Pendahuluan Kentang adalah salah satu jenis tanaman hortikultura yang dikonsumsi umbinya dan dikalangan masyarakat dikenal sebagai sayuran umbi. Kentang banyak mengandung zat karbohidrat, protein, mineral dan vitamin yang cukup baik, sedikit lemak dan tidak mengandung kolesterol, sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tingginya kandungan karbohidrat menyebabkan kentang dikenal sebagai bahan pangan yang dapat mensubstitusi bahan pangan lain yang berasal dari beras, jagung.Provinsi Bengkulu merupakan salah satu daerah penghasil kentang sumatera, dimana produksi kentang Bengkulu banyak dijual ke provinsi tetangga selain dijual di dalam Provinsi Bengkulu sendiri, hal ini karena Provinsi Bengkulu memiliki dataran tinggi yang cocok untuk pengembangan kentang yaitu di Kabupaten Rejang Lebong. Rejang Lebong terletak di punggung pegunungan Bukit Barisan pada ketinggian antara 600 sampai lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut, sebagai daerah penghasil sayuran. berbagai sayuran yang dihasilkan diantaranya adalah cabe, wortel, terung, timun, kacang panjang, buncis selain kentang itu sendiri. Kabupaten Rejang Lebong mempunyai karakteristik wilayah dan agroekosistem yang sesuai untuk tanaman kentang, namun untuk pengembangannya masih mempunyai keterbatasan teknologi produksi. Tingkat produktivitas kentang baru 13,65 ton/ha masih jauh dibawah produktivitas nasional (16,09 ton/ha), tingkat produktivitas di sentra produksi di pulau Jawa sebesar 17,81 ton/ha ataupun mlalui penerapan rekomendasi teknologi, bisa diatas 30 ton/ha. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam penerapan budidaya kentang, daerah ini masih belum baik, sementara potensi pegembangan melalui perluasan areal maupun peningkatan produktivitas masih sangat memungkinkan di daerah ini. Selain Kentang Granola, di Kabupaten Rejang Lebong ditemukan juga Kentang Merah. Kentang Merah sudah menyebar dan dikenal oleh petani kentang, namun penanamannya mengalami pasang surut. Hal ini karena besarnya modal yang digunakan dalam usahatani kentang khususnya Kentang Merah dan resiko kegagalan yang cukup tinggi akibat serangan penyakit busuk umbi yang disebabkan oleh serangan bakteri. BPTP Bengkulu pernah berhasil dalam pengkajian Kentang Merah dengan hasil yang cukup tinggi yaitu 22,50 ton per hetar pada tahun 2013. Lokasi Pengkajian Kentang MerahLokasi pengkajian berada di Desa Talang Lahat, yang terletak lebih kurang 3 km dari ibu kota Kecamatan yaitu Sindang Kelingi dan lebih kurang 25 km dari ibu kota Kabupaten yaitu Curup. Luas wilayah Desa Talang lahat sekitar 340 ha dengan luas lahan tegalan 285 ha (83,82%), luas lahan perkebunan 30 ha (8,82%), dan pemukiman, pekarangan dan lain-lain seluas 25 ha (7,36%). Komoditas hortikultura yang diusahakan yaitu : cabai, kubis, sawi, kol bunga, tomat, daun bawang, wortel, kentang, terong, dan buncis.Karakteristik tanah di Desa Talang Lahat dengan tofografi datar, bergelombang, hingga berbukit dengan tingkat kemiringan antara 8 “ 60%. Tingkat kemasaman tanah antara 5,5 “ 6,5 dengan ketinggian tempat antara 750 sampai lebih dari 1.000 m dpl. Jenis tanah didominasi oleh jenis andosol dengan drainase baik dan lapisan olah (top soil) 42 cm dan curah hujan rata-rata 2.850 mm per tahun dengan penyebaran hampir merata sepanjang tahun yang terdiri dari 9 bulan basah dan 3 bulan kering. Klasifikasi Umbi KentangHasil panen yang diperoleh, selalu di dapat umbi yang bervariasi besarnya mulai dari yang berukuran kurang dari 20 gram sampai yang lebih dari 150 gram. Apabila dikelompokkan berdasarkan besarnya maka persentase tiap kelompok selalu berbeda setiap pertanaman dan varietas, tergantung pada kesuburan, macam bibit yang ditanam (mutu dan besar), iklim dan faktor lainnya. Klasifikasi umbi berdasarkan kesesuaian dengan sistem petani Pengalengan dan Wonosobo seperti Tabel 1 berikut. Tabel 1. Klasifikasi Umbi dan Ukuran Umbi Hasil Panen Sesuai Dengan Sistem Petani Pengalengan dan Wonosobo. No Klas umbi Ukuran umbi (berat umbi)1 Umbi konsumsi >80 gram2 Umbi klas A (bibit besar) 60 “ 80 gram3 Umbi klas B (bibit sedang) 45 “ 60 gram4 Umbi klas C (bibit) 30 “ 45 gram5 Umbi Ares (bibit kecil dan kriil) Hasil Panen Kentang MerahHasil pengkajian yang dilakukan BPTP Bengkulu pada tahun 2013, dengan dosis pupuk 1.400 kg NPK Phonska dan 400 kg SP-36, panen tertinggi diperoleh dari jarak tanam dalam bedengan 35 cm sebesar 22,50 ton/ha. Sedangkan jarak tanam 30 cm, hasil yang dicapai sebesar 12,00 ton/ha, dan jarak tanam 40 cm, hasil yang dicapai sebesar 18,00 ton/ha. Persentase variasi ukuran umbi yang diperoleh dari masing produksi yang dicapai seperti Tabel 2 berikut: Tabel 2. Persentase ukuran umbi kentang merah yang dihasilkan dari jarak tanam dalam bedengan yang berbeda.Klas Umbi Ukuran umbi Jarak tanam dalam bedengan (cm) 30 cm 35 cm 40 cm Umbi konsumsi > 80 g 29,7297 % 47,4820 % 47,3214 %Umbi klas A (bibit besar) 60 “ 80 g 13,5135 % 10,7914 % 11,6071 %Umbi klas B (bibit sedang) 45 “ 60 g 17,5676 % 17,9856 % 7,1429 %Umbi klas C (bibit) 30 “ 45 g 13,5135 % 10,7914 % 16,0714 %Umbi Ares (bibit kecil dan kriil) Sedangkan dengan dosis pupuk 1.000 kg NPK Phonska, panen tertinggi diperoleh dari jarak tanam dalam bedengan 35 cm sebesar 19,750 ton/ha. Sedangkan jarak tanam 30 cm, hasil yang dicapai sebesar 10,000 ton/ha, dan jarak tanam 40 cm, hasil yang dicapai sebesar 12,750 ton/ha. Persentase variasi ukuran umbi yang diperoleh dari masing produksi yang dicapai seperti Tabel 3 berikut: Tabel 3. Persentase ukuran umbi kentang merah yan dihasilkan dari jarak tanam dalam bedengan yang berbeda.Klas Umbi Ukuran umbi Jarak tanam dalam bedengan (cm) 30 cm 35 cm 40 cm Umbi konsumsi > 80 g 4,1667 % 37,5000 % 35,5556 %Umbi klas A (bibit besar) 60 “ 80 g 20,8333 % 20,3125 % 21,1111 %Umbi klas B (bibit sedang) 45 “ 60 g 12,5000 % 23,4375 % 10,0000 %Umbi klas C (bibit) 30 “ 45 g 25,0000 % 11,7188 % 13,3333 %Umbi Ares (bibit kecil dan kriil) Dari komposisi ukuran umbi yang diperoleh, berdasarkan kebiasaannya petani setempat menggunakan hasil pertanaman yang berukuran umbi klas C (bibit) digunakan untuk bibit pertanaman selanjutnya, sedangkan yang berukuran lebih besar dijual kepada pedagang pengumpul dan yang berukuran umbi ares (bibit kecil dan kriil) dikonsumsi.(Ahmad Damiri)