Loading...

Pengendalian Ulat Daun pada Tanaman Kubis

Pengendalian Ulat Daun pada Tanaman Kubis
Hama dan penyakit kubis bunga wajib diwaspadai terutama oleh para petani sayuran kubis bunga. Hal ini disebabkan hama dan penyakit pada kubis bunga akan menurunkan jumlah hasil bahkan bisa membuat gagal panen. Hama dan penyakit yang menyerang kubis bunga sebenarnya tidak jauh berbeda dengan hama dan penyakit pada sayuran kubis, pemberantasannya juga sama. Beberpa hama dan penyakit yang sering menyerang sayuran kubis bunga adalah: ulat kubis, busuk hitam, busuk akar dan busuk lunak. Ulat Daun; Ulat daun kubis mulai menyerang sejak awal pra pembentukan krop (0 – 49 hst) sampai fase pembentukan krop(49 – 85 hst). Larva makan jaringan permukaan bawah daun kubis dan meninggalkan lapisan epidermis bagian atas. Setelah jaringan daun membesar lapisan epidermis pecah, sehingga terjadi lubang – lubang pada daun. Jika tingkat populasi larva tinggi, akan terjadi kerusakan berat pada tanaman kubis, sehingga yang tinggal hanya tulang – tulang daun kubis. Umumnya serangan berat terjadi pada musim kemarau pada umur 5 – 8 minggu. Hama Ulat daun kubis (P. Xylostella) mampu menyebabkan kerusakan berat dan dapat menurunkan produksi kubis sebesar 79,81 persen. Kondisi ini tentu saja merugikan petani kubis. Oleh karena itu upaya pengendalian hama daun kubis ini sebagai hama utama tanaman kubis perlu dilakukan untuk mencegah dan menekan kerugian akibat serangan hama tersebut. Serangga dewasa berupa ngengat kecil, panjangnya kira – kira 6 mm berwarna cokelat kelabu dan aktif pada malam hari. Pada sayap depan terdapat tiga buah lekukan (undulasi) yang berwarna putih menyerupai berlian (diamond). Ngengat tidak kuat terbang jauh dan mudah terbawa angin. Pada saat tidak ada angin, ngengat jarang terbang lebih tinggi dari 1,5 m diatas permukaan tanah. Masa hidup ngengat betina rata – rata 20,3 hari. Ngengat betina kawin hanya satu kali.Telur berbentuk oval, ukuran 0,6 mm x 0,3 mm, berwarna kuning, berkilau dan lembek. Ngengat betina meletakkan telur secara tunggal atau dalam kelompok kecil (tiga atau empat butir), atau dalam gugusan (10 – 20 butir) di sekitar tulang daun pada permukaan daun kubis sebelah bawah. Ngengat betina bertelur selama 19 hari dan jumlah telur rata – rata sebanyak 244 butir. Lama stadium telur tiga hari. cara pencegahan dan pengendelalin hama ulat daun tanaman kubis, pengendalian kita lakukan dengan konsep terpadu (PHT). Kultur teknik; (a) waktu tanam. Lebih baik untuk menanam kubis pada musim hujan, karena populasi hama tersebut dapat dihambat oleh curah hujan (b) Irigasi, apabila tersedia dapat digunakan irigasi sprinkle untuk mengurangi populasi ulat daun kubis, apabila pengairan demikian dilaksanakan pada petang hari, dapat membatasi aktivitas ngengat. (c) penanaman; sebaiknya tidak melakukan penanaman berkali-kali pada areal sama, karena tanaman yang lebih tua dapat menjadi inokulum bagi tanaman baru. Apabila terpaksa menanam beberapa kali pada areal sama, tanaman muda ditanam pada arah angin yang berlawanan agar ngengat susah terbang menuju ke tanaman muda. (d) persemaian; Tempat pembibitan harus jauh dari areal tanaman yang sudah tumbuh besar. Sebaiknya pesemaian/bibit harus bebas dari hama ini sebelum transplanting ke lapangan. Dalam beberapa kasus, serangan ulat daun kubis di lapangan diawali dari pesemaian yang terinfestasi dengan hama tersebut. (e) tanaman perangkap; Tanaman brasika tertentu seperti caisin lebih peka dapat ditanam sebagai border untuk dijadikan tanaman perangkap, dengan maksud agar hama ulat daun kubis terfokus pada tanaman perangkap. (f) Tumpang sari; Penanaman kubis secara tumpang sari bersamaan dengan tanaman yang tidak disukai hama ulat daun kubis dapat mengurangi serangannya. Misalnya tumpang sari kubis kubis dengan tanaman tomat/bawang daun. Monitoring; selama menanam kubis petani perlu melakukan pemantauan/monitoring hama dengan melakukan pengamatan mingguan. Apabila hama mencapai 1 ulat/10 tanaman (Ambang Ekonomi = AE) atau lebih, maka dapat dilakukan dengan menyemprot tanaman menggunakan insektisida kimia selektif atau bio insektisida, untuk menekan agar hama kembali berada di bawah AE yang tidak merugikan secara ekonomi. ambang ekonomi artinya kita bisa melakukan pengendalian menggunaka insektisida kimia hama tersebut dikatakan berada pada ambang ekonomi bila dalam 10 tanaman ada 1 ulat Penggunakan Agensia Hayati; Hama tersebut memiliki musuh alami berupa predator (Paederus sp., Harpalus sp.), parasitoid (Diadegma semiclausum, dan patogen (Bacillus thuringiensis, Beauveria bassiana) yang bila diaplikasikan dapat menekan populasi dan serangannya. Mekanis; Cara ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan hama yang bersangkutan, memasukkan ke dalam kantung plastik, dan memusnahkannya. Namun untuk areal luas perlu pertimbangan tenaga dan waktu. Penggunaan Insektisida Selektif; Aplikasi ini dilaksanakan setelah hama tersebut mencapai atau melewati ambang ekonomi, dengan memilih insektisida kimia selektif yang efektif tetapi mudah terurai, atau penggunaan insektisida biologi. Jenis pestisida yang dapat digunakan adalah: bila pengendalian belum terlambat, insektisida yang digunakan adalah Diazinon dan Bayrusil dengan konsentrasi larutan 0,1-0,2 %. Aplikasi dilakukan seminggu sekali, tergantung pada keadaan hujan. Pada musim hujan penyemrotan harus sering dilakukan. Hindari penyemprotan dilakukan 2 minggu sebelum kembang kol di panen, untuk menghindari hal yang mungkin timbul akibat racun ulat tersebut terhadap manusia. Selain menggunakan kimia, pengendalian ulat daun juga bisa menggunakan asap cair, hanya saja asap cair ini tidak mematikan hama hanya mampu mengusir hama, dan hasil penelitian pada tanaman kedelai mampu menurunkan serangan hama hingga 30 %, dengan konsentrasi 15 mm/1 liter air , aplikasi dilakukan seminggu sekali. Asap cair juga bisa kita gunakan untuk membasmi hama ulat daun pada tanaman kubis bunga /kembang kol. Selain itu pengendalian hama ulat daun ini juga dapat menggunakan pestisida nabati yang dibuat dari bahan tanaman seperti daun sirsak, daun nimba, sereh, kunyit dll. Penulis: Akhmad Ansyor, SP, M.Sc Sumber Gambar: Koleksi Akhmad Ansyor, SP, M.Sc Sumber Bacaan: Balitsa dan Puslitbanghorti