Loading...

PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN JAGUNG

PENYAKIT BERCAK DAUN PADA TANAMAN JAGUNG
Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium sp. merupakan salah satu penyakit utama pada jagung setelah bulai. Patogen ini menular melalui udara sehingga mudah menyebar. Kehilangan hasil akibat bercak daun mencapai 59% terutama bila penyakit menginfeksi tanaman sebelum bunga betina keluar. Perkembangan penyakit ditentukan oleh kondisi lingkungan. Suhu optimal untuk perkembangan penyakit berkisar 20-30 °C. Karena kondisi suhu tersebut umum dijumpai pada areal pertanaman jagung sehingga Helminthosporium sp. hampir selalu ditemukan pada setiap musim tanam. Patogen dalam bentuk miselium dorman juga mampu bertahan hingga satu tahun pada sisa tanaman jagung sehingga penyakit bersifat laten serta mampu menyebabkan serangan secara sporadis yang serius/ terutama pada varietas rentan. Umumnya di Indonesia baru tiga jenis pathogen penyakit bercak daun yang dilaporkan menyerang tanaman jagung yaitu Helminthosporium turcicum, Helminthosporium maydis dan Helminthosporium carbonum Jenis Helminthosporium maydis ditemukan pada dataran rendah dengan suhu optimum 20 - 30 C. Keadaan suhu ini umumnya ditemukan pada areal pertanaman jagung sehingga memberi peluang berkembangnya Helminthosporium maydis dibanding jenis pathogen bercak daun lainnya. Tanaman jagung yang diusahakan pada awal dan akhir musim hujan juga dapat mendukung perkembangan Helminthosporium maydis pada awal pertumbuhan tanaman. Sehingga Helminthosporium maydis dijumpai pada berbagai umur tanaman dan tersebar luas di berbagai daerah. Bahkan di beberapa daerah tanaman jagung yang berumur sekitar 20 hari dapat terinfeksi dengan intensitas 25% yang berarti Helminthosporium maydis mempunyai potensi merusak yang tinggi terutama pada jagung yang ditanam pada awal musim hujan. Hal ini masih ditambah lagi dengan peran gulma di areal pertanaman jagung. Terdapat tiga jenis gulma yang dapat menjadi inang alternatif Helminthosporium maydis yaitu gulma timunan (Leptochloa Chinensis), gulma jariji (Digitaria ciliaris), dan rumput padi hutan (Echinochloa colona). Jenis rumput tersebut dominan ditemukan pada lahan pertanaman jagung sehingga dapat menjadi sumber inokulum awal yang penting. Ini juga yang menyebabkan Helminthosporium maydis selalu ditemukan pada setiap musim tanam. Mengingat sebaran penyakit akibat Helminthosporium sp. ini pada pertanaman jagung sedemikian cepat, maka penyuluhan terkait biologi, dominasi spesies, virulensi, pengaruh cekaman abiotik, inang alternative yang spesifik untuk iklim tropis, dan varietas tahan perlu disampaikan sebagai basis pengetahuan bagi petani dalam upaya pengendaliannya. Kerugian ekonomi yang timbul akibat serangan penyakit bervariasi sekitar 5-50%. Kerugian hasil yang disebabkan oleh penyakit bercak Helminthosporium maydis di Amerika Serikat pernah mencapai 90% dengan tingkat kerugian ekonomi mencapai 2,5 juta dollar. Penyakit ini berkembang dengan sangat cepat jika didukung oleh kondisi cuaca yang cukup siginifikan yang mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit Helminthosporium maydis. Gejala visual yang menunjukkan ciri khusus serangan Helminthosporium maydis ini adalah bercak agak memanjang dengan bagian tengah agak melebar dan makin ke pinggir makin kecil, berwarna cokelat keabuan yang dikelilingi oleh warna kekuningan sejajar tulang daun. Konidia jamur mulai terlihat setelah 6 hari dan semakin banyak pada hari ke 12. Bentuk konidia agak melengkung dengan ujung yang tumpul dan bersekat 3 -10 buah. Gejala awal pada varietas jagung yang peka terlihat 13 jam setelah infeksi jamur berupa titik transparan agak basah yang kemudian makin membesar dan warnanya menjadi cokelat kekuningan setelah 5-6 hari. Sporulasi Helminthosporium maydisterjadi pada permukaan tanaman jagung yang terinfeksi. Setelah itu spora lepas kemudian terbawa oleh angin dan hinggap pada permukaan tanaman jagung yang lain. Selanjutnya spora saling tarik menarik dan melakukan penetrasi awal kemudian spora membentuk bercak dan berkembang. Kelembaban udara mempengaruhi pertumbuhan Helminthosporium maydis. Semakin rendah kelembaban maka pertumbuhan miselia jamur makin lambat. Curah hujan yang rendah pada musim kemarau menjadikan intensitas penyakit bercak daun sangat rendah bila dibandingkan pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi. Pada musim kemarau suhu udara meningkat dan kelembaban pada siang hari menurun. Sebaliknya pada musim hujan suhu siang hari lebih rendah dan stabil serta kelembaban cenderung lebih tinggi. Kondisi tersebut mengakibatkan sporulasi Helminthosporium maydis meningkat atau spora di udara cukup tersedia sehingga peluang terjadinya infeksi jamur cukup besar. Akibatnya intensitas serangan penyakit daun pada jagung selalu lebih tinggi pada musim hujan dibandingkan pada musim kemarau. Intensitas serangan Helminthosporium maydis juga dipengaruhi oleh iklim. Pada sebaran hari hujan lebih tinggi dengan kelembaban lebih besar serta sebaran radiasi harian matahari yang rendah jumlah bercak daun yang ditemukan lebih tinggi. Keadaan ini cukup baik bagi perkembangan pathogen Helminthosporium maydis. Hari hujan yang rendah menyebabkan kelembaban juga rendah dan radiasi tinggi. Pada keadaan tersebut penguapan cepat terjadi sehingga spora jamur yang hinggap di permukaan daun bersama embun belum melalui tahap penetrasi yang sempurna atau belum terjadi infeksi sehingga persentase serangan rendah. Kondisi iklim ini ditemukan pada pertanaman jagung yang ditanam lebih awal di musim hujan dan keadaan ini cukup menguntungkan bagi perkembangan penyakit Helminthosporium sp. Siklus hidup cendawan Helminthosporium maydis berlangsung sekitar 2 - 3 hari dalam 72 jam, satu bercak mampu menghasilkan 100 - 300 spora. Oleh sebab itu penyakit bercak daun berkembang cepat pada areal pertanaman jagung dan menyebabkan kehilangan hasil yang berarti hingga 59% atau bahkan lebih. Berbagai upaya pengendalian penyakit bercak Helminthosporium maydis yang dapat dilakukan petani meliputi pengendalian secara kimiawi dengan fungisida, kombinasi fungisida dan varietas, varietas tahan, pengaturan waktu tanam serta komponen pengendalian lainnya. Melakukan kombinasi fungisida dan ketahanan varietas. Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa kombinasi antara pemberian fungisida berbahan aktif Mankozeb 80% (merek dagang Dithane M-45 80 WP) dan penanaman varietas yang tahan terhadap penyakit bercak daun seperti varietas Semar-2 dan Bisma, mampu menekan penularan dan perkembangan penyakit bercak daun pada tanaman jagung. Penggunaan varietas tahan. Penggunaan varietas tahan untuk pengendalian maydis tergolong efektif. Pada varietas tahan, jumlah bercak lebih sedikit dibanding pada varietas rentan. Pada varietas tahan, tanaman mengandung enzim yang dikeluarkan oleh dinding sel daun yang mampu melawan sifat agresivitas dari spora cendawan tersebut. Beberapa varietas jagung yang tahan terhadap penyakit bercak daun antara lain varietas Bisma, Bisi-3, Bisi-4, Bisi-5, Pioner 10, dan CPl-2 memberikan reaksi sifat ketahanan yang tinggi terhadap H. maydis. Pengaturan waktu tanam dan penggunaan komponen lainnya. Penanaman lebih awal pada musim hujan dapat menciptakan kondisi iklim yang kurang menguntungkan bagi perkembangan maydis sehingga intensitas serangan juga rendah. Demikian juga Pengendalian H. maydis pada daerah endemis dapat dilakukan dengan pembenaman sisa-sisa panen untuk mengurangi sumber inokulum awal. Cara ini efektif menekan intensitas serangan pada daerah endemis H. maydis Selain teknik tersebut diatas, hal lain yang perlu juga diperhatikan adalah: Lakukan pembajakan tanah sebelum penanaman yang bertujuan menekan bibit hama dan penyakit tanaman yang kemungkinan berdiam di dalam tanah. Cara ini juga sangat baik untuk memperbaiki rongga tanah untuk perakaran dan meningkatkan daya serap air tanah oleh akar tanaman jagung. Hindari menanam jagung terlalu rapat. Penanaman jagung yang terlalu rapat akan meningkatkan kelembaban mikro di pertanaman dan ini sangat mendukung taraf pertumbuhan jamur. Dengan merenggangkan jarak tanam misalnya menggunakan cara tanam jajar legowo maka dapat meningkatkan sirkulasi udara di pertanaman dan memutus penularan inoculum jamur akibat terpapar sinar matahari. Tidak menanam benih jagung yang berasal dari tanaman yang sakit. Para petani seringkali menggunakan bibit dari sumber acak yang biasanya tidak diketahui sumber asalnya. Disarankan agar petani menanam bibit atau benih dari sumber yang jelas dan masih tersegel rapi. Ini dengan mudah dapat diperoleh di kios tani. Sanitasi lingkungan pertanaman jagung juga sangat perlu dilakukan sebab berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang penyakit sehingga menjadi sumber inokulum bagi pertanaman berikutnya. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bercak dengan menanam tanaman yang bukan dari jenis sereal. Misalnya menanam kacang kacangan atau buah-buahan seperti semangka atau melon. Memusnakan tanaman yang terserang bercak daun dengan cara dibakar atau ditimbun dalam galian lubang yang cukup dalam. Pada dasarnya dalam setiap pestisida teknik pengaplikasiaannya pada tanaman telah tertera pada sampul kemasannya. Namun sebagai bahan masukan bagi kita bahwa untuk pemakaian fungisida berbahan aktif Mankozeb (merek dagang Dithane M-45 80 WP) perlu diketahui bahan aktif Mankozeb merupakan fungisida ini berbentuk tepung yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit yang berasal dari jamur berspektrum luas baik pada tanaman hortikultura, florikultur, maupun tanaman pangan. Bahan aktif Mankozeb bekerja dengan cara membentuk lapisan tipis pada permukaan tanaman dan secara perlahan mengeluarkan senyawa tertentu yang mengganggu aktivitas pernafasan jamur. Bahan aktif Mankozeb mencegah pembentukan spora pada jamur sehingga jamur tidak dapat menyebar. Cara pemakaiannya adalah dengan mencampurkan fungisida bahan aktif Mankozeb 1 sendok teh dengan 1 liter air bersih. Selanjutnya semprotkan langsung ke semua bagian tanaman yang terinfeksi dan ulangi cara ini setiap sepekan atau dua minggu sekali. Beberapa hal penting yang dapat kita simpulkan tentang pengendalian penyakit bercak daun pada tanaman jagung bahwa penyakit tanaman jagung, khususnya penyakit bercak daun ini hanya akan menyerang jika didukung oleh kondisi lingkungan memungkinkan. Kondisi lingkungan yang dimaksudkan disini adalah kondisi lingkungan pertanaman maupun faktor iklim atau cuaca sekitarnya. Untuk mencegah kerugian atau melindungi tanaman jagung dari kerusakan oleh penyakit ini diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian secara tepat dan benar. Pustaka: Dari berbagai Sumber