Pengetahuan lokal yang dilakukan petani terhadap jerami padi yaitu dengan cara membakar jerami di lahan sawah, dapat dikatakan bermanfaat bagi kesuburan tanah. Namun hal ini sangat kurang efektif karena dapat merusak struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikrobia tanah. Dengan membakar jerami padi dapat kehilangan N (hingga 80%), P (25%), K (21%) dan S (4-60%) serta kehilangan bahan organik tanah. Pemahaman ini yang harus diinformasikan melalui penyuluhan dan pelatihan. Dalam inovasi untuk aplikasi jerami padi dapat dilakukan dengan cara pengomposan dan pengembalian kedalamam lahan. Konsep ini merupakan cerminan dari pertanian organik yang didasarkan dari pengalaman dan pengetahuan petani. Berbeda halnya dengan sekam padi, dimana selama ini industri pengolahan padi (sederhana, kecil, menengah dan besar) menghadapi permasalahan penanganan limbah. Hampir semua penggilingan padi menumpuk sekam di sekitar bangunan yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah. Pembuangan limbah sulit dilakukan karena keterbatasan tempat dan biaya yang besar. Penggunaan untuk bahan bakar (bata, pengering) masih sangat terbatas. Akibatnya, muncul berbagai persoalan lingkungan seperti estetika, bau dan sumber penyakit. Namun saat ini mulai berkembang usaha pemanfaatan limbah dari industri pengolahan padi seperti pembuatan biochar untuk penjual bunga, laha kering, dan lahan tanaman padi. Dalam proses penggilingan padi menjadi beras giling, akan diperoleh beras giling sebanyak 50 ± 63,5%. Pendapat lain mengatakan bahwa hasil samping dari proses penggilingan padi berupa (1) sekam (15-20%), yaitu bagian pembungkus/kulit luar biji, (2) dedak/bekatul (8-12%) yang merupakan kulit ari, yang dihasilkan dari proses penyosohan, dan (3) menir (±5%) merupakan bagian beras yang hancur. Sekam yang dibuat menjadi Biochar atau arang sekam, dapat dijadikan sebagai bahan pembenah tanah (perbaikan sifat-sifat tanah) dalam upaya rehabilitasi lahan dan memperbaiki partumbuhan tanaman. Pemberian biochar dari arang sekam padi dengan dosis tinggi memberikan pengaruh nyata terhadap sifat fisik tanah, seperti menurunkan berat isi dan berat jenis tanah, serta meningkatkan ruang pori total (RPT) dan pori air tersedia tanah (PAT). Pemberian biochar sekam padi dosis tinggi ini juga dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah seiring penambahan perlakuan dosis biochar sekam padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biochar lebih baik dibandingkan dengan Jerami bakar terhadap hasil panen padi. Biochar melalui proses pembenaman dalam tanah, terdekomposisi, berubah menjadi humus sehingga mampu menjadi sumber utama C organik tanah yang dapat bertahan dalam waktu yang lama. Pengkajian yang dilakukan Herman dan Elara (2018) terhadap padi varietas Cisokan dengan benih pindah tanam umur 14 hari setelah semai dan jarak tanam yang digunakan yaitu 25 cm x 25 cm. Kegiatan pengkajian dilakukan dengan membandingkan hasil tanaman padi varietas Cisokan yang diberi perlakuan Biochar sekam padi dan kompos jerami padi masing-masing yaitu: 1) Tanpa biochar dan tanpa kompos, 2) 100% biochar tanpa kompos, 3) 75% biochar dan 25% kompos, 4) 50% biochar dan 50% kompos, dan 5) 25% biochar dan 75% kompos. Catatan; 100% biochar ditambah 100% kompos setara dengan 10 ton/ha. Pengkajian dilaksanakan di Kenagarian Sungai Abang Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman. Untuk mengetahui kondisi tanah sebelum dan sesudah pengkajian, dianalisis dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Andalas pada bulan Februari sampai Juli 2018. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pemberian biochar dan atau kompos meningkatkan hasil tanaman padi varietatas Cisokan. Hasil per plot masing-masing perlakuan 0 biochar dan 0 kompos : 100% biochar tanpa kompos : 75% biochar dan 25% kompos : 50% biochar dan 50% kompos : 25% biochar dan 75% kompos yaitu: 2,205 kg (5,512 t/ha) : 2,719 kg (6,798 t/ha) : 3,295 kg (8,238 t/ha) : 2,871 kg (7,178 t/ha) : 2,740 kg (6,849 t/ha) (Ahmad Damiri).