Sebuah keluarga dapat dikatakan berkecukupan apabila dari penghasilannya dapat membiayai hidup yang cukup. Besarnya penghasilan bukan menjadi ukuran untuk hidup cukup, sebab tidak jarang keluarga yang mempunyai pendapatan besar, hidupnya sering kekurangan bahkan mempunyai banyak hutang. Pada umumnya keluarga petani mempunyai penghasilan rendah. Oleh karena itu perlu mendapat bimbingan mengelola ekonomi rumah tangga, agar dengan penghasilan kecil tidak kekurangan. Pengertian Ekonomi rumah tangga adalah arus uang masuk sebagai pendapatan/penghasilan dan arus uang keluar sebagai pengeluaran untuk membayar kebutuhan dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga perlu selalu mengupayakan pendapatan jangan sampai lebih kecil dari pada penge;luaran, agar tidak terjadi kekurangan. Dalam kehidupan normal berkeluarga, pendapatan keluarga akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kebutuhan keluarga meliputi: primer/pokok/utama dan sekunder/pelengkap/tambahan. Kebutuhan primer adalah kebutuhan dasar untuk hidup sehat dan berkembang, meliputi: makan, pakaian, perumahan, kesehatan, pendidikan, dan onkos-ongkos/ transportasi, membayar hutang, dll. Sedangkan kebutuhan sekunder adalah kebutuhan keluarga untuk hidup lebih baik dan bergengsi, antara lain: rekreasi, hiburan, hajatan/sumbangan, amal, dll. Bila penggunaan pendapatan itu tidak diatur, akan mengakibatkan pemborosan, sehingga defisit/tekor/kekurangan. Sebaliknya keluarga yang selalu mengatur pengeluaran keluarga dengan mendahulukan kebutuhan pokok dan selalu mengurangi pemborosan serta selalu berusaha untuk mendapatan penghasilan yang lebih besar dari sebelumnya, maka keluarga tersebut akan hidup surplus/kecukupan. Keluarga hidup defisit/tekor Keluarga hidup defisit/tekor artinya pengeluaran keluarga selalu lebih besar dari pada pendapatan keluarga. Keluarga yang defisit biasanya ditutup dengan mencari hutang dan akan mengalami kesulitan untuk mengembalikan. Dalam keadaan yang parah, pembayaran utang ditutup dengan mencari sumber hutang baru. Pola seperti ini disebut "gali lobang tutup lobang", akhirnya dililit hutang. Keluarga yang telah hidup defisit, biasanya tidak akan dapat memenuhi kewajiban untuk pembayaran hutang dan biasanya terpaksa minta bantuan orang lain, yang lebih parah akan bertindak kejahatan menipu, mencuri atau melakukan kejahatan lainnya. Keluarga hidup surplus Keluarga hidup surplus adalah pengeluaran keluarga lebih kecil dari pendapatan keluarga. Keluarga yang surplus akan selalu menyisihkan sebagian dari pendapatan keluarga untuk ditabung secara disiplin dan terus menerus. Keluarga hidup surplus dapat diupayakan oleh keluarga itu sendiri dengan beberapa kunci yang harus disepakati oleh keluarga dan dijalankan secara disiplin. Kunci tersebut antara lain: (1) Tidak ada uang laki-laki dan uang perempuan; (2) Ikuti istilah "berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian"; (3) Lakukan menabung meskipun hanya sedikit, lama-lam akan menjadi bukit (artinya lama-lama akan menjadi banyak); (4) Pentingkan kebutuhan dari pada keinginan, (5) Berhutang untuk tujuan yang menghasilkan/produktif; (6) Menabung bukan dari sisa pendapatan, melainkan sebagai pengeluaran rutin; dan (7) Setiap pengeluaran dibiasakan untuk dicatat. Manfaat keluarga selalu mengatur ekonomi rumah tangga: (1) Kebutuhan keluarga selalu dapat terpenuhi; (2) Keluarga tidak pernah kehabisan uang; (3) keluarga selalu mampu memenuhi kewajiban yang harus dibayar; (4) Dipercaya orang lain; (5) Keluarga akan stabil, tidak pernah mengalami kegoncangan (krisis) ekonomi; (6) Tabungan keluarga terus bertambah, walaupun secara merayap; (7) Tidak pernah terjadi pertengkaran keluarga karena masalah ekonomi; dan (9) Iman semakin kuat karena terus bersyukur. Cara berhemat : Berhemat harus disepakati dan dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dengan niat yang kuat, jujur, iklas, tekad, disiplin untuk tidak melakukan pemborosan atau memotong pengeluaran keluarga yang sifatnya pemborosan. Dalam berhemat, harus dapat membedakan pengeluaran mana yang bersifat "kebutuhan" dan mana yang bersifat "keinginan". Sebagai contoh "makan", dapat bersifat kebutuhan dan dapat juga bersifat keinginan. Makan bersifat kebutuhan tidak melihat harus seperti apa, tetapi asal makan untuk mengisi perut agar badan tidak sakit. Namun makan bersifat keinginan adalah makanan yang harus sesuai selera, misalnya makanan mewah masakan suatu restoran yang mewah. Hal ini tentunya dengan harga mahal yang menyebabkan boros. Biasanya pengeluaran yang bersifat keinginan yang dapat ditiadakan, ditunda atau dikurangi/dipotong untuk berhemat. Selamat mencoba ! Sumber informasi: 1. Geoffrey G.Meredith et al. 1995. Kewirausahaan: Teori dan Praktek. Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo, Cetakan Keempat. 2. Ace Partadiredja. 1992. Pengantar Ekonomika. Yogyakarta,BPFE, Edisi Keempat. 1992. 3. P4K, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga. 2002. Penulis : SUSILO ASTUTI H. (Penyuluh Pertanian, Pusbangluhtan)