Loading...

PENGGEREK BATANG TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA

PENGGEREK BATANG TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA
PENGGEREK BATANG TANAMAN PADI DAN CARA PENGENDALIANNYA PENDAHULUAN Hama Penggerek Batang Padi (PBP) menjadi salah satu hama utama yang sering menyerang tanaman padi, yang menyebabkan kerusakan dari tingkat ringan, sedang, berat hingga puso. Di tingkat petani, hama ini dikenal dengan nama hama sundep ( sering menyerang tanaman padi pada fase vegetatif), sedangkan serangan pada fase generatif (mulai muncul malai), dikenal dengan nama hama Beluk. Intensitas serangan penggerek batang padi pada tahun 2022 di Lampung mencapai 20,5% dan luas daerah yang terserang mencapai 151.577 ha. Kehilangan hasil akibat serangan penggerek batang padi pada fase vegetatif tidak terlalu besar karena tanaman masih dapat mengkompensasi dengan membentuk anakan baru. Berdasarkan simulasi pada fase vegetatif, tanaman masih sanggup mengkompensasi akibat kerusakan oleh penggerek sampai 30%. Kerugian hasil yang disebabkan setiap persen gejala beluk berkisar 1-3% atau rata-rata 1.2%. Siklus Hidup Hama Penggerek Batang Di lapangan sering ditemukan 3 spesies hama penggerek padi yaitu penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang putih (S. innotata) dan penggerek batang bergaris (Chilo suppressalis). Sampai saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama penggerek bantang. Oleh karenanya gejala serangan perlu diwaspadai, terutama pada saat musim penghujan. Ketiga jenis hama tersebut memiliki ciri-ciri dan sifat yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologinya. Akan tetapi ketiga jenis hama tersebut memiliki kesamaan dalam hal menyerang tanaman serta akibat yang ditimbulkannya. Semua spesies hama penggerek batang padi dalam siklus hidupnya memiliki masa metamorfose sempurna mulai dari fase telur, larva, pupa dan ngengat. Pada fase larva yang berperan menjadi hama, karena dalam hidupnya memperoleh makanan dengan cara menggerek tanaman padi dan menimbulkan kerusakan. Penggerek batang adalah hama yang ulatnya hidup dalam batang padi. Hama ini berubah menjadi ngengat berwarna kuning atau coklat. Biasanya 1 larva berada dalam 1 anakan. Ngengat aktif di malam hari. Larva betina menaruh 3 massa telur sepanjang 7-10 hari masa hidupnya sebagai serangga dewasa. Massa telur penggerek batang kuning berbentuk cakram dan ditutupi oleh bulu-bulu berwarna coklat terang dari abdomen betina. Setiap massa telur mengandung sekitar 100 telur. Gejala Serangan Gejala serangan hama penggerek batang padi meliputi; (1) pada tanaman fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, mengering dan pada akhirnya mati yang disebut Sundep; (2) pada fase generatif, menyebabkan malai muncul putih yang disebut beluk. Gejala sundep akan terlihat pada padi ketika berumur 21 hari setelah pindah tanam. Satu minggu setelahnya, PBP akan bertelur sekitar 50-150 butir/kelompok yang diletakkan pada daun bagian ujung, dan akan menetas setelah 6-7 hari. Larva dari lipatan daun akan langsung menggerek ke dalam batang dan makan pada bagian permukaan dalam jaringan sehingga menimbulkan kerusakan pada pembuluh batang padi. Masa perusakan tanaman oleh larva berkisar antara 10-15 hari hingga akhirnya larva berubah menjadi imago. Akibat dari perusakan sistem pembuluh menyebabkan pucuk batang padi akan kering menguning dan menjadi mudah dicabut. Sedangkan gejala beluk akan menghambat pengisian gabah pada malai karena kerusakan pada pembuluh batang padi. Strategi Pengendalian : Pengaturan Pola Tanam Atur waktu tanam yang tepat untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman padi pada bulan-bulan Desember – Januari, karena suhu, kelembaban dan curah hujan pada saat itu sangat cocok untuk perkembangan hama penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam sangat sensitif terhadap hama tersebut. Atur waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larwa di tunggul tanaman padi. Penanaman padi tidak dianjurkan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat. Tanam padi bisa dilakukan pada 15 hari setelah puncak penerbangan ngengat. Tanam serempak untuk menghindari sumber makanan bagi hama penggerek batang padi. Dalam satu hamparan kelompok tani batas waktu tanam awal dan akhir sebaiknya paling lama 15 hari. Lakukan pergiliran tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama penggerek batang padi. Pengendalian Secara Mekanis Pengendalian penggerek batang padi dapat dimulai sejak di persemaian sampai di pertanaman, dengan cara mengumpulkan kelompok telur. Jika terlihat penerbangan imago/ngengat pada sore hari, pengendalian dilakukann dengan cara penangkapan dengan lampu perangkap pada malam harinya (lampu patromak/lampu lain yang dikombinasikan dengan pemasangan bak penampang yang telah di isi dengan minyak/detergen). Aplikasi insektisida karbofuran apabila terjadi gejala serangan penggerek batang yang mengkhawatirkan di persemaian. Memusnahkan tanaman yang menujukan gejala sundep atau beluk. Pada saat panen padi, diupayakan pemotongan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah, kemudian diikuti dengan penggenangan air setinggi 10-15 cm agar pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati. Pada saat pratanam diupayakan sanitasi lingkungan dengan baik. Cara Kultur Teknis: Varietas berumur genjah, anakan banyak, hingga kini belum ada varietas yang tahan terhadap serangan hama penggerek batang. Tanam serempak, dalam satu hamparan tidak lebih dari tiga minggu. Mengatur waktu tanam, sehingga ngengat dari jerami tidak dapat meletakan telur di persemaian. Memotong jerami serendah mungkin dan dimusnahkan. Pemupukan berimbang, hindarkan pemupukan N yang berlebihan, pupuk K dapat mengurangi keparahan akibat serangan hama penggerek batang. Segera setelah panen tunggul jerami dimusnahkan atau segera dibajak. Pengendalian Hayati Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha sejak awal pertanaman. Pengendalian Secara Kimiawi Pengendalian dengan insektisida dilakukan, jika > 10 % rumpun padi memperlihatkan gejala sundep atau beluk. Atau penggunaan insektisida dapat dilakukan pada saat setelah ada penerbangan ngengat atau intensitas serangan sundep rata-rata > 5 %. Gunakan insektisida yang mengandung bahan aktif klorantraniliprol (Ferterra), fipronil, seperti: Regent, Agenda, Furadan, Curaterr, Marshal.dengan dosis 7,5 kg per hektar. Caranya dapat ditabur bersama dengan pupuk pada umur 7-14 HS. Penyusun : Nasriati Sumber : Jurnal Hama dan Penyakit, Universitas Lampung dan sumber lainnya