Loading...

Penyakit Tungro Pada Padi

Penyakit Tungro Pada Padi
Penyakit tungro dikalangan masyarakat petani khususnya petani tanaman padi sudah tidak asing lagi, sebab penyakit tungro ini sudah ada sejak masa peningkatan produksi padi era zaman Bimas / bimbingan masal. Hanya pada saat itu terjadi serangan silih berganti dari tempat satu ke tempat lain, selanjutnya dapat ditekan sehingga hampir tidak terdengar lagi, kini seolah - olah muncul kembali. Istilah "tungro" berasal dari bahasa Tagalog di Philipina yang berarti pertumbuhan terhambat (pertumbuhan kerdil), di Indonesia, tungro dikenal dengan gejala penyakit yang tampak / terlihat. Di Jawa dikenal sebagai penyakit menthek, di Kalimantan disebut habang, petani Bali menyebut penyakit kebebeng, petani Sulawesi Selatan menyebut Celapance dan petunia Sulawesi Tengah menyebut kanja. Tapi pada prinsipnya gejala dan serangan tungro pada tanaman padi hampir sama disetiap daerah. Rumpun tanaman yang sakit tungro menunjukkan pertumbuhan terhambat, warna daun berubah menjadi kuning jingga. Perubahan warna daun bermula dari ujung daun, meluas ke bagian pangkal daun. Pada daun tersebut terlihata bercak - bercak berwarna coklat karat. Kadang - kadang gejala kuning pada tanaman yang masih muda dapat hilang karena bertambahnya umur tanaman sehingga seolah -olah tanaman menjadi sembuh. Apabila diteliti tanaman tersebut masih banyak mengandung virus. Gejala perubahan warna daun tergantung kepada varietas tanaman, umur tanaman pada saat terinfeksi, dan keadaan lingkungan pertumbuhan. Adapun gejala tungro dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Tanaman yang terinfeksi tumbuh kerdil, jumlah anakan sedikit, helaian daun dan pelepah daun memendek. Pada bagian bawah helaian daun muda terjepit oleh pelepah daun, sehingga daunnya terpuntir atau menggulung sedikit. Malai pendek, gabah tidak terisi sempurna atau kebanyakan hampa dan terdapat bercak - bercak coklat yang menutupi malai. Gabah tidak terisi sempurna atau kebanyakan hampa, hal ini dikarenakan lebar daun dan besar pelepah sudah tidak sempurna / mengecil, warna daun kecoklat - kecoklatan sehingga proses fotosinetesa yang terjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sehingga pembentukan tepung yang terjadi akibat fotosintesa tidak menghasilkan dengan baik, itulah yang menyebabkan gabah tidak berisi sempurna atau sebahagian hampa. Infeksi tungro pada tanaman tua (umur di atas 50 hari setelah tanam ) kurang berpengaruh terhadap produksi dan tanaman tidak menampakkan gejala serangan sampai panen. Hal ini dikarenakan proses fotosintesa yang membentuk tepung pada butir padi telah berjalan dengan baik, sehingga butir padi berisi penuh tidak mengganggu produksi. Namun singgang yang tumbuh setelah dipanen memperlihatkan gejala serangan yang khas. Infeksi pada varietas padi yang rentan seperti Pelita, Cisadane, dan IR 64 menunjukkan gejala yang nyata (jelas), sedangkan infeksi pada varietas tahan seperti Semeru, IR 42, IR 72, IR 74, menunjukkan gejala yang kurang nyata, karena proses pertumbuhan dan fotosistesa pembentukan tepung tidak terganggu. Gejala mirip tungro juga dapat disebabkan oleh agensia lain atau keracunan/kekurangan unsur hara tertentu, salah satu contohnya adalah kekurangan Nitrogen, kekurangan air pada saat proses pertumbuhan atau pembentukan malai. Oleh : Dr. Ibrahim Saragih / Penyuluh Pertania Sumber : Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjentan, Pedoman Pengendalian OPT Padi Hibrida, 2008, Jakarta Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Ditjentan, Pedoman Penyakit Tungro Pada Tanaman Padi, 2006, Jakarta.