Minyak atsiri adalah senyawa yang berasal dari suatu saluran yang suhunya relatif rendah. Hasil kondensasi berupa campuran air dan minyak atsiri yang sangat mudah dipisahkan karena kedua bahan tidak dapat saling melarutkan. Metode Penyulingan. Bahan yang digunakan adalah buah pala muda. Buah pala ini mempunyai fuli yang berwarna keputihan dan daging kulit buahnya lunak. Biasanya yang digunakan adalah buah yang berumur 4-5 bulan, karena buah pala muda ini relatif tinggi kadar minyak atsirinya. Metode perebusan: Bahan direbus di dalam air mendidih. Minyak atsiri akan menguap bersama uap air, kemudian dilewatkan melalui kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling perebus. tanaman, senyawa ini mudah menguap dan tidak larut di dalam air. Fuli dan biji pala mengandung minyak atsiri masing-masing 11 % dan 12%. Pada proses destilasi jaringan tanaman dipanasi dengan air atau uap air. Minyak atsiri akan menguap dari jaringan tanaman melalui proses destilasi bersama uap air yang terbentuk atau bersama uap air yang dilewatkan pada bahan. Campuran uap air dan minyak atsiri dikondensasikan pada Metode pengukusan: Metode pengukusan ini sering digunakan oleh kebanyakan petani karena mutu produk cukup baik, proses cukup efisien dan harga alat tidak terlalu mahal. Proses yang dilakukan yaitu bahan dikukus dalam ketel yang konstruksinya hampir sama dengan dandang. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling pengukus. Bagian -bagian utama dari alat penyuling ini adalah ketel suling, pengembun uap (kondensor), penampung hasil pengembunan dan botol kaca berwarna gelap atau jerigen plastik kualitas tinggi. Metode uap langsung: Metode ini paling baik digunakan untuk skala besar karena paling efisien dibandingkan dengan cara lainnya. Proses yang dilakukan adalah sebagai berikut: Bahan dialiri dengan uap yang berasal dari ketel pembangkit uap. Minyak atsiri akan menguap dan terbawa oleh aliran uap air yang dialirkan ke kondensor untuk kondensasi. Alat yang digunakan untuk metode ini disebut alat suling uap langsung. Proses Penyulingan: Penyiapan Bahan: 1) Fuli kering yang akan disuling langsung dimasukkan ke dalam ketel suling. Sedangkan buah pala muda perlu dipotong atau dicacah menjadi ukuran kecil-kecil (0.5-1 cm). Ukuran potongan buah harus diusahakan seseragam mungkin. Ukuran yang tidak seragam akan menyulitkan penyusunan bahan di dalam ketel secara baik. Penyiapan alat suling: Bagian dalam ketel dibersihkan. Setelah itu ketel diisi dengan air bersih. Permukaan air berada 3-5 cm di bawah plat berpori yang menjadi alas potongan fuli atau buah pala. Air yang paling baik diisikan adalah air hujan, karena air ini tidak akan menimbulkan endapan atau kerak pada dinding dalam ketel. Pengisian Bahan ke dalam ketel: Bahan diisikan ke dalam ketel secara baik. Bahan disusun dengan formasi seragam dan mempunyai cukup rongga untuk penetrasi uap secara merata ke dalam tumpukan bahan. Tumpukan bahan yang terlalu padat dapat menyebabkan terbentuk rat holes yaitu suatu jalur uap yang tidak banyak kontak dengan bahan yang disuling. Tentu saja hal ini menyebabkan rendemen dan mutu minyak akan rendah. Setelah bahan diisikan ke dalam ketel, penutup ketel ditutup secara rapat sehingga tidak ada celah sekecil apapun yang memungkinkan uap lolos dari celah tersebut. Penyulingan: Minyak pala diperoleh dengan cara ekstraksi dari biji dan fuli. Eksraksi biji dan fuli dapat dilakukan melalui pengepresan atau pemanasan menghasilkan minyak atsiri (essential oil) sebanyak 5-15% dari berat biji.kasar yang mengandung minyak atsiri 10-12 %. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh PertanianMadya. Sumber: Pala miristica fragrans houtt. Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Deparemen Pertanian. 2004.