Lahan kering memiliki peran strategis dalam produksi jagung di Indonesia. Lahan kering merupakan suatu hamparan lahan yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun. Potensi lahan kering untuk budidaya tanaman di Indonesia sangat besar. Dari luas daratan + 188,2 juta hektar, terdapat lahan kering seluas + 148 juta hektar (79%), dan dari luas lahan kering tersebut seluas 102,8 juta hektar (68%) merupakan lahan kering masam dengan proporsi 55,8 juta hektar (54%) sesuai untuk pengembangan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Sedangkan sisanya seluas 47 juta hektar (46%) merupakan lahan yang tidak sesuai secara kimia-fisik untuk budidaya tanaman karena memiliki kesuburan tanah rendah, lereng curam (> 40%), solum tanah dangkal, dan banyak batuan dipermukaan tanah (Mulyani, 2006). Sebaran potensi lahan kering masam yang sesuai untuk pengembangan usaha budidaya tanaman adalah Sumatera 18,5 juta hektar, Kalimantan 22,9 juta hektar, dan Papua & Maluku 9,5 juta hektar (Mulyani, 2006). Ciri utama lahan kering adalah rendahnya curah hujan, berkisar antara 100-600 mm/tahun, tidak menentu dan tidak konsisten. Curah hujan yang rendah, tidak dapat diandalkan dan terkonsentrasi selama musim hujan yang pendek, dengan waktu yang tersisa cenderung relatif kering. Suhu tinggi selama musim hujan menyebabkan sebagian besar curah hujan akan hilang dalam penguapan (IFAD, 2000). Lahan kering secara fisik tidak diairi atau tidak mendapatkan pelayanan pengairan irigasi, sehingga sumber air utamanya adalah air hujan dan sebagian kecil berasal dari air tanah atau pompanisasi. Lahan kering tergolong sub optimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al, Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan kering pada umumnya miskin bahan organik, dan hara makro N, P, K, Ca dan Mg. Notohadiprawiro (2006), menyatakan bahwa lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol, yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KPK) dan kemampuan memegang atau menyimpan air yang rendah, tetapi memiliki kadar Al dan Mn tinggi. Kesuburan tanah Ultisol seringkali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas (top soil), dan jika lapisan tanah ini tererosi maka maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Kendala pengembangan lahan kering masam di Indonesia antara lain disebabkan: Faktor teknis, yaitu (1) tingkat kesuburan tanah yang rendah khususnya di tiga pulau besar (Sumatera, Kalimantan, dan Papua). Hal ini karena di wilayah tersebut masuk dalam golongan beriklim basah sehingga proses pelapukan kimia berjalan lebih intensif. Akibatnya tanah menjadi masam dengan kejenuhan basa rendah, kejenuhan aluminium tinggi yang dapat meracuni tanaman, dan secara keseluruhan tingkat kesuburan tanah menjadi rendah. (2) Rendahnya tingkat ketersediaan air di musim kemarau yang mengakibatkan indeks pertanaman (IP) di lahan kering relatif lebih rendah daripada di lahan sawah yang tersedia fasilitas irigasinya. Faktor non teknis yaitu keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk menerapkan teknologi budidaya (pemupukan, konservasi tanah dan air, serta penyediaan pengairan), serta ketersediaan sarana produksi pertanian pada waktu dan jumlah yang tepat sesuai yang diperlukan. Tanaman jagung untuk dapat tumbuh optimal menghendaki berberapa persyaratan: (1) Tanah sebagai media tanam jagung untuk bisa tumbuh optimal, mensyaratkan gembur, subur dan kaya humus. Tanah dengan teksur lempung berdebu atau liat berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Tanah dengan derajat kemasaman (pH) berkisar antara 5,6 “ 7,5; serta aerasi dan ketersediaan air yang baik. Kemiringan tanah sampai dengan 8% baik untuk tanaman jagung, sedangkan tanah dengan kemiringan > 8% sebaiknya dilakukan pembentukan teras terlebih dahulu; (2) Ketinggian tempat yang optimal untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah 0 “ 600 m di atas permukaan laut (dpl), meskipun jagung juga dapat tumbuh pada ketinggian tempat sampai dengan 1.800 m dpl; (3) Iklim untuk pertumbuhan tanaman jagung adalah daerah beriklim sedang hingga sub-tropis/tropis, yang basah. Curah hujan ideal berkisar antara 85-200 mm/bulan dan merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung memerlukan cukup air. Waktu tanam jagung yang baik adalah pada awal musim hujan atau menjelang akhir musim kemarau. Selama pertumbuhan, tanaman jagung memerlukan sinar matahari yang cukup. Tanaman jagung yang hidup dibawah naungan, pertumbuhannya akan terhambat, dan memberikan hasil biji yang kurang baik, bahkan tidak dapat membentuk buah. Pada masa perkecambahan, tanaman jagung menghendaki suhu sekitar 30oC, dan suhu optimum pada masa pertumbuhan tanaman jagung berkisar antara 23o-27oC. Masa panen jagung pada musim kemarau lebih baik daripada musim hujan karena berkaitan dengan waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil panen. Penulis: Ir. Jamhari Hadipurwanta, MP (Penyuluh Pertanian Supervisor, BPTP Lampung)Sumber: 1) Any Mulyani. 2006. Perkembangan Lahan Kering di Indonesia. 2) Budidaya Jagung Dengan Konsep PTT. 2007. 3) Sumber bacaan lainnya.Sumber Gambar: http:https://www.google.co.id/search?q=GAMBAR+JAGUNG+TUMPANGSARI+KEDELAI+JARWO&tbm=isch&tbs=rimg:CbkAZ4e0AGFnIjiEB2Ss7bc4RIYJnd7xoOmTvNPCcG7MFCrscM_1XXpeArijKivTFz6pTcVoWQ3kXIlMUvaRn3xoxwSoSCYQHZKzttzhEEeJN6FVdOo6cKhIJhgmd3vGg6ZMREzFzBgONeC4qEgm808JwbswUKhEkr3m0LIlj2SoSCexwz9del4CuESI105jTjIh6KhIJKMqK9MXPqlMRTD0KQIPkRwQqEglxWhZDeRciUxEFd2uJHRnPaioSCRS9pGffGjHBEY9XSfa5T4XO&tbo=u&sa=X&ved=0ahUKEwjplaqx7KPYAhXLL48KHdc7CK8Q9C8IHg&biw=1366&bih=613&dpr=1#imgrc=HWfazITbzb2PzM: