalian penyakit kuning antara lain:Penggunaan varietas toleranHasil penelitian Nuryani (1984) menunjukkan varietas LDL dan Kuching cukup toleran terhadap M. incognita sedangkan varietas Kuching cukup toleran terhadap dan M. incognitaR. similis (Mustika, 1990).Sanitasi kebun dengan membokar dan membakar sisa tanaman sakit.Pemupukan berimbang sesuai umur tanaman lada.Penggunaan mulsa dan bahan organik untuk menekan aktivitas nematoda.Menanam tanaman bukan inang di sela tanaman lada misalnya Centrosema pubescens, Arachis hypogea, dan Crotalaria spp.Penggunaan musuh alami antara lain jamur Arthrobotrys, Dactylaria, Dactylella dan bakteri Pasteria penetrans.Penggunaan nematisida dan fungisida untuk menekan populasi nematoda dan aktivitas jamur patogen. Nematisida Aldicarb (50 mg/pohon/3 bulan) dapat menekan perkembangan penyakit kuning sebesar 15%, sedangkan pemberian Furadan 3G sebanyak 4x114 g/tanaman/tahun, dapat mengurangi populasi M. incognitadi dalam tanah sebanyak 82%, serta meningkatkan produksi lada basah sebesar 200% (Kueh dan Teo, 1978).Penggunaan pestisida nabati dari tanaman mimba dan jarak. Penggunaan nematisida dan fungisida untuk menekan populasi nematoda dan aktivitas jamur patogen. Nematisida Aldicarb (50 mg/pohon/3 bulan) dapat menekan perkembangan penyakit kuning sebesar 15%,. Sedangkan pemberian Furadan 3G sebanyak 4x114 g/tanaman/tahun, dapat mengurangi populasi M. incognitadi dalam tanah sebanyak 82%, serta meningkatkan produksi lada basah sebesar 200% (Kueh dan Teo, 1978). Penggunaan pestisida nabati dari tanaman mimba dan jarak. Musuh alami terdiri dari pemangsa/predator, parasitoid dan patogen. a. Pemangsa Pemangsa adalah binatang (serangga, laba-laba dan binatang lain) yang memakan binatang lain yang menyebabkan kematian sekaligus. Kadang-kadang disebut "predator". Predator berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa. b. Parasitoid Parasitoid adalah serangga yang hidup di dalam atau pada tubuh serangga lain, dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama, sedangkan bedanya dengan parasit adalah kalau parasit tidak membunuh inangnya, hanya melemahkan. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama di kebun lada. c. Patogen Patogen adalah penyakit yang menyerang binatang atau makluk lain. Patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama atau penyakit tanaman lada. Ada beberapa jenis patogen, antara lain jamur, bakteri dan virus. d. Pemangsa / PredatorPemangsa (juga disebut predator) menangkap dan memakan serangga hama (dan binatang lain). Pemangsa menyebabkan kematian mangsanya sekaligus. Dalam hidupnya satu ekor pemangsa dapat memakan banyak mangsanya. Salah satu contoh beberapa pemangsa adalah serangga, anatara lain: 1) Pemangsa pembuat perangkap, contohnya Laba-laba. Laba-laba tersebut menunggu di jaringnya sampai serangga yang terbang atau jatuh terperangkap. Namun ada beberapa jenis laba-laba lainnya tidak membuat jaring, tetapi berpindah-pindah dalam kebun untuk memburu mangsa. Contohnya adalah laba-laba lompat, 2) Serangga pemangsa telur yang mencari dan memakan telur hama seperti telur kepik pengisap lada. Contohnya adalah cecopet, 3) Serangga lain yang merupakan pemangsa termasuk belalang sembah, kumbang harimau, kumbang semut, kumbang kubah, capung, semut dan beberapa macam kepik dan lalat. Cara melestarikan musuh alami antara lain : a. tidak menggunakan pestisida kimiab. menjaga berbagai jenis tanaman, terutama tanaman berbunga, di kebun atau sekitar kebun. Jika terdapat bermacam-macam tanaman di kebun, biasanya jumlah musuh alami yang berada di kebun juga lebih banyak, dan mengusahakan lingkungan yang sesuai untuk kehidupan musuh alami tersebut (konservasi). Ditulis oleh : Akhmad Ansyor, S.P.Sumber Gambar : Dokumentasi Akhmad AnsyorSumber Bacaan : BPTP. Babel. Kegiatan m-KRPL di Provinsi Bangka Belitung, dan Teknik Budidaya Rama Lingkungan (BPTP Kep. Bangka Belitung) Tahun 2011