Masalah besar yang dihadapi petani dalam bidang pengendalian hama adalah mahalnya harga pestisida kimia sintetis maupun biologi dan timbulnya pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida kimia sintetis secara tidak bijaksana, dimana sejak terjadinya krisis monoter pada tahun 1988, harga pestisida kimia naik 2 – 3 kali lipat dibandingkan dengan sebelum krisis. Kenaikan harga pestisida kimia ini mengurangi minat petani untuk menggunakan pestisida kimia disamping itu pula menyebabkan hama kebal dengan adanya dosis yang lebih tinggi sehingga berdampak positif terhadap lingkungan (Sudarmo. 2005) Salah satu alternatif untuk menggantikan penggunaan pestisida kimia yang banyak menimbulkan dampak negatif adalah menggunakan senyawa kimia yang berasal dari tanaman yang dikenal dengan nama pestisida nabati (Haerul, 2016). Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tanaman atau tumbuhan yang berkhasiat mengendalikan serangan hama dan penyakit pada tanaman. Pestisida ini tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan serta dapat di buat dengan mudah menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang sederhana. Pestisida nabati dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh OPT dan bentuk lainnya. Indonesia memiliki sejumlah tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pestisida, baik yang dapat langsung digunakan atau dengan ekstraksi sederhana dengan air, ekstraksi dengan pelarut organik lain atau dengan cara penyulingan, tergantung kepada tujuan dari formula yang akan dibuat. Salah satu jenis tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah tanaman mimba (Azadirachta indica). Mimba (Azadirachta indica A, Juss.) adalah tanaman asli daerah tropika Asia Tenggara, di Indonesia memiliki nama daerah yaitu, Nimba, imba (jawa); intaran, nimba (bali); membhe (Madura). Mimba merupakan bahan nabati yang memiliki kemampuan anti bakterial dan insektisidal sehingga dapat digunakan sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman pada budidaya pertanian. Tanaman ini tumbuh cepat dan tahan kering sehingga tanaman ini telah lama dibudidayakan di daerah kering di Asia, Afrika, dan Amerika Tengah sebagai somber kayu. Mimba yang dtumbuh di lahan kering dan tidak subur menghasilkan zat bioaktif yang lebih banyak daripada yang tumbuh di tanah subur. Tanaman mimba merupakan tanaman tahunan,tinggi pohon dewasa mencapai 8 – 15 m, batang lurus pendek sebagian besar ditumbuhi dahan, tajuk rapat berbentuk oval dan besar. menggugurkan daun pada musim panas sehingga sangat sesuai untuk tanaman penghijauan di tepi jalan raya. Kulit batang yang tua berwarna abu – abu tua tebal dan beralur (Joker, 2001).Daun majemuk 7 – 17 pasang pertangkai, berbentuk lonjong dan bergerigi, panjang 6 –8 cm lebar 1- 3 cm, pangkal runcing tidak simetri, remasan daun berasa pahit, warna hijau muda (Anonimus, 2023). Daun mimba memilki bahan aktif alkoloid yang dapat merangsang kelenjar untuk menghasilkan hormon, peningkatan hormon tersebut dapat menyebabkan kegagalan metamorfosis serangga hama yang memiliki metamorfosis sempurna. Selain itu, rasa pahit yang dikeluarkan akan dapat mencegah serangga hama untuk memakan daun tanaman. Mimba, terutama dalam biji dan daunnya mengandung beberapa komponen dari produksi metabolit sekunder yang sangat bermanfaat, baik dalam bidang pertanian (pestisida dan pupuk). Beberapa diantaranya adalah azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin. Azadirachtin berperan sebagai ecdyson blocker atau zat yang dapat menghambat kerja hormon ecdyson, yaitu suatu hormon yang berfungsi dalam proses metamorfosa serangga. Salain berperan sebagai penurun nafsu makan (anti-feedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun, walaupun serangganya sendiri belum mati. Meliantriol berperan sebagai penghalau (repellent) yang mengakibatkan serangga hama enggan mendekati zat tersebut. Nimbin dan nimbidin berperan sebagai anti mikro organisme seperti anti-virus, bakterisida, fungisida sangat bermanfaat untuk digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman (Ruskin, 1993) dalam (Haerul, 2016) Pengolahan Daun Mimba Pengolahan daun mimba dapat dilakukan secara konvensional, Ekstraksi daun mimba merupakan pemisahan antara bahan padatan dengan bahan pelarut. Prosedur Pengolahan Pestisida Nabati; a).Mempersiapkan peralatan seperti gunting, Pisau, Lumpang, Timbangan dan saringan, sebagai persiapan prosedur teknis bahan baku mimba; b). Daun mimba segar ditambah lengkuas dan serah wangi dengan perbandingan 4 : 3 : 3 kg per 10 liter air; c) Daun mimba, serah wangi dan lengkuas ditimbang untuk mengetahui berat agar mudah membuat perbandingan; d). Siapkan 10 liter air untuk menumbuk dan mencampur bahan; e). Daun mimba ditumbuk dengan halus; f). Begitu juga serah wangi dipotong kecil-kecil kemudian ditumbuk halus; g).Lengkuas dikupas kemudian dicuci dan ditumbuk seperti serah wangi; h). Masukkan campuran bahan dan air tersebut ke dalam ember dan di biarkan selama 24 jam kemudian disaring, masukkan kedalam botol. (Winarto dan Romaito, 2012). Pemanfaatan Daun Mimba sebagai Pestisida Nabati Ekstrak mimba dilaporkan berpengaruh terhadap lebih kurang 400 serangga (Balitkabi. 2009), Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ardiansyah dkk, (2001) menyatakan bahwa tingkat kematian anakan siput yang mencapai 98,35% pada konsentrasi nimba. 27,5 % menunjukkan bahwa ekstrak daun mimba bersifat toksis terhadap anakan siput murbei dan efektif sebagai molukcisida nabati. Ekstraks daun mimba efektif sebagai pestisida karena ekstrak tersebut dapat mengakibatkan tingkat kematian lebih dari 90% (Anonim, 1999). Selain itu menurut penelitian dari Nova (2015) menyatakan ekstraks daun mimba yang menggunakan pelarut alkohol cukup efektif terhadap pengendalian wereng batang coklat. Dari hasil penelitian Boadu, et al (2011) menyatakan bahwa mimba efektif untuk pengendalian, pada aplikasi obat nyamuk bakar ekstrak daun mimba mapu menekan gigitan nyamuk sampai 84,5 % - 85%. Dan menurut penelitian dari Sulistina, (2016) yang menyatakan bahwa ekstrak daun mimba mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan koloni A porri secara in vitro, ekstrak daun mimba pada konsentrasi 0,4 % memiliki daya hambat sebesar 3,17% konsentrasi 0,6% memiliki daya hambat sebesar 6,78% konsentrasi 0,8% memiliki daya hambat sebesar 24,46% dan konsentrasi 1 % memiliki daya hambat sebesar 43,33% yang merupakan perlakuan efektif dalam menghambat koloni A porri. Senyawa azadirachtin tidak langsung mematikan serangga, tetapi melalui mekanisme menolak makan, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi serangga. Salanin bekerja sebagai penghambat makan serangga, nimbin bekerja sebagai anti virus, sedangkan meliantriol sebagai penolak serangga (Subiyakto, 2009). Menurut Aradila (2009), azadirachtin berperan sebagai antifeedant dengan menghasilkan reseptor kimia pada bagian mulut yang dapat mengganggu persepsi rangsangan untuk makan. Sedangkan Menurut Sudarmadji (1993) dalam Rohman (2007), azadirachtin dapat mempengaruhi sistem neurosekretori. Keunggulan dan Kelemahan Pestisida Nabati dengan Mimba Pengendalian hama dengan menggunakan mimba sebagai insektisida nabati mempunyai beberapa keunggulan antara lain: Di alam senyawa aktif mudah terurai, sehingga kadar residu relatif kecil, peluang untuk membunuh serangga bukan sasaran rendah dan dapat digunakan beberapa saat menjelang panen. Cara kerja spesifik, sehingga aman terhadap vertebrata (manusia dan ternak). Tidak mudah menimbulkan resistensi, karena jumlah senyawa aktif lebih dari satu. Dengan keunggulan di atas, maka akan dihasilkan produk pertanian dengan kualitas yang prima, dan kelestarian ekosistem tetap terpelihara. Sedangkan kelemahan Mimba, Persitensi insektisida yang singkat kadang kurang menguntungkan dari segi ekonomis, karena pada populasi yang tinggi diperlukan aplikasi yang berulang-ulang agar mencapai keefektifan pengendalian yang maximal. Kendalanya adalah pengaplikasian kurang praktis dan hasilnya tidak dapat segera dilihat, di samping itu petani harus membuat sendiri, pestisida nabatinya. Bahan seperti halnya mimba tidak selalu tersedia secara berkesinambungan. Memerlukan persiapan yang agak lama. Penyusun: Religius Heryanto (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) Sumber Bacaan : Hasibuan, Muainah dkk. “Pemanfaatan Daun Mimba (Azadirachta indica A, Juss.) sebagai Pestisida Nabati” Jurnal ilmiah mahasiswah UNS Diakses pada Jumat, 24 Maret 2022. https://www.neliti.com/id/publications/373514/pemanfaatan-daun-mimba-azadirachta-indica-sebagai-pestisida-nabati-review.