Pertanian mempunyai peran strategis dalam pembangunan nasional. Peran strategis bidang pertanian dalam pembangunan nasional adalah sebagai penghasil pangan, penyedia lapangan kerja, penyedia bahan baku bagi agroindustri, penghasil devisa negara, dan pasar potensial produk dalam negeri. Oleh karena itu, permintaan bahan pangan terus meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan produk olahan. Menghadapi tahun 2015“2019 sektor pertanian masih dihadapkan pada berbagai kendala, antara lain berupa: jumlah penduduk yang terus meningkat, kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, terbatasnya infrastruktur (jaringan irigasi, jalan usahatani, jalan produksi, pelabuhan yang dilengkapi dengan pergudangan), belum cukup tersedianya benih/bibit unggul bermutu, pupuk, pakan, pestisida/obat-obatan, alat dan mesin pertanian hingga ke tingkat usahatani, konversi lahan pertanian produktif ke penggunaan non-pertanian yang tidak terkendali, ketergantungan konsumsi beras, kompetisi pemanfaatan air dan status kepemilikan lahan. Teknologi yang dihasilkan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, salah satunya untuk menjawab kebutuhan pembangunan pertanian, terutama dalam peningkatan produksi. Jika dulu, penelitian pertanian lebih berorientasi pada temuan teknologi yang terkadang sulit diterapkan di tingkat petani, maka paradigma penelitian sekarang menciptakan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani. Adanya anggapan bahwa penerapan inovasi teknologi butuh waktu lama untuk menerapkan di lapangan, tidak sepenuhnya benar. Hal ini sangat tergantung dengan karakteristik inovasi teknologi, urgensi kebutuhan teknologi dan kesiapan petani dalam menerapkan teknologi tersebut. Salah satu inovasi teknologi yang diandalkan dalam peningkatan produktivitas padi adalah varietas unggul berdaya hasil tinggi. Sejak era Revolusi Hijau pada tahun 70-an hingga saat ini, varietas unggul merupakan teknologi yang dominan peranannya dalam peningkatan produksi padi dunia. Sumbangan peningkatan produktivitas varietas unggul baru terhadap produksi padi nasional cukup besar, sekitar 56%. Kontribusi interaksi antara air irigasi, varietas unggul baru, dan pemupukan terhadap laju kenaikan produksi padi mencapai 75%. Melalui Revolusi Hijau, salah satu strategi yang dikembangkan oleh IRRI adalah mengembangkan varietas unggul modern yang memiliki daun tegak dan anakan banyak, sehingga memiliki kemampuan intersepsi cahaya yang lebih besar dan laju fotosintesis yang lebih baik. Hal ini membuat tanaman padi mampu menyediakan energi yang cukup untuk tumbuh dan menghasilkan gabah yang lebih baik. Melalui strategi ini IRRI telah melepas 30 varietas unggul berdaya hasil tinggi (high yielding variety). Sejak 1943 hingga 2004 Indonesia telah melepas 184 varietas unggul padi, termasuk varietas introduksi dari IRRI. Varietas padi hasil persilangan di dalam negeri pertama kali dilepas pada tahun 1943 adalah Bengawan. Varietas ini berumur dalam, postur tanaman tinggi, memiliki rasa nasi enak, dan berdaya hasil sedang, yaitu 3,5-4,0 t/ha. Contoh varietas padi tipe Bengawan adalah Sigadis, Remaja, Jelita, Dara, Sintha, Dewi Tara, Arimbi, Bathara, dan Dewi Ratih. Saat ini, Varietas Unggul Baru (VUB) yang merupakan salah satu terobosan inovasi teknologi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani. VUB juga merupakan inovasi teknologi yang paling mudah di adopsi petani karena teknologi ini murah dan penggunaannya sangat praktis. Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan yang mempunyai berbagai keunggulan seperti potensi hasil tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap cekaman lingkungan, dan mutu produk yang baik, serta telah resmi dilepas oleh pemerintah. Penggunaan varietas yang cocok dan spesifik lokasi sangat diperlukan dalam mendukung peningkatan produksi tanaman pangan di suatu wilayah. Untuk dapat menunjukkan potensi hasilnya, varietas memerlukan kondisi lingkungan atau agroekosistem tertentu. Tidak semua varietas mampu tumbuh dan berkembang pada berbagai agroekosistem. Dengan kata lain, tiap varietas akan memberikan hasil yang optimal jika ditanam pada lahan yang sesuai. Potensi hasil suatu varietas padi ditentukan oleh lima komponen, yaitu panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah bernas, persentase gabah hampa dan berat 1000 butir gabah. Tanaman padi dengan produktivitas yang sama atau relatif sama, tingkat keunggulan masing-masing komponen produktivitas belum tentu sama. Hasil pengkajian pada tiga VUB yaitu Inpari 16, Inpari 22, dan Inpari 30, masing-masing menunjukkan produktivitas 6,28; 7,33; dan 7,00 t/ha. Namun keunggulan masing-masing komponen produktivitas tidak sama. Sebagai contoh: 1) Inpari 16; walaupun jumlah gabah hampa tinggi, jumlah gabah bernas rendah, total jumlah gabah rendah, dan berat 1.000 butir gabah rendah, tetapi panjang malai relatif panjang bila dibandingkan dengan Inpari 30. 2) Inpari 30; walaupun panjang malai paling rendah, tetapi jumlah gabah hampa sedikit, jumlah gabah bernas tinggi, total jumlah gabah tinggi, dan berat 1.000 butir gabah relatif tinggi, bila dibandingkan dengan Inpari 16 dan 22, 3) Inpari 22; walaupun jumlah gabah hampa lebih banyak dan gabah bernas lebih sedikit, total jumlah gabah lebih sedikit dibandingan dengan Inpari 30, tetapi Panjang malai, dan berat 1.000 butir lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 16 dan Inpari 30. (Ahmad Damiri)