Loading...

PERTEMUAN I : SEKOLAH LAPANGAN IKLIM DESA GOLANTEPUS, KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS-JAWA TENGAH

PERTEMUAN I : SEKOLAH LAPANGAN IKLIM DESA GOLANTEPUS, KECAMATAN MEJOBO, KABUPATEN KUDUS-JAWA TENGAH
Sekolah lapangan iklim bertujuan agar petani mampu mengelola tanaman budidaya sesuai dengan situasi dan lokasi iklim masing-masing sehingga meningkatkan hasil pertaniannya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya. Pagi itu selasa 1 Mei 2012, suasana di Balai Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah tidak seperti biasanya. Waktu masih menunjukkan pukul 06.45'. Kursi tertata rapi dalam 2 barisan. Masing-masing barisan ada sekitar 18 kursi. Antar barisan diberi sela jarak sekitar 2 kursi. Meskipun hanya sekedar barisan kursi plastik warna hijau dan tidaklah baru tetapi dalam balai desa itu terlihat lebih hidup dan berpenghuni. Bagian depan dari setiap barisan 4 kursi di letakkan meja panjang sekitar 2 meter sehingga menambah rapi dan indah barisan. Beberapa orang telah menduduki kursi plastik itu. Tidak lain dan tidak bukan, niat yang mereka teguhkan adalah menuntut ilmu dalam sekolah untuk petani, yaitu Sekolah Lapangan Iklim. Pukul 7.30 peserta dan pemandu telah siap melaksanakan pertemuan pertama SLI. Seperti biasanya, kegiatan dibuka oleh Bapak Indri Subekti P, SP selaku PPL desa setempat dengan membaca secara berjamaah QS Al Fatihah, dengan harapan ilmu yang diberikan Allah SWT pada hari itu bisa diserap dan dimanfaatkan petani secara maksimal. Selain itu pengharapan yang besar semoga kegiatan ini lancar, tidak ada halangan yang berarti menghadang laju pembelajaran ini. Bapak Didik Kuswadi, SP memandu kegiatan ini diawali dengan memberi pengertian tentang perbedaan iklim dan cuaca. Bahwa iklim lebih bersifat ajeg/ konstan, dengan waktu lebih lama dan wilayah yang lebih luas. Kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan di lapangan yang meliputi keadaan awan, matahari, suhu, kelembaban, kecepatan dan arah angin, aneka tumbuhan, aneka hewan, genangan air, tinggi tempat dan curah hujan. Dengan menggunakan sepeda motor dan berboncengan peserta SLI menuju lokasi yang telah disepakati yaitu di blok Timongo. Mereka segera mengaktifkan alat tulisnya dan mendata sesuai pengarahan pemandu di kelas. Peserta melakukan diskusi kecil di lapangan berdasarkan kelompoknya masing-masing. Disini mereka belajar bekerjasama, mengemukakan pendapat serta mengamati lingkungannya. Kurang lebih setengah jam aktivitas ini dilaksanakan dan kembali ke kelas. Hasil para kelompok dituliskan pada lembaran karton untuk dipresentasikan. Hampir semua kelompok mendapatkan data yang sama. Data-data tersebut adalah keadaan lokasi berawan, arah angin dari timur ke barat, sinar matahari tertutup awan tipis. Tumbuh-tumbuhan dari jenis rumput-rumputan sangat lebat, dari jenis berdaun lebar sedikit dan dari teki-tekian cukup banyak. Beberapa hewan yang ditemui yaitu burung, kupu, capung, kepiting, orong-orong dan keong. Genangan air ada sekitar 5 s/d 10 cm yang letaknya di sepanjang pinggir jalan, areal persawahan maupun selokan sementara di sepanjang jalan tidak ada genangan. Tinggi tempat lokasi pengamatan adalah 16 dpl dan tidak terjadi hujan. Tiap kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan pengamatannya dan di"sanggah" oleh peserta yang lain. Di akhir kegiatan diberikan pemaknaan oleh pemandu Bapak Agus Setiawan, SP tentang hubungan antara iklim, cuaca dan dunia pertanian. Harapannya petani bisa memposisikan sebagai bagian integral pembangunan manusia bermoral terhadap alamnya yaitu pemakmur bumi atau alam dan bukan sebaliknya. Hal ini didasari oleh pesan Ilahiyah bahwa Tuhan (Allah) menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin/ pemakmur) di muka bumi ini, meskipun demikian bahwa bumi dan alam ini rusak juga karena ulah manusia. Sehingga tinggal manusia sendirilah yang akan memilih sebagai pemakmur atau perusak. Pada kesempatan itu juga peserta dapat mengungkapkan kegelisahan atau curhat (brainstorming) tentang permasalahan yang mengganggu aktivitas pertanian. Dengan demikian forum sekolah ini dijadikan sebagai media penyelesaian masalah antar peserta. Jam 11.00 wib, sesuai kesepakatan kontrak belajar sebagai waktu maksimal sekolah Lapangan Iklim untuk diakhiri. Peserta SLI menyimpulkan bahwa dalam aktivitas pertanian diperlukan pengamatan yang berkesinambungan minimal tentang 3 hal, yaitu cuaca, tanaman dan hama (hewan). Selain itu petani juga mengharapkan pada kesempatan sekolah ini memfasilitasi pembuatan alat pengimun bagi tanaman sehingga sehat dan tahan terhadap hama maupun penyakit. Insya Allah. (Indri Subekti Priyandani, SP-PPL Kecamatan Mejobo)