Peningkatan Kompetensi Pembuatan Pupuk Organik Limbah dari peternakan kambing banyak macamnya. Diantaranya adalah kotoran kambing dan sisa-sisa pakan kambing yang tidak habis. Limbah dari peternakan kambing biasanya kurang dimanfaatkan secara optimal oleh para peternak. Biasanya limbah ini hanya dikumpulkan di suatu tempat dan kemudian dibakar. Kalibaru merupakan sentra budidaya ternak kambing, dimana penduduk sebagian budidaya ternak kambing, dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk organik diharapkan limbah ternak bisa dimanfaatkan sebagai pupuk yang dapat mengembalikan kesuburan tanah. Pemanfaatan limbah ternak kambing Limbah dari peternakan kambing ini sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang cukup berkualitas. Pembuatan kompos dari limbah peternakan kambing, bahan-bahannya bisa dari kotoran kambing murni atau dengan tambahan bahan-bahan organik lainnya. Misalnya sisa-sisa pakan yang terbuang tadi. Banyak sekali manfaat dan keuntungan apabila memanfaatkan kotoran kambing menjadi pupuk kompos atau pupuk kandang. Yaitu: Mengurangi jumlah penyimpanan limbah peternakan. Bau yang diakibatkan oleh tumpukan kotoran kambing bisa berkurang. Menghilangkan potensi patogen yang terdapat dalam kotoran ternak Biji-bijian yang bisa menjadi gulma mati atau tidak akan tumbuh. Mempermudah dalam pengangkutan dan pupuk kompos dapat memperbaiki tanah. Pengomposan kotoran ternak dapat melepaskan unsur-unsur hara yang dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Mengurangi sumber polusi dan Bernilai Ekonomi. Manfaat-manfaat tersebut tidak terbatas hanya pada peternakan kambing saja. Ternak Sapi, kerbau, kuda, dan domba juga bisa. Cara Membuat kompos dari kotoran kambing Pembuatan kompos dari kotoran kambing kini menjadi lebih mudah. Soalnya, bakteri yang digunakan untuk starter sudah mudah untuk didapatkan. Selain itu, informasi yang mudah sekali diperoleh untuk membuat pupuk kompos ini. Berikut ini ada beberapa cara untuk membuat kompos dari kotoran kambing. Cara ini adalah metode – metode yang dilakukan dalam sebuah penelitian. Langkah – langkahnya adalah sebagai berikut. Mencampur kotoran kambing dengan bakteri starter em4. Sebelum itu, aktifkan terlebih dahulu Em4 nya dengan cara mencampur em4 dengan molases dan air. Perbandingan em4, molases dan air adalah 1:1:100. Misalnya, 1 ml em4 : 1 ml molases : 100 ml air atau 10 ml em4 : 10 ml molases : 1000 ml air atau1 liter air. Diamkan campuran ini selama dua hari supaya bakteri dalam em4 teraktifkan. Kalau memakai reaktor sederhana, bakteri aktif ditandai dengan munculnya gelembung gas. Takaran dalam penggunaan em4 ini sesuai petunjuk dalam kemasan. Satu liter em4 untuk 1 ton bahan kompos/pupuk kandang. Kalau pembuatan pupuk kompos dari kotoran kambing ini tidak sampai 1 ton, maka takarannya harus disederhanakan. Contoh: 1 ml em 4 untuk 1 kg bahan. Jadi nilainya nanti akan sama dengan (1000 ml = 1 liter) em4 untuk (1000 kg = 1 ton) bahan pupuk. Selanjutnya siramkan secara merata larutan yang berisi em4, molases dan air ke kotoran kambing yang akan di buat kompos. Kemudian diditutup rapat selama 5 minggu. Kadar air dari pupuk kandang ini juga perlu diperhatikan. Setiap tiga hari sekali, pupuk kompos dibolak balik untuk aerasi. Ini bisa lebih mempercepat prosesnya. Penjelasannya ada dibawah. Ciri-ciri kadar air yang pas dalam pembuatan pupuk kompos dari kambing ini adalah kalau bahan dikepal, dan dilepaskan, bahan tadi tidak pecah atau ambyar. Selain itu saat dikepal tidak menenteskan air yang sampai mengocor banyak. Jadi, silahkan mengepal-ngepal kotoran kambing. Dari beberapa penelitian ada yang menyarankan membolak-balikkan kompos selama proses pemeraman tapi ada juga yang tidak. Membolak-balik dalam proses pengomposan tujuannya supaya pengomposan terjadi secara aerobik bukan anaerobik. Ternyata hasil dari pengomposan aerobik lebih baik daripada pengomposan anaerobik. Kelebihan dari pengomposan aerobik adalah sebagai berikut. Prosesnya berlangsung lebih cepat. Hanya sekitar 2 minggu. Sedangkan pengomposan secara anaerobik bisa sampai 4 minggu. Pengomposan aerobik tidak menghasilkan gas yang berbau. Proses aerobik memberikan efek pupuk tetap dingin atau tidak terjadi peningkatan suhu. Proses aerobik secara alamiah dapat menguraikan material limbah yang mengandung serat selulosa sedangkan proses anaerobik tidak bisa.[3] Cara yang pertama ini hampir sama dengan cara pembuatan kompos dari kotoran sapi pada postingan saya sebelumnya. Silahkan lihat di cara membuat pupuk kompos dari kotoran sapi. By: Team BPP Kalibaru Editor: Resqi Eko Wahyu, S.ST/ Petugas Pendampingan Penyuluhan Pertanian (P4)/ BPP Kalibaru