Loading...

Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung

Penyakit Bulai Pada Tanaman Jagung
Penyakit tanaman merupakan salah satu faktor kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung. Banyak jenis penyakit pada tanaman jagung yang beberapa diantaranya mampu menimbulkan kerusakan secara ekonomis hingga menurunkan pendapatan petani jagung. Jagung merupakan tanaman pangan utama ketiga setelah padi dan terigu di dunia dan menempati posisi kedua setelah padi di Indonesia. Tanaman jagung tumbuh baik di daerah panas dan dingin dengan curah hujan dan irigasi yang cukup. Namun selama satu siklus hidupnya dari benih ke benih setiap bagian jagung peka terhadap sejumlah penyakit sehingga dapat menurunkan jumlah dan mutu hasil produksi. Oleh sebab itu dikatakan bahwa masalah penyakit merupakan salah satu faktor pembatas produksi dan mutu benih. Penyakit tanaman merupakan hasil interaksi dari tiga komponen utama yaitu pathogen (mikroorganisme penyebab penyakit), inang (tanaman tempat tumbuh dan berkembangnya pathogen), dan lingkungan pertanaman. Dalam hal ini kita kenal adanya epidemi penyakit yaitu meningkatnya jumlah dan keberadaan penyakit tanaman sangat bergantung kepada besarnya sumbangan yang diberikan oleh masing masing komponen tersebut dan berakhir dengan penurunan hasil produksi tanaman. Usaha pengendalian untuk mengatasi masalah penyakit tanaman pada dasarnya merupakan cara memanfaatkan ketiga komponen tersebut untuk memperkecil akibat yang ditimbulkannya sehingga mencapai kondisi di bawah ambang ekonomi dengan kerugian yang dapat diabaikan. Epidemi penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) yang mengakibatkan penurunan hasil jagung cukup drastis hingga 48%. Kerugian hasil oleh penyakit bulai ini sangat bergantung kepada kepekaan varietas jagung, lokasi, waktu tanam yang berbeda beda, serta faktor cuaca terutama pengaruh suhu dan kelembaban udara terhadap infeksi, sporulasi, dan kerapatan populasi spora pathogen yang dihasilkan. Juga serangan akibat penyakit busuk tongkol oleh jamur Fusarium spp. pada jagung yang pernah menyerang daerah Jawa Barat tingkat kerusakan tanaman bahkan mencapai 73%. Penyakit busuk tongkol tersebut selain menurunkan hasil dan mutu benih jagung juga mengandung racun dari jamur Fusarium yang dapat membahayakan hewan ternak dan manusia yang memakannya. Selain dua studi kasus tadi beberapa jenis penyakit juga turut berperan dalam mempengaruhi produksi dan produktivitas jagung. Penyakit tersebut cukup berfluktuasi dari satu tempat ke tempat lainnya dan dari waktu ke waktu. Diantaranya adalah penyakit karat daun, hawar daun Helminthosporium, busuk batang, busuk tongkol oleh jamur Diplodia, Ustilago, Aspergillus serta penyakit oleh virus dan busuk akar oleh cacing (nematode). Tingkat kerusakan pada tanaman jagung akibat serangan penyakit tersebut masing-masing bervariasi dari 5% hingga 50%. Misalnya kerugian hasil oleh penyakit bercak Helminthosporium maydis yang pernah terjadi di Amerika Serikat bahkan mencapai 90% dengan total kerugian senilai 2,5 juta dollar. Jamur merupakan tumbuhan tingkat rendah yang terdiri dari benang-benang sederhana tanpa khlorofil atau zat hijau daun. Oleh karena itu jamur tidak dapat membentuk bahan organik sendiri dan bersifat heterotroph yaitu menyerap makanan dari bahan organik yang dihasilkan tumbuhan tingkat tinggi sebagai hasil proses fotosintesis. Jamur bertahan hidup, berproduksi dan menyebar diri dengan membentuk spora. Pada kondisi suhu dan kelembaban udara lingkungan yang serasi spora terbentuk dan berkecambah serta terbentuk benang-benang bercabang yang disebut hifa. Kumpulan hifa akan membentuk organ jamur atau miselium. Jamur menginfeksi tanaman dengan cara menembus langsung melalui lapisan pelindung pada batang dan daun (kutikula) juga pada mulut daun (stomata) atau pada bagian tanaman yang terluka. Organ istirahat pada jamur terdiri atas sklerotia, klamidospora, oospora, dan teliospore yang berguna bagi jamur untuk mempertahankan diri pada kondisi lingkungan yang tidak baik bagi pertumbuhannya seperti kekeringan. Siklus penyakit oleh jamur parasitik secara umum dapat dilukiskan sebagai berikut: Spora yang terbawa angin akan hinggap pada tanaman dan menginfeksi bagian tanaman yang peka. Spora yang melekat pada tanaman akan berkecambah dan mulai berkembang. Tanaman inang selanjutnya menunjukkan gejala penyakit akibat investasi spora yang berkecambah tadi selanjutnya spora yang telah tumbuh akan membentuk spora baru. Spora baru yang telah terbentuk tadi selanjutnya diterbangkan oleh angin untuk hinggap pada tanaman lainnya. Sehingga terjadi penyebaran spora ke seluruh areal pertanaman. Jamur dapat bertahan hidup dalam kondisi kemarau atau basah dalam bentuk spora, miselium, klamidospora, atau sklerotia pada sisa-sisa tanaman di lapangan. Penyakit jamur parasitik pada jagung dapat dikelompokkan atas 4 bagian yaitu penyakit pada daun, batang, tongkol, biji, bibit atau penyakit pasca panen. Pengetahuan tentang penyakit pada tanaman sangat penting untuk diketahui oleh kita. Sebab dengan mempelajari sumber masalah dapat mengetahui pengendalian yang tepat. Dengan mengenal karakter dan lingkungan tempat tumbuh berkembangnya penyakit pada tanaman maka tentunya pengendalian yang akan dilakukan juga akan berbeda. Pengendalian oleh serangan penyakit pada tanaman tidak akan dapat diterapkan secara maksimal jika pengetahuan tentang ekologi penyebab penyakit tersebut kurang dipahami. Gejala yang nampak pada tanaman jagung akibat serangan penyakit bulai (downy mildew) ini adalah pada permukaan daun terdapat garis-garis sejajar tulang daun berwarna putih sampai kuning diikuti dengan garis-garis khlorotik (agak kekuning-kuningan) sampai coklat jika infeksi makin lanjut. Tanaman jagung yang terserang penyakit bulai (downy mildew) ini terlihat kerdil dan tidak berproduksi. Namun bila masih sempat berproduksi maka ini merupakan hasil infeksi jamur yang terlambat dan biji jagung yang dihasilkan sudah terinfeksi pathogen. Jamur berkembang secara keseluruhan (sistemik) sehingga bila patogen mencapai titik tumbuh maka seluruh daun muda yang muncul mengalami khlorotik sedang pada daun pertama sampai ke empat masih terlihat sebagian hijau. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat termasuk pembentukan tongkol, bahkan tongkol tidak terbentuk daun menggulung dan terpuntir serta bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan. Ini merupakan ciri-ciri dari infeksi patogen penyakit bulai (downy mildew) melalui udara. Tetapi bila biji jagung sudah terinfeksi maka bibit muda yang tumbuh memperlihatkan gejala agak kekuning-kuningan (khlorotik) pada seluruh daun dan tanaman cepat mati. Di permukaan bawah daun yang terinfeksi dapat dilihat banyak terbentuk tepung putih yang merupakan spora dari patogen penyakit bulai (downy mildew) tersebut. Tanaman jagung yang terinfeksi patogen penyakit bulai (downy mildew) dan tumbuh selama musim kemarau merupakan sumber penyakit (inoculum) pertama. Jamur dapat bertahan hidup sebagai miselium dalam caIon (embrio) biji yang terinfeksi. Bila biji ini ditanam maka jamurnya ikut berkembang dan menginfeksi bibit selanjutnya dapat menjadi sumber penyakit (inoculum). Infeksi dapat terjadi melalui mulut (stomata) daun jagung muda (di bawah umur satu bulan) dan jamur berkembang secara lokal atau sistemik. Sporangia (konidia) dan sporangiofora dihasilkan pada permukaan daun yang basah dalam gelap. Sporangia berperan sebagai sumber penyakit (inoculum) sekunder. Ciri umum yang ditimbulkan dari serangan penyakit bulai adalah munculnya butiran putih pada daun yang merupakan spora cendawan pathogen tersebut. Penyakit ini menyerang tanaman jagung sekitar 1-2 Minggu Setelah Tanam = MST) maka kehilangan hasil akibat infeksi penyakit ini dapat mencapai 100% (Puso). Masa kritis tanaman jagung yang terserang bulai berlangsung sejak benih ditanam hingga usia 40 hari. Penyakit bulai (downy mildew) merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang apabila tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 100%. Peningkatan suhu dan kelembaban diperkirakan semakin mempercepat perkembangbiakan dan penyebaran spora bulai melalui media udara, tanah ataupun benih. Ada beberapa model pengendalian yang dapat dilakukan dalam upaya menangani serangan penyakit bulai (downy mildew) ini antara lain: Tanam varietas jagung yang tahan bulai seperti Kalingga, Arjuna, Wiyasa, Bromo, Parikesit, Hibrida Cl, Bima-1, Bima-3, Bima-9, Bima14 dan Bima-15 serta jagung komposit varietas Lagaligo dan Lamuru. Tidak menanam benih jagung yang berasal dari tanaman yang sakit. Tanam jagung secara serempak pada awal sampai akhir musim kemaraudan jangan menanam jagung pada peralihan musim sebab dapat menyebabkan kerugian besar karena penyakit bulai. Perlakuan benih dengan fungisida sistemik seperti Ridomil 35 SD (5 g form ulasi per kg benih Ridomil mengandung bahan aktif metalaksil 35%). Sanitasi lingkungan pertanaman jagung sangat perlu dilakukan sebab berbagai jenis rumput-rumputan dapat menjadi inang bulai sehingga menjadi sumber inokulum pertanaman berikutnya. Rotasi tanaman dengan tujuan untuk memutus ketersediaan inokulum bulai dengan menanam tanaman yang bukan sereal. Memusnakan tanaman yang terserang bulai dengan cara dibakar atau ditimbun dalam galian lubang yang cukup dalam. Beberapa tambahan yang dapat dilakukan dalam upaya pengendalian penyakit bulai ini antara lain: Sebelum ditanam sebaiknya benih dicampur terlebih dahulu dengan fungisida yang berbahan aktif dimetomorf seperti fungsidida bermerek dagang Acrobat 50 WP yang banyak terdapat di toko tani. Lakukan penyemprotan ketika tanaman jagung berumur 1 minggu hingga 35 hari setelah tanam dengan fungisida berbahan aktif Iprodium (merek dagang Rovral 50 WP) dan menggunakan obat cabrio (merek dagang Cabrio Gold 183 SE) dengan dosis 25 cc setiap 17 liter air penyemprotan dilakukan interval 7 hari sekali. Pada saat pemupukan pertama sebaiknya jangan menggunakan Urea namun gunakan Phonska + SP-36 atau boleh juga ditambah ZA dan pupuk organik. Selanjutnya pemupukan tahap kedua gunakan pupuk ZA + NPK Ponska + pupuk organik dan pada pemupukan terakhir barulah menggunakan Urea. Taburi lahan dengan bahan organik seperti pupuk kandang atau pupuk bokasi sebelum lahan ditanami jagung. Pengendalian penyakit bulai (downy mildew) pada tanaman jagung bahwa penyakit tanaman jagung, khususnya penyakit bulai (downy mildew) hanya akan menyerang apabila kondisi lingkungan memungkinkan untuk itu. Kondisi lingkungan yang dimaksudkan disini adalah kondisi lingkungan pertanaman maupun faktor iklim atau cuaca sekitarnya. Untuk mencegah kerugian atau melindungi tanaman jagung dari kerusakan oleh penyakit ini diperlukan tindakan pencegahan dan pengendalian secara tepat dan benar. Pustaka: Dari berbagai Sumber