Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT LUKA API PADA TEBU MELALUI BONGKAR RATOON

PENGENDALIAN PENYAKIT LUKA API PADA TEBU  MELALUI BONGKAR RATOON
Untuk mendukung terwujudnya percepatan swasembada gula dan upaya meningkatkan produktivitas tanaman tebu, Direktorat Jenderal Perkebunan akan mengalokasikan anggaran untuk bongkar ratoon seluas 10.000 ha, Bongkar ratoon merupakan salah satu manajemen pengendalian secara dini dari serangan hama dan penyakit tanaman tebu. Ada beberapa OPT yang utama yang menjadi endemik yaitu penyakit luka api. Cara pengendalian penyakit luka api paling efektif yaitu dengan cara eradikasi atau penggunaan varietas tahan atau toleran terhadap penyakit yang disebabkan jamur Sporisorium scitamineum. Bongkar ratoon merupakan bagian dari pengendalian secara mekanis (eradikasi), manfaat dari bongkar ratoon selain meningkatkan produktivitas dari rendemen juga dapat mengurangi sumber infeksi atau inokulum penyebab penyakit. Dengan Bongkar ratoon tanaman akan memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada rawat ratoon. Jika dilihat dari rendemennya, ternyata metode bongkar ratoon juga memiliki rendemen yang lebih tinggi daripada rawat ratoon. Dengan demikian maka dengan melakukan bongkar ratoon petani akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada rawat ratoon. Program bongkar ratoon akan menjadi salah satu solusi antisipasi penyebaran penyakit luka api. Produktivitas tebu yang semakin lama semakin menurun, sehingga perlu adanya terobosan baru pada budidaya tanaman tebu. Penyakit luka api menjadi penyakit penting di Indonesia sejak tahun 1994 dan telah menyebar ke hampir sebagian besar pertanaman tebu yang ada di Indonesia, kecuali Sulawesi Utara. Penyebaran penyakit ini telah menyebar di Pulau Jawa, Sumbawa, dan Sulawesi. Pada tahun 2008 kejadian penyakit luka api di Jawa kurang dari 5%. Namun pada tahun 2014, di Indramayu pengembangan tebu 500 ha, 90% terserang penyakit luka api. Terjadinya penyakit pada tanaman karena adanya interaksi antara inang yang rentan, patogen yang virulen, dan kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi patogen. Penyakit luka api ditemukan ketika tanaman berumur 6 bulan saat musim kemarau. Musim kemarau penyakit luka api serangannya lebih berat karena tanaman menjadi lemah sehingga menurunkan pertumbuhan tebu dan kualitas rendemen.. Penyakit luka api sudah menjadi endemik di Indonesia. Penyakit luka api memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah dikenali di lapangan. Tanaman tebu yang terserang penyakit tersebut akan membentuk cambuk berwarna hitam pada bagian ujung tanamannya. Cambuk yang terbentuk dari gabungan antara jamur dan bagian tanaman tebu tersebut dapat mencapai ukuran lebih dari 1,5 meter. Bagian berwarna hitam tersebut sebetulnya merupakan massa spora jamur yang berfungsi sebagai sumber inoculums, yang dengan bantuan angin, dapat menyebar ke tanaman lain untuk menyebabkan infeksi sekunder. Pada umumnya, tanaman tebu yang terinfeksi luka api akan menghasilkan gejala berupa cambuk hitam tersebut pada umur 4-8 pekan setelah infeksi. Penyakit luka api ini tidak serta merta menyebabkan tanaman tebu mati, tetapi pada serangan yang parah tanaman tebu hanya dapat menghasilkan batang yang kecil-kecil seperti rumput dan kerdil. Pengendalian penyakit luka api yang utama adalah dengan menggunakan varietas yang tahan. Sementara itu, untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan cara memastikan bahan tanaman yang digunakan berasal dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit. Selanjutnya, apabila memungkinkan, lakukan pengolahan tanah pada lahan-lahan yang terinfeksi parah untuk mengurangi sumber inokulum sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit. Penyebaran penyakit luka api di lahan terutama melalui angin yang membantu penyebaran spora serta penggunaan bahan tanaman yang tidak sehat atau telah terinfeksi oleh jamur. Tidak menutup kemungkinan juga spora menyebar ke area lain melalui alat mesin pertanian, sepatu serta alat-alat lain yang digunakan oleh petani. Spora jamur luka api dapat bertahan di dalam tanah yang kering selama lebih dari 3 bulan. Spora juga dapat bertahan pada jaringan tanaman tebu selama tanaman tersebut masih hidup. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penyakit luka api tidak menyebabkan tanaman tebu langsung mati karena jamur membutuhkan tanaman untuk dapat tetap hidup. Di lapangan, kejadian penyakit luka api akan meningkat dalam kondisi cuaca panas dan kering. Pengendalian penyakit luka api pada tebu dapat dilakukan dengan memutus siklus penyakit. Tindakan pengendalian difokuskan pada titik-titik terlemah patogen dalam siklus penyakit. Berdasarkan bioekologi penyakit, strategi pengendalian penyakit luka api yaitu dengan eradikasi. Prinsip utama eradikasi adalah memusnahkan patogen setelah patogen tersebut masuk ke dalam suatu wilayah dan sebelum patogen tersebut berkembang atau tersebar secara luas. Salah satu metode eradikasi yang ditawarkan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkebunan yaitu program bongkar ratoon. Bongkar ratoon adalah mengganti tanaman yang sudah dikepras 2 – 4 kali dengan tanaman varietas unggul yang telah direkomendasikan. Bongkar ratoon memiliki produktivitas yang lebih tinggi dari pada rawat ratoon. Bongkar ratoon merupakan salah satu bagian dari pengendalian secara eradikasi. Bongkar ratoon bertujuan mengganti tanaman rentan (baik terinfeksi ataupun tidak terinfeksi) dengan tanaman yang tahan terhadap penyakit. Pada daerah endemik, perlu dilakukan penggantian ratoon dengan bibit baru yang bebas panyakit karena penyakit bersifat sistemik. Penggunaan varietas tahan merupakan teknologi yang cukup efektif juga dalam mengendalikan penyakit luka api antara lain varietas MLG 12, MLG 9, MLG 4, MLG 23, MLG 29, MLG 49, MLG 45, MLG 38, JR 01, dan 3 varietas lain yaitu BL, Kenthung, dan PS 881. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, telah banyak dilepas varietas unggul tebu dengan daya hasil tinggi dan tahan terhadap penyakit luka api, diantaranya adalah PS 881, PS 882, Tolangohula 1, Tolangohula 2, GMP 3, GMP 4, Cenning, Kentung, VMC 76-16, Kidang Kencana, PSDK 923, dan NSI 41. Penyakit luka api pada tebu tetap menjadi ancaman dalam usaha swasembada gula, Strategi pengendalian penyakit terpadu dengan pendekatan prinsip bongkar ratoon dan penggunaan varietas tahan merupakan pilihan terbaik untuk mencegah dan menghambat perkembangan penyakit luka api pada pertanaman tebu. (Sri Puji Rahayu/yayuk_edi@yahoo.com)