Loading...

Perbanyakan Kakao Secara Generatif

Perbanyakan Kakao Secara Generatif
Perbanyakan generatif adalah teknik memperbanyak tanaman dengan menggunakan biji, sedangkan perbanyakan vegetatif biasanya menggunakan setek, okulasi, cangkok atau kultur jaringan. Pada pembibitan secara generatif, kita harus menggunakan benih bersertifikat. Kebutuhan benih kakao untuk areal pertanaman luas 1 ha untuk tanah datar sekitar 1900 butir sedangkan untuk tanah miring sekitar 1800 butir. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pembibitan kakao menggunakan teknik perbanyakan generatif. Tahapan-tahapan tersebut antara lain pesemaian,pelaksanaan pesemaian, pemeliharaan pesemaian, pembuatan bedengan pembibitan, penanaman dalam polibeg dan pemeliharaan bibit. Pesemaian Tempat pesemaian hendaknya datar, aman, mudah diawasi, dekat sumber air, dekat tempat pembibitan dan drainase baik. Bedengan: Dibuat pada tanah gembur, lebar 1 m, dicangkul sedalam ± 20 cm, di atasnya diberi lapisan pasir halus setebal ± 15 cm. Bedengan diberi atap dari daun tebu/kelapa, atap menghadap kearah timur. Penyemaian: media disiram air sampai jenuh, diratakan dan selanjutnya benih kakao ditanam dengan jarak 2,5cm x 5cm. Pesemaian kakao dapat dilakukan dengan karung goni, pada prinsipnya sama dengan pesemaian di pasir. Pelaksanaan pesemaian benih 1) Sebelum benih disemai, bedengan maupun karung goni disiram air sampai jenuh. Karung goni dicelupkan ke dalam larutan fungisida. 2) Penyemaian dalam bak pasir: dengan membenamkan benih sedalam 2/3 bagian; permukaan benih tempat tumbuhnya radikula menghadap ke bawah. Jarak tanam benih 4 cm x 2,5 cm atau sekitar 1.000 benih per m2. 3) Pesemaian dengan karung gon: benih dihamparkan di atas karung, jarak antar benih 2 cm x 3 cm, sehingga untuk satu karung goni ukuran 100 x 72 cm memuat 1.200 benih. Benih ditutup dengan karung goni tipis yang telah dicelupkan dalam fungisida. 4) Setelah benih tertata di atas bedengan, bak pasir ditaburi potongan jerami atau alang-alang kering agar terlindung dari sengatan Pemeliharaan pesemaian Setiap hari bedengan disiram air menggunakan gembor dan dijaga jangan sampai ada genangan air; 2) Setelah 4-5 hari, kecambah dipindah ke media kantung plastik (polibeg) atau bedengan pembibitan; 3) Kriteria benih yang dapat dipindah yaitu panjang radikula 1-2 cm dan umur kurang dari 12 hari. Pembuatan bedengan pembibitan 1) Lokasi datar, drainase baik, aman, mudah diawasi, dekat sumber air, dekat tempat penanaman; 2) Bedengan dinaungi tanaman lamtoro, kelapa, dll. dan naungan buatan tinggi atap 1,5 – 2,0 m dan atap masih meneruskan penyinaran 20 – 50%; 3) Media tumbuh berupa campuran tanah atas, pasir, pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 2 : 1; 4) Untuk tanah atas yang gembur, komposisi media cukup tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 3 : 1; 5) Dapat dipakai juga tanah hutan lapisan atas (0-20 cm) tanpa campuran pasir dan pupuk kandang. Penanaman dalam polibeg 1) Gunakan polibeg ukuran 30cm x 20cm (untuk bibit yang ditanam umur 4-6 bulan) dan 25cm x 40 cm (untuk yang ditanam > 6 bulan), warna hitam atau putih, tebal 0,08 mm, diberi lubang 15 buah; 2) Polibeg diisi media dan disiram hingga basah, kemudian diatur/ditata di bedengan dengan model rel, jarak antarrel sekitar 30 cm; 3) Kecambah yang panjang radikulanya sekitar 2 cm, ditanam di bagian tengah polibeg dan media di sekitar kecambah dipadatkan dengan jari agar tidak menggantung (tanah berongga). Diusahakan agar akar tidak terlipat atau bengkok. Pemeliharaan bibit 1) Intensitas cahaya di pembibitan awalnya sekitar 25%, secara bertahap dinaikkan dengan membuka naungan sedikit demi sedikit; 2) Penyiraman, disesuaikan dengan kondisi kelembaban lingkungan; 3) Pemupukan setiap 2 minggu, mulai umur 1 bulan dengan urea 2 g per polibeg. Pupuk dibenamkan atau dilarutkan dalam air dengan konsentrasi 0,2% dan disiramkan sebanyak 50-100 ml/bibit per 2 minggu. Pupuk mikro juga dapat digunakan apabila terlihat gejala defisiensi pada daun. Jenis pupuk yang sering digunakan yaitu ZnSO4, CuSO4, dan FeSO4; 4) Pengendalian hama penyakit dan gulma, dilakukan secara manual atau kimiawi. Hama yang sering menyerang bibit kakao yaitu penghisap daun, ulat kilan, belalang dan siput darat. Penyakit yang sering dijumpai yaitu hawar daun dan penyakit pembuluh kayu (VSD); 5) Pengendalian penyakit dengan mengambil bibit yang sakit atau memetik daun yang sakit dan dibenam dalam tanah; 6) Penjarangan polibeg, dilakukan apabila penataan polibeg terlalu rapat, agar pertumbuhan bibit seragam dan kekar; 7) Penjarangan atap, dilakukan bertahap. Dua minggu sebelum dipindah ke kebun, naungan buatan dibongkar seluruhnya; 8) Bibit siap ditanam ke kebun setelah tinggi 40-60 cm, jumlah daun minimum 12 helai, diameter batang 0,7 – 1,0 cm. (Sri Wijiastuti,. Penyuluh Pertanian pada Pusluhtan). Sumber:: Teknis Budidaya Kakao yang baik, Diektorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, 2014). Pembibitan kakao secara generative oleh Teguh Yuana, 2014.