Loading...

PENGUKURAN KADAR AIR DALAM MENJAGA KUALITAS GABAH DAN BERAS

PENGUKURAN KADAR AIR DALAM MENJAGA KUALITAS GABAH DAN BERAS

Kualitas gabah dan beras merupakan faktor utama dalam menentukan nilai jual, daya simpan, serta tingkat penerimaan konsumen. Salah satu parameter mutu yang paling penting adalah kadar air. Kadar air yang tepat tidak hanya menjaga mutu fisik gabah dan beras, tetapi juga mencegah kerusakan selama proses penyimpanan dan penggilingan. Oleh karena itu, pengukuran kadar air yang akurat menjadi langkah krusial dalam sistem pascapanen padi.

Gabah yang dipanen umumnya memiliki kadar air yang tinggi, berkisar antara 20–25%. Jika gabah disimpan dalam kondisi tersebut tanpa proses pengeringan, maka akan terjadi peningkatan aktivitas mikroorganisme seperti jamur dan bakteri. Selain itu, respirasi gabah akan terus berlangsung sehingga menimbulkan peningkatan suhu dan kelembaban yang dapat menyebabkan gabah berkecambah atau bahkan membusuk. Standar mutu mengharuskan kadar air gabah diturunkan hingga sekitar 14% agar dapat disimpan dengan aman dalam jangka waktu tertentu, dan untuk gabah siap giling bahkan disarankan mencapai 12–13%.

Pengukuran kadar air dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode oven merupakan teknik laboratorium yang paling akurat, yaitu dengan mengeringkan sampel pada suhu tertentu hingga mencapai berat konstan. Namun, metode ini memerlukan waktu yang cukup lama dan peralatan khusus. Alternatif yang lebih praktis adalah penggunaan moisture meter digital, yang banyak diterapkan di tingkat petani, penggilingan, dan pedagang. Moisture meter memberikan hasil cepat dan mudah, meskipun dapat dipengaruhi oleh variasi varietas dan suhu lingkungan sehingga perlu dilakukan kalibrasi dan pengukuran secara berulang.

Kadar air yang tidak sesuai berdampak langsung pada rendemen dan kualitas beras hasil penggilingan. Gabah dengan kadar air terlalu tinggi akan menghasilkan banyak butir patah karena struktur endosperm yang masih lunak. Sebaliknya, gabah terlalu kering menjadi rapuh sehingga mudah pecah saat proses penggilingan. Selain itu, mutu beras sebagai bahan pangan menurun apabila terjadi perubahan warna, rasa, dan aroma akibat kontaminasi mikroba atau reaksi kimia tertentu selama penyimpanan.

Pengendalian kadar air merupakan bagian dari penerapan manajemen pascapanen yang baik. Penjemuran matahari masih menjadi pilihan utama di tingkat petani karena mudah dan murah, namun memerlukan kondisi cuaca yang mendukung serta penanganan higienis. Teknologi pengering seperti batch dryer atau continuous dryer kini semakin dikembangkan untuk memastikan kondisi kadar air yang seragam dan terkontrol. Dengan penerapan teknologi dan sistem pengukuran yang tepat, kerugian pascapanen dapat ditekan dan kualitas beras nasional dapat ditingkatkan.

Secara keseluruhan, pengukuran kadar air adalah faktor fundamental dalam menjaga kualitas gabah dan beras dari proses panen hingga konsumsi. Standardisasi kadar air dan penggunaan teknologi yang tepat akan memberikan manfaat signifikan bagi petani, industri penggilingan, hingga konsumen sebagai pengguna akhir. Dengan begitu, pengelolaan kadar air yang baik bukan hanya menjaga mutu produk, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi komoditas padi secara keseluruhan.