Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian-bagian tanaman seperti batang, cabang, ranting, pucuk daun, umbi dan akar, untuk menghasilkan tanaman yang baru, yang sama dengan induknya. Perbanyakan tanaman kakao secara vegetatif dapat dilakukan melalui setek (cutting), cangkok (layering), sambung pucuk (grafting), okulasi (budding), dan kultur jaringan. Berikut adalah perbanyakan melui sambung pucuk dan okulasi. Sambung Pucuk Teknik sambung pucuk dilakukan dengan cara menggabungkan batang atas dan batang bawah. Batang bawah diharapkan menjadi batang yang tahan terhadap patogen tanah dan kokoh, sedangkan batang atas merupakan bagian yang memiliki karakter produksi yang diinginkan. Batang bawah ini biasanya menggunakan tanaman yang berasal dari biji sehingga memiliki perakaran yang kuat. Perpaduan dari bagian tanaman yang disatukan tersebut diharapkan akan menghasilkan tanaman jenis baru dengan sifat genetis yang memiliki keunggulan, yaitu kokoh, perakaran kuat, cepat berbuah, produktif, tahan penyakit dan mutu buah baik sesuai dengan sifat genetis induknya . Sambung pucuk dilakukan terhadap bibit batang bawah umur 4-5 bulan. Entres diambil dari sumber entres yang sudah dimurnikan dan “dilegalkan”, berasal dari klon unggul, misalnya Sul 1, Sul 2, ICCRI 3, ICCRI 4). Untuk entres dipilih cabang plagiotrop yang sehat berwarna hijau kecoklatan dengan diameter sekitar 1 cm. Cara melakukan sambung pucuk: 1) Batang bawah dipotong datar menyisakan 4-6 helai daun; 2) Bagian tengah potongan tersebut disayat vertikal panjang 3-5 cm; 3) Entres dipotong-potong, setiap sambungan digunakan 3 mata tunas; 4) Bagian pangkal entres disayat miring pada kedua sisinya sehingga runcing seperti baji; 5) Pangkal entres disisipkan pada belahan batang bawah, salah satu sisi entres menyatu dengan sisi batang bawah; 6) Pertautan diikat erat dengan tali dan entres ditutup kantong plastik; 7)Jika sambungan sudah hidup (panjang tunas 1-2 cm), sungkup plastik dilepas tetapi tali pengikat pertautan tetap dipertahankan. Apabila sambungan gagal (mati) perlu segera diulang. Penyulaman sambungan ini dapat dilakukan beberapa kali selama batang bawah masih membawa daun minimum dua helai. Pemeliharaan Pemeliharaan yang dilakukan yaitu pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta penjarangan atap, sama dengan bibit asal benih. Penjarangan atap dilakukan 1-2 bulan sebelum bibit dipindah ke kebun, untuk melatih bibit terhadap kondisi lingkungan di kebun. Penanaman bibit Sebelum bibit dipindah, perlu disiapkan lubang tanam dan penaung harus sudah berfungsi dengan baik. Bibit sambungan siap dipindah ke kebun pada umur 4-6 bulan sejak penyambungan, dengan panjang tunas 15-20 cm, jumlah daun minimum 12 helai, dan diameter tunas sekitar 1 cm. Penanaman bibit dilakukan pada awal musim penghujan. Media dalam polibeg diusahakan tidak pecah. Okulasi (budding) Okulasi dilakukan pada bibit umur 3-4 bulan. Entres diambil dari klon unggul, misal Sul 1, Sul 2, ICCRI 3, ICCRI 4. Entres berupa cabang plagiotrop yang sehat warna hijau kecoklatan, diameter sekitar 1 cm. Letak tempelan mata tunas sedapat mungkin di bagian hipokotil. “Jendela” okulasi dibuat dengan cara menoreh kulit vertikal sejajar sepanjang 3 cm, jarak antartorehan 0,8 cm. Di ujung bawah torehan dipotong horizontal sehingga terbentuk “lidah” kulit. Mata tunas diambil dari entres yang sudah disiapkan, ukuran potongan mata tunas sama dengan ukuran “jendela”. Diupayakan agar mata tunas tidak tertinggal pada kayu entres. Mata tunas disisipkan ke dalam “jendela” dari bawah, selanjutnya “lidah” kulit ditutupkan dan diikat erat dengan tali. Pengikatan dari bawah ke atas dengan bentuk seperti susunan genteng. Setelah umur 3-4 minggu dilakukan pengamatan dengan cara membuka tali dan memotong “lidah” kulit. Okulasi yang berhasil ditandai dengan mata tunas masih tetap hijau dan okulasi yang gagal ditandai mata tunas sudah mati berwarna hitam. Pada okulasi yang jadi, batang bawah dilengkungkan guna memacu pertumbuhan tunas baru. Batang bawah dipotong setelah tunas baru memiliki minimum 6 helai daun dewasa. Pemeliharaan yang dilakukan sama dengan pemeliharaan pada perbanyakan generatif, yaitu penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit. Bibit siap dipindah ke kebun setelah berumur 8-9 bulan dengan ciri diameter batang >0,7cm, panjang tunas >50cm dan jumlah daun >12 helai. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusluhtan). Sumber: Teknis Budidaya Kakao yang baik, Diektorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian, 2014). https://distan.lomboktimurkab.go.id/baca-berita-165-teknik-sambung-pucuk-dan-sambung-samping-pada-tanaman-kakao.html