Loading...

POTENSI AREN DI SULAWESI BARAT

POTENSI AREN DI SULAWESI BARAT
Pengelolaan sumberdaya pertanian dihadapkan pada peningkatan kebutuhan pangan dan lahan yang merupakan imbas dari masalah peningkatan jumlah penduduk. Olehnya itu pengelolaan sumberdaya pertanian senantiasa perlu memperhatikan kondisi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut khususnya dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Salah satu sumberdaya pertanian yang menjadi pilihan masyarakat dalam menggantungkan hidupnya adalah aren. Aren (Arenga pinnata Merr.) adalah pohon serbaguna yang sejak lama telah dikenal menghasilkan bahan-bahan industri. Hampir semua bagian fisik dan produksi tumbuhan ini dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Selain itu Pohon aren juga mempunyai manfaat secara ekologi, ekonomi, dan sosial budaya (Hidayati, 2009). Hanya saja tumbuhan ini belum mendapat perhatian khusus untuk dikembangkan, sehingga pohon aren yang dimanfaatkan pada umumnya masih merupakan tumbuhan yang tumbuh liar di alam dan berkembang secara alami. Di Sulawesi Barat sendiri Aren (Arenga pinnata Merr.) juga menjadi salah satu tanaman perkebunan yang sangat potensial untuk dikembangkan. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Prov. Sulawesi Barat, luas tanaman aren di Sulawesi Barat tahun 2021 seluas 1. 362 Ha dengan produktivitas 821 Kg/Ha. Sedangkan pada tahun 2022 luas tanaman aren di Sulawesi Barat seluas 1. 363 Ha, mengalami penambahan 1 Ha dari tahun sebelumnya, dengan produktivitas sebesar 1.209Kg/Ha. Sebaran luas tanama Aren per kabupaten di Proinsi Sulawesi Barat berdasarkan data Dinas Perkebunana Provinsi Sulawesi Barat tahun 2022 menunjukkan baahwa sentra aren terluas terdapat di Kabupaten Polman (876 ha), menyusul Mamasa (175 ha), Majene (119 ha), Mamuju (115 ha), Pasangkayu (58 ha), dan Mamuju Tengah (19 ha). Tanaman aren dapat tumbuh mulai dataran rendah sampai ketinggian 1.400 m dpl, namun yang ideal adalah 500 – 1.200 m dpl, dengan suhu 25o C dan curah hujan rata-rata 1.200 mm/tahun. Tanaman aren sebagian besar tumbuh secara alami dan belum dilakukan pemeliharaan dengan menerapkan teknik budidaya yang baik, sehingga produktivitas tanaman masih rendah. Dapat dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi karena mempunyai perakaran serabut yang dangkal, rapat dan menyebar sehingga sangat baik dalam mencegah erosi tanah dan longsor, terutama di daerah dengan topografi miring. Morfologi tanaman aren dalam secara umum yaitu mempunyai tinggi yang dapat mencapai 14 sampai 25 m dengan diameter batang 65 cm, daun majemuk berbentuk menyirip dengan Panjang daun mencapai 5 m dengan tangkai daun sekitar 1,5 m. Bunga jantan dan bunga betina terlihat menyatu pada satu tongkol yang panjangnya sekitar 2,5 m (merupakan sumber nira yang disadap sebagai bahan baku gula aren). Buah aren merupakan buah buni berbentuk bulat dengan diameter sekitar 4 cm, mempunyai 3 ruang dan 3 biji dalam sebuah untaian. Setiap tandan mempunyai 10 tangkai atau lebih dan setiap setiap tangkai mempunyai sekitar 50 butir buah. Secara umum tanaman aren dapat dibagi 2, yaitu aren genjah yang memiliki batang kecil dan pendek dengan produksi nira 10-15 liter/tandang/hari, dan aren dalam yang memiliki batang besar dan tinggi dengan produksi nira 20-30 liter/tandan/hari. Setiap pohon aren dapat menghasilkan tandan bunga jantan (mayang) sebanyak 9-11 mayang (yang disadap jadi nira), namun tidak semuanya dapat menghasilkan nira, tergantung fisiologi tanaman. Aren genjah mempunyai tinggi tanaman sekitar 3-4 m, dan mulai produksi umur 5-6 tahun dengan rata-rata mayang jantan sebanyak 7 mayang dengan total produksi nira 5. 987 liter dengan waktu penyadapan 2,5 bulan/mayang. Tanaman aren termasuk jenis palma multifungsi karena hampir semua bagian pohon aren bermanfaat dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bagian fisik (akar, batang, daun, ijuk dll) maupun hasil produksinya (nira, pati/tepung dan buah), (Lempang, 2012). Salah satu pemanfaatan tanaman aren yang banyak diusahakan petani di Sulawesi Barat adalah pembuatan gula aren yang diolah dari nira. Meski masih diolah dengan cara traditional, terbukti produk olahan aren ini cukup menjanjikan dan memiliki nilai ekonomi sehingga mampu menambha ekonomi keluarga. Dijelaskan oleh Sapari 1994, bahwa produk ini memiliki pasar yang cukup luas, banyak negara yang membutuhkan gula aren dari indonesia diantaranya Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jepang dan Kanada. Selain dari sisi ekonomi, bagi masyarakat mandar Gula aren memiliki tempat tersendiri. Gula Aren (Gula merah) banyak digunakan sebagai bahan baku kue tradisional masyarakat diseluruh wilayah Sulawesi Barat. Salah satu kuliner khas yang menjadi ikon masyarakat Mandar adalah golla kambu. Golla kambu adalah kuliner yang paling diminati oleh masyarakat. Sepintas bentuknya mirip seperti wajik dari Jawa dengan cita rasa manis yang sangat khas. Pengembangan tanaman aren di Sulawesi Barat cukup prospektif, selain meningkatkan perekonomian petani, komoditas perkebunan ini juga dapat melestarikan sumberdaya alam serta lingkungan hidup. Olehnya itu dibutuhkan dukungan pemerintah dalam pengembangan tanaman aren, perbaikan kelembagaan petani serta, peningkatan pemanfaatan dan pengolahan baik bagian fisik maupun produksi pohon aren. Penyusun; Nini Kusrini, Penyuluh BSIP Sulbar