Loading...

Poktan Moril Suka Tani Dulu Baru Hitung Keuntungan

Poktan Moril Suka Tani Dulu Baru Hitung Keuntungan

Pokok-pokok cabai hijau berbaris rapi di atas bedengan. Bunga putih kecil menghiasi dahan. Buah cabai tegak runcing ke atas, menunjuk langit yang biru. Pondok kayu di dalam kebun itu tampak sederhana, dinding papan dan sebuah tangga sebagai alat bantu naik ke rumah. Sahlika keluar dengan sebuah senyuman, jumpa kawan lama. Kami berpisah beberapa tahun silam, karena pindah tugas ke tempat lain. Sahlika adalah ketua kelompok tani (Poktan) bernama Moril. Dia berdomisili di Jalan Perjuangan, Desa Pakning Asal, Kecamatan Bukit Batu.

Kami berbincang di tengah kebun cabainya tumpang sari dengan jagung. Kami wawancara Pak Sahlika secara acak antara tanaman jagung dan cabai. Pertanyaan pertama yang terlontar adalah inovasi apa yang saat ini sedang Poktan Moril lakukan?

“Kami sedang menanam cabai dan jagung manis secara tumpang sari. Bila masa panen jagung telah usai, maka tanaman cabai rawit yang tumbuh. Kami membangun pertanian ramah lingkungan, memakai pupuk organik, tanaman menjadi lebih subur dan tidak merusak tanah.”

Berapa luas lahan dan jumlah tanaman?

“Luas lahan ini 80 m x 80 m, jumlah seluruh tanaman jagung 4.000 batang. Di sela jagung ada tanaman cabai rawit hijau. Ada juga jagung pulut sebanyak 1.500 batang.”

Apakah cabai rawitnya menggunakan benih unggul?

“Iya, cabai rawit kami menggunakan benih unggul lokal, kami datangkan bibit dari Sumatera Barat. Tergantung juga permintaan pasar, apabila ada benih unggul tapi tidak diterima di pasaran akhirnya akan sia-sia juga. Masyarakat sini sudah ada standar pedas cabai rawit, bila lebih pedas dari biasanya maka mereka tak mau beli.”

Jadi menanam jenis cabai sesuai kebutuhan pasar?

“Iya, harga pasaran cabai rawit berubah-ubah, bila masyarakat atau agen sayur membeli rawit dari kebun seharga Rp. 30.000 itu sudah harga yang bagus. Harga cabai rawit sepanjang Tahun 2025 sangat stabil, secara umum menguntungkan petani. Tapi hal itu tidak selalu terjadi, tetap butuh jenis cabai yang cocok dan waktu panen yang tepat.”

Pada tanaman jagung manis, hama apa yang sering menyerang?

“Pada tanaman jagung kami ada serangan hama Tungau dan Terip. Tapi tidak menimbulkan banyak masalah. Kami kendalikan menggunakan pestisida nabati.”

Catatan dari penulis bahwa hama Tungau merupakan Arachnida kecil berwarna merah atau kuning. Tungau menyebabkan kerusakan pada daun, batang dan buah dengan cara menghisap cairan tanaman. Sedangkan Terip merupakan hama berwarna hijau garis putih pada tubuhnya. Terip menyerang daun, batang dan tongkol jagung hingga bisa mengurangi hasil panen.

“Bagaimana proses budidaya tanaman jagung Poktan Moril?”

“Usia jagung manis kami 65 hari. Mulai tanam sampai 45 hari jagung tumbuh dengan sempurna. Ketika hari ke 46 sudah mulai muncul bunga calon buah jagung. 18 hari setelah bunga tersebut muncul maka sebaiknya panen jagung manis. Bila terlambat maka buah menjadi keras dan tak lagi laku sebagai jagung muda. Kami melakukan pemupukan sebanyak tiga kali, jadi menjelang tahun baru sampai malam new year kami panen terus.”

“Berapa harga jagungnya?’

Bila waktu normal, harga jagung manis Rp. 7.000, tapi bila menjelang tahun baru kami menjual Rp. 10.000 per kilogram. Itu karena tingginya permintaan pasar akan jagung manis untuk direbus maupun dibakar pada malam tahun baru.”

Apakah kesimpulan dari perjalanan Moril di dunia pertanian selama ini?

“Kami petani menjual bahan makanan untuk masyarakat. Makan adalah proses untuk bertahan hidup. Resiko menanam tanaman pangan menurut saya lebih besar dibanding tanaman keras. Pun tenaga, waktu, dan modal terkuras untuk menumbuhkan cabai, jagung dan sayuran. Perlu ketekunan, kegigihan dan keikhlasan. Maka menurut saya, petani yang baik adalah petani yang menyukai pekerjaannya. Jika ingin bertani, mesti suka dulu pekerjaan ini, baru menghitung keuntungan.”