Loading...

PENGOMPOSAN JERAMI DENGAN BIODEKOMPOSER MDec

PENGOMPOSAN JERAMI DENGAN BIODEKOMPOSER MDec
Salah satu komponen penting dari Inovasi Teknologi Jajar Legowo Super pada Lahan Sawah Tadah Hujan adalah pengomposan jerami padi sebagai sumber bahan organic penting pada agro-ekosistem ini yang tanahnya sangat miskin dengan kandungan bahan organic. Ketika inovasi teknologi ini digelar di wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Malaysia dalam rangkaian Hari Pangan Sedunia ke-37 dan Promosi Ekspor Beras ke Malaysia telah membuat petani setempat terperangah. Lahan sawah terbaik di wilayah perbatasan ini umumnya hanya mampu menghasilkan produktivitas tertinggi antara 5-6 ton/ha tetapi dengan inovasi teknologi Jajar Legowo Super produktivitas padinya mampu melejit hingga 8.5 ton GKP/ha atau naik sekitar 55 persen sesuai hasil ubinan yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Sanggau tanggal 18 Oktober 2017 di lokasi petani Bapak Ahmad, Desa Tunggal Bhakti, Sanggau, Kalimantan Barat. Lahan sawah yang dikelola petani di wilayah perbatasan ini umumnya berupa tanah mineral berpasir yang sangat miskin dengan kandungan bahan organic. Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), DR. Ismail Wahab, ketika mengunjungi wilayah ini menyarankan untuk menambahkan pupuk organic 1-2 ton/ha dan mengembalikan kompos jerami ke sawah. Pada musim sebelumnya lahan persawahan di lokasi peringatan HPS ke-37 ini terserang hama Wereng Batang Coklat (WBC). Petani tidak mau mengambil resiko berulangnya serangan WBC ini sehingga seluruh jerami yang ada dieradikasi dengan cara dibakar. Sebagai kompensasinya para petani menambahkan pupuk organic dari kotoran sapi hingga 5 ton/ha karena mengharapkan hasil produksi padi yang tinggi pada lahan sawah tadah hujan mereka. Varietas padi yang ditanam juga dipilih VUB Inpari-33 yang tahan terhadap WBC biotipe 1, 2, dan 3. Strategi ini terbukti mampu menahan serangan WBC sekaligus melejitkan produktivitas padinya. Mendengar penjelasan ini maka puluhan petani dari wilayah perbatasan Malaysia terutama dari Desa Mobui, Sejuah, dan Sungai Dangin beramai-ramai belajar cara mengomposkan jerami padi sebagai salah satu sumber pupuk organic penting bagi tanaman padi yang mereka kembangkan. Penyuluh BPTP Kalimantan Barat yaitu Ir.Sigit Sapto Wibowo, MSc selaku penanggungjawab lapangan kegiatan gelar teknologi ini menjadi narasumber utama kegiatan ini. Para petani didampingi PPL WKPP Mobui, PPL WKPP Sejuah, PPL WKPP Sungai Dangin, dan PPL WKPP Semayang. Pertemuan diawali dengan teori dan pengenalan inovasi teknologi pengomposan jerami dengan mengambil tempat di saung tani milik Koperasi Agroinovasi Bhakti Bersama. Di tempat ini kepada para petani diperkenalkan inovasi teknologi Biodekomposer MDec yang merupakan hasil penelitian Balai Penelitian Tanah terkait tujuan pengomposan, fungsi decomposer, bahan-bahan yang diperlukan, hingga langkah-langkah pengomposan jerami padi. Para petani yang seluruhnya dari etnis Dayak tidak cukup hanya disuguhi teori pembuatan kompos jerami tetapi sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk praktek membuat kompos jerami. Alasannya, dengan praktek sendiri membuat kompos jerami maka inovasi teknologi yang diperkenalkan oleh BPTP Kalimantan Barat akan lebih mudah dipahami dan akan lebih cepat diadopsi oleh petani. Para petani dari etnis Dayak ini sangat termotivasi untuk dapat menerapkan Inovasi Teknologi yang telah diperkenalkan oleh BPTP Kalimantan Barat. Bahkan beberapa diantaranya berniat mengembangkan usahataninya dengan menambahkan berbagai komoditas potensial lainnya seperti sayuran kacang panjang, cabe, jagung, terong ungu, hingga sawi kampong. (Penulis : Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc) Sumber:Hasil pendampingan transfer teknologi pengolahan kompos jerami dengan MDec bagi petani perbatasan Kalimantan Barat-Malaysia sebagai Hasil Kerjasama antara BPTP Kalimantan Barat dengan Kementerian Lingkungan Hidup-ITTO dalam pengembangan pertanian organik bagi Kelompok Masyarakat Kehutanan Kabupaten Sanggau tahun 2017 di Desa Tunggal Bhakti, Sanggau, Kalimantan Barat