Perilaku petani dicerminkan dalam tindakan sehari-hari baik dalam lingkungan, seperti keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan. Tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dan mendarah daging disebut dengan perilaku. Kebiasaan ini akan berlangsung terus menerus. Perilaku ini juga dapa tmempengaruhi cara berfikir petani dalam pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Pengelolaan usahatani yang sudah dilakukan sejak duluitu, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Petani merasa membutuhkan, oleh karena itu timbul suatu motivasi yang ada di dalam diri mereka. Melihat kenyataan seperti itulah maka petani khususnya di Desa Latowu berusaha untuk meningkatkan produksi pertanian agar dapat memenuhi kebutuhan bagi hidupnya baik itu kebutuhan jasmaniah maupun rohaniah. Melalui peningkatan pengelolaan usaha tani mulai dari pembibitan, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama penyakit dan pemungutan hasil yang biasa disebut dengan pemanenan. Seperti halnya dengan petan idi daerah lain, sebelum melakukan aktifitas bercocok tanam yang diawali dar ipengolahan tanah sampai pada proses penanaman, tentunya mengadakan pertemuan kelompok tani yang didampingi oleh aparatur desa dan penyuluh pertanian. Hal ini tidak terkecuali pada KelompokTani Samaturu yang terletak di Desa Latowu Kabupaten Kolaka Utara dimana tanaman padi sawah merupakan komoditi andalan di kolempok tersebut. KelompokTani Samaturu dipimpino leh ketua kelompok tani yang bernama Bapak Madong , meskipun sudah lama menjadi ketua kelompok tani, masih tetap bersemangat untuk mengurus anggotanyan dan meningkatkan pendapatan masyaraka tpetani melalui suatu usaha dan kerjasam bersama. Kegiatan penyuluhan ini biasa dilakukan di di balai Desa, Posludes maupun dilapangan dengan sumber materi penyuluhan berangkat dari kebutuhan masyaraka tpetani setempat. PerilakuPetani dalam kegiatan pemeliharaan tanaman padi meliputi pengairan : Pengairan atau bias disebut dengan irigasi merupakan suatu usaha untuk memberikan air yang berguna bagi keperluan pertanian, dimana air tesebut digunakan sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya untuk pertanian secara tertib dan teratur pula mengalirnya. Pengairan merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah. Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah dalamnya air harus disesuaikan dengan umur tanaman. Air yang digunakan adalah berasal dari sungai, sebab banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang dapat menambah kesuburan tanah dan tanaman. Di Desa Latowu system pengairan dilakukan dengan system irigasi tidak sempurna dengan ciri khasnya pada musim kemarau masih saja kekurangan air walaupun sumber air ada, sehingga petani di Desa Latowu khusunya pada kelompok tani Samaturu tergolong petani yang subsisten, yaitu petani yang pasrah dengan keadaan yang dipengaruhi produksi padi sawah yang rendah akibat kekurangan air. Sebelumnya para petani telah diperbantukan saluran irigasi namun saat ini sarana pengairan belum memadai dan mereka sudah mengajukan permohon anakan tetapi sampai sekarang masih ada sebagian yang belum mendapat perhatian dari Pemerintah. Alasannya karena kurang sumber dana yang ada oleh karena itu untuk mengatasi hal tersrbut petani melakukan swadaya untuk memperbaiki sarana irigrasi, tapi sampai sekarang hasilnya belum dapat memadai /maksimal.Dan untuk memaksimalkan kebutuhan air maka perlu ada perbincangan antara nggota kelompok tani sebelum penanaman pada musim berikutnya karena ada hubungannya dengan pengaturan pembagian air dalambudidayapadisawah. Oleh Kristina Tiku Labi, SP PPLDistan Kolut