Lahan kering merupakan hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang tahun. Lahan kering dapat dibedakan berdasarkan ketinggian tempat atau elevasi, iklim, dan kemasaman tanah, sehingga dikenal beberapa istilah, yaitu lahan kering datarn rendah, lahan kering dataran tinggi, lahan kering iklim basah, lahan kering iklim kering, lahan kering masam dan lahan kering tidak masam. Pemanfaatan lahan kering merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Produktivitas lahan kering rata-rata masih rendah karena tingkat kesuburan tanah yang rendah, namun potensi luasannnya sangat tinggi. Selain produktivitasnya yang masih rendah, indeks pertanaman lahan kering juga masih rendah karena ketersediaan air menjadi faktor pembatas dalam usahatani. Oleh karena itu, dalam pengelolaan lahan kering pertanian konservasi penting untuk diadopsi dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutannya. Luas dan Potensi Lahan Kering Lahan kering di Indonesia tercatat seluas 144,47 juta ha atau 75,60% dari luas wilayah Indonesia (191,09 juta ha) (Ritung et al. 2015). Selanjutnya dijelaskan bahwa dari luasan lahan kering tersebut, 111,33 juta ha (77,06%) pada dataran rendah dan 33,14 juta ha pada dataran tinggi. Berdasarkan iklim, seluas 133,72 juta ha pada iklim basah dan 10,75 juta ha pada iklim kering, sedangkan berdasarkan kemasaman tanah, seluas 107,36 juta ha pada lahan masam dan 37,12 juta ha pada lahan tidak masam. Dariah & Heryani (2014), melaporkan bahwa sekitar 82% dari total lahan kering tergolong lahan kering suboptimal. Dalam rangka mendukung ketersediaan pangan dan mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045, lahan kering merupakan aset yang dapat digunakan untuk mencapai target tersebut. Teknologi pengelolaan lahan kering seyogyanya mendapatkan perhatian guna membantu mendongkrak produksi pertanian nasional. Berdasarkan ekosistemnya, lahan kering yang terdapat di Sulawesi Barat seluas 1.460.652 ha, terdiri atas lahan kering dataran rendah 634.060 ha dan dataran tinggi seluas 826.592 ha. Luas tersebut lebih rinci dibagi berdasarkan iklim dan kemasaman tanah, seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Sebaran luas lahan kering (ha) berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah di Sulawesi Barat Topografi Total (ha) Iklim Basah Jumlah (ha) Iklim Kering Jumlah (ha) Masam Tdk Masam Masam Tdk Masam Dataran Rendah 634.060 422.189 184.680 606.869 17.561 9.630 27.191 Dataran Tinggi 826.592 651.842 174.750 826.592 - - - Total 1.460.652 1.074.031 359.430 1.433.461 17.561 9.630 27.191 Sumber : Ritung el al. (2015) (Data diolah) Perbedaan utama lahan kering beriklim basah dan lahan kering beriklim kering adalah tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air. Pada lahan kering iklim basah pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi sehingga tingkat kesuburan tanah rendah dengan kemasaman tinggi akibat pencucian, sedangkan pada lahan kering iklim kering tingkat kesuburan tanah sedang sampai tinggi, solum tanah dangkal dan curah hujan rendah sehingga lahan umumnya hanya ditanami satu kali. Dari luasan lahan kering tersebut, luas lahan kering potensial seluas 708.804 ha (48,53%), terdiri atas tanaman pangan, tanaman tahunan, dan penggembalaan ternak, yang masing-masing tersebar berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah, seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Sebaran luas lahan kering potensial (ha) untuk komoditas berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah di Sulawesi Barat Topografi/ Komoditas Total (ha) Iklim Basah Jumlah (ha) Iklim Kering Jumlah (ha) Masam Tdk Masam Masam Tdk Masam ………………. Dataran Rendah ………………… Tan. Pangan 121.150 64.062 49.759 113.821 7.329 - 7.329 Tan. Perkebunan 379.893 334.952 34.708 369.660 10.233 - 10.233 Penggembalaan 17.310 - 7.679 7.679 9.631 - 9.631 Jumlah 518.353 399.014 92.146 491.160 27.193 - 27.193 ………………… Dataran Tinggi ……………….. Tan. Pangan 866 - 866 866 - - - Tan. Perkebunan 189.585 164.899 24.686 189.585 - - - Penggembalaan - - - - - - - Jumlah 190.451 164.899 25.552 190.451 - - - Total 708.804 563.913 117.698 681.611 27.193 - 27.193 Sumber : Sumber : Ritung el al. (2015) (Data diolah) Berdasarkan data statistik tahun 2021, luas lahan kering (tegal, ladang, dan sementara tidak diusahakan) di Sulawesi Barat seluas 291.686 ha (Tabel 3). Lahan kering dengan luasan tertinggi adalah tegal (134.895 ha), kemudian disusul ladang seluas 96.260 ha, dan sementara tidak digunakan seluas 60.531 ha. Kabupaten Pasangkayu memiliki luasan lahan kering terluas yaitu 103.277 ha (BPS Provinsi Sulawesi Barat 2022). Tabel 3. Luas lahan kering (tegal, ladang dan sementara tidak diusahakan) di Sulawesi Barat berdasarkan data statistik tahun 2021 No Kabupaten Luas (ha) Total Tegal Ladang Sementara tidak diusahakan 1 Mamasa 17.174 16.157 12.371 45.702 2 Polewali Mandar 20.251 17.332 6.512 44.095 3 Majene 12.115 7.295 3.212 22.622 4 Mamuju 19.375 8.074 17.695 45.144 5 Mamuju Tengah 17.462 3.877 9.507 30.846 6 Pasangkayu 48.518 43.525 11.234 103.277 Jumlah 134.895 96.260 60.531 291.686 Sumber: BPS Sulawesi Barat 2022 (Diolah) Sebaran lahan kering yang cukup luas di Sulawesi Barat merupakan potensi yang perlu dioptimalkan guna mendukung penyediaan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pada lahan eksisting dan perluasan areal baru, namun perlu didukung dengan inovasi teknologi yang sesuai. Kondisi wilayah Sulawesi Barat memiliki bentuk lahan yang berbukit hingga bergunung, dengan kemiringan lereng yang agak curam hingga curam sehingga memerlukan pengelolaan lahan yang tepat. Kendala budidaya tanaman pangan pada lahan kering adalah tingkat kesuburan tanah rendah, kemasaman tinggi, kekeringan, keracunan Al, defisiensi P, Ca dan Mn serta kandungan bahan organik tanah yang rendah. Pada lahan kering dataran tinggi, faktor pembatas lainnya adalah suhu rendah. Kendala tersebut tidak berdiri sendiri, namun saling berinteraksi, sehingga persoalan budidaya tanaman pangan pada lahan kering semakin kompleks. Upaya yang diperlukan untuk pemanfaatan lahan kering terutama lahan kering beriklim kering dalam mendukung penyediaan pangan adalah eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya air permukaan dan air tanah serta distribusinya, teknologi konservasi, ameliorasi dan pemupukan terutama pupuk organik dan pupuk hayati untuk meningkatkan kemampuan tanah mengikat air. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian adalah peningkatan kapasitas SDM pertanian, penyuluh dan petani dalam penerapan teknologi perlu terus dilakukan untk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman agar sejang hasil hasil lapangan dan potensi genetiknya tidak terpauh jauh. Pemilahan wilayah berdasarkan sifat-sifat tanah dan lingkungan (zona-zona satuan lahan) akan banyak membantu dalam peruntukan lahannya sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lahan. Pertanian berkelanjutan hanya akan terwujud apabila lahan untuk sistem pertanian dipergunakan dengan tepat dan cara pengelolaannya yang sesuai (Wahyunto et al. 2016). Kesesuaian lahan adalah kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tipe penggunaan lahan (jenis tanaman dan tingkat pengelolaan) tertentu (Hardjowigeno & Widiatmaka 2007). Hasil penilaian kesesuaian lahan masing-masing kabupaten, Provinsi Sulawesi Barat untuk beberapa komoditas pertanian tanaman pangan strategis (pajale) Sebagian besar tergolong dalam kelas kesesuaian sesuai marginal (S3), cukup sesuai (S2), dan tidak sesuai (N). Hanya sebagian kecil yang tergolong sesuai (S1), yang terdapat di Kabupaten Mamuju Tengah (Badan Litbang Pertanian 2016 a; 2016 b 2016 c; 2016 d; 2016 e dan 2016 f). Menurut Wahyunto et al. (2016), FAO 1976 dalam Ritung et al. (2011); Biro Perencanaan Deptan (1997), lahan dengan kelas S1 tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata terhadap penggunaan berkelanjutan, atau hanya mempunyai factor pembatas yang bersifat minor dan tidak mereduksi produktivitas lahan secara nyata; lahan dengan kelas S2 mempunyai faktor pembatas yang berpengaruh terhadap produktivitasnya dan memerlukan tambahan masukan (input), dimana faktor pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri; lahan kelas S3 mempunyai faktor pembatas yang berat dan berpengaruh pada produktivitas lahannya, serta perlu adanya masukan yang besar dan modal tinggi sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta. Tanpa adanya bantuan tersebut petani tidak dapat mengatasinya sendiri. Sedangkan lahan dengan kelas kesesuaian N (tidak sesuai), memiliki faktor pembatas yang sangat berat dan/atau sangat sulit diatasi dan tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Membiarkan lahan dalam kondisi alaminya merupakan cara terbaik mengatasi kemungkinan terjadinya degradasi lahan. Faktor pembatas yang ditemukan di Sulawesi Barat untuk pertanian lahan kering antara lain adalah retensi hara (nr), hara tersedia (na), tingkat bahaya erosi (eh), media perakaran (rc), ketersediaan air (wa), dan temperatur (tc) (Badan Litbang Pertanian 2016 a; 2016 b 2016 c; 2016 d; 2016 e dan 2016 f). Faktor retensi hara dikarenakan karakteristik lahannya memiliki kapasitas tukar kation (KTK) tanah rendah, kejenuhan basa (KB) rendah, kemasaman tanah masam sampai agak masam dan kandungan C-organik tanah rendah. Untuk faktor pembatas ketersediaan hara disebabkan karena karakteristik lahannya memiliki kandungan unsur N, P dan K sangat rendah. Faktor pembatas media perakaran disebabkan karena tekstur tanah agak kasar, dan solum tanah dangkal sekitar 25 – 40 cm. Sedangkan pada faktor pembatas ketersediaan air disebabkan karena kekeringan atau kekurangan air, dan untuk Kabupaten Mamuju yang termasuk dalam iklim Zona B1 yang memiliki bulan basah (> 200 mm/bulan) 7 – 8 bulan yang dapat menyebabkan genangan dan erosi. Faktor bahaya erosi disebabkan karena sebagian besar wilayah Sulawesi Barat mempunyai kelerengan yang curam sampai sangat curam sehingga potensi erosi sangat besar. Oleh karena itu dalam pemanfaatan lahan kering untuk pertanian pangan berkelanjutan diperlukan inovasi teknologi dan pengelolaan lahan dan tanaman yang tepat. Model pertanian konservasi dan penggunaan bahan organik melalui sistem pertanian terpadu merupakan solusi untuk pemanfaatan lahan kering di Sulawesi Barat. Usahatani Tanaman Pangan Lahan Kering Tanaman pangan strategis yang banyak diusahakan pada lahan kering di Sulawesi Barat adalah tanaman jagung, menyusul padi ladang dan kedelai. Luas panen, produksi dan produktivitas tanaman pangan startegis (pajale) dalam 5 tahun disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan data statistik, luas panen pertanaman padi ladang, jagung dan kedelai di Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2018, masing-masing seluas 32.024 ha, 145.121 ha dan 9.293 ha (Badan Pusat Statistik 2019). Produksi padi ladang, jagung dan kedelai cenderung meningkat setiap tahunnya, meskipun produktivitas rata-rata yang dicapai masih rendah dibandingkan dengan potensi hasil padi ladang, jagung dan kedelai atau hasil penelitian dan pengkajian. Rata-rata produktivitas padi ladang, jagung dan kedelai pada lahan kering di Sulawesi Barat tahun 2018 masing-masing sebesar 2,74 t/ha, 4,84 ton/ha dan 1,62 t/ha. Tabel 4. Data luas panen, produksi dan produktivitas pajae di Provinsi Sulawesi Barat (2014-2018) Tahun Padi Ladang Jagung Kedelai Luas panen (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) Luas panen (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) Luas pane Lahan kering merupakan hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang tahun. Lahan kering dapat dibedakan berdasarkan ketinggian tempat atau elevasi, iklim, dan kemasaman tanah, sehingga dikenal beberapa istilah, yaitu lahan kering datarn rendah, lahan kering dataran tinggi, lahan kering iklim basah, lahan kering iklim kering, lahan kering masam dan lahan kering tidak masam. Pemanfaatan lahan kering merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Produktivitas lahan kering rata-rata masih rendah karena tingkat kesuburan tanah yang rendah, namun potensi luasannnya sangat tinggi. Selain produktivitasnya yang masih rendah, indeks pertanaman lahan kering juga masih rendah karena ketersediaan air menjadi faktor pembatas dalam usahatani. Oleh karena itu, dalam pengelolaan lahan kering pertanian konservasi penting untuk diadopsi dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutannya. Luas dan Potensi Lahan Kering Lahan kering di Indonesia tercatat seluas 144,47 juta ha atau 75,60% dari luas wilayah Indonesia (191,09 juta ha) (Ritung et al. 2015). Selanjutnya dijelaskan bahwa dari luasan lahan kering tersebut, 111,33 juta ha (77,06%) pada dataran rendah dan 33,14 juta ha pada dataran tinggi. Berdasarkan iklim, seluas 133,72 juta ha pada iklim basah dan 10,75 juta ha pada iklim kering, sedangkan berdasarkan kemasaman tanah, seluas 107,36 juta ha pada lahan masam dan 37,12 juta ha pada lahan tidak masam. Dariah & Heryani (2014), melaporkan bahwa sekitar 82% dari total lahan kering tergolong lahan kering suboptimal. Dalam rangka mendukung ketersediaan pangan dan mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045, lahan kering merupakan aset yang dapat digunakan untuk mencapai target tersebut. Teknologi pengelolaan lahan kering seyogyanya mendapatkan perhatian guna membantu mendongkrak produksi pertanian nasional. Berdasarkan ekosistemnya, lahan kering yang terdapat di Sulawesi Barat seluas 1.460.652 ha, terdiri atas lahan kering dataran rendah 634.060 ha dan dataran tinggi seluas 826.592 ha. Luas tersebut lebih rinci dibagi berdasarkan iklim dan kemasaman tanah, seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Sebaran luas lahan kering (ha) berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah di Sulawesi Barat Topografi Total (ha) Iklim Basah Jumlah (ha) Iklim Kering Jumlah (ha) Masam Tdk Masam Masam Tdk Masam Dataran Rendah 634.060 422.189 184.680 606.869 17.561 9.630 27.191 Dataran Tinggi 826.592 651.842 174.750 826.592 - - - Total 1.460.652 1.074.031 359.430 1.433.461 17.561 9.630 27.191 Sumber : Ritung el al. (2015) (Data diolah) Perbedaan utama lahan kering beriklim basah dan lahan kering beriklim kering adalah tingkat kesuburan tanah dan ketersediaan air. Pada lahan kering iklim basah pada umumnya mempunyai curah hujan tinggi sehingga tingkat kesuburan tanah rendah dengan kemasaman tinggi akibat pencucian, sedangkan pada lahan kering iklim kering tingkat kesuburan tanah sedang sampai tinggi, solum tanah dangkal dan curah hujan rendah sehingga lahan umumnya hanya ditanami satu kali. Dari luasan lahan kering tersebut, luas lahan kering potensial seluas 708.804 ha (48,53%), terdiri atas tanaman pangan, tanaman tahunan, dan penggembalaan ternak, yang masing-masing tersebar berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah, seperti pada Tabel 2. Tabel 2. Sebaran luas lahan kering potensial (ha) untuk komoditas berdasarkan topografi, iklim dan kemasaman tanah di Sulawesi Barat Topografi/ Komoditas Total (ha) Iklim Basah Jumlah (ha) Iklim Kering Jumlah (ha) Masam Tdk Masam Masam Tdk Masam ………………. Dataran Rendah ………………… Tan. Pangan 121.150 64.062 49.759 113.821 7.329 - 7.329 Tan. Perkebunan 379.893 334.952 34.708 369.660 10.233 - 10.233 Penggembalaan 17.310 - 7.679 7.679 9.631 - 9.631 Jumlah 518.353 399.014 92.146 491.160 27.193 - 27.193 ………………… Dataran Tinggi ……………….. Tan. Pangan 866 - 866 866 - - - Tan. Perkebunan 189.585 164.899 24.686 189.585 - - - Penggembalaan - - - - - - - Jumlah 190.451 164.899 25.552 190.451 - - - Total 708.804 563.913 117.698 681.611 27.193 - 27.193 Sumber : Sumber : Ritung el al. (2015) (Data diolah) Berdasarkan data statistik tahun 2021, luas lahan kering (tegal, ladang, dan sementara tidak diusahakan) di Sulawesi Barat seluas 291.686 ha (Tabel 3). Lahan kering dengan luasan tertinggi adalah tegal (134.895 ha), kemudian disusul ladang seluas 96.260 ha, dan sementara tidak digunakan seluas 60.531 ha. Kabupaten Pasangkayu memiliki luasan lahan kering terluas yaitu 103.277 ha (BPS Provinsi Sulawesi Barat 2022). Tabel 3. Luas lahan kering (tegal, ladang dan sementara tidak diusahakan) di Sulawesi Barat berdasarkan data statistik tahun 2021 No Kabupaten Luas (ha) Total Tegal Ladang Sementara tidak diusahakan 1 Mamasa 17.174 16.157 12.371 45.702 2 Polewali Mandar 20.251 17.332 6.512 44.095 3 Majene 12.115 7.295 3.212 22.622 4 Mamuju 19.375 8.074 17.695 45.144 5 Mamuju Tengah 17.462 3.877 9.507 30.846 6 Pasangkayu 48.518 43.525 11.234 103.277 Jumlah 134.895 96.260 60.531 291.686 Sumber: BPS Sulawesi Barat 2022 (Diolah) Sebaran lahan kering yang cukup luas di Sulawesi Barat merupakan potensi yang perlu dioptimalkan guna mendukung penyediaan pangan nasional melalui peningkatan produktivitas pada lahan eksisting dan perluasan areal baru, namun perlu didukung dengan inovasi teknologi yang sesuai. Kondisi wilayah Sulawesi Barat memiliki bentuk lahan yang berbukit hingga bergunung, dengan kemiringan lereng yang agak curam hingga curam sehingga memerlukan pengelolaan lahan yang tepat. Kendala budidaya tanaman pangan pada lahan kering adalah tingkat kesuburan tanah rendah, kemasaman tinggi, kekeringan, keracunan Al, defisiensi P, Ca dan Mn serta kandungan bahan organik tanah yang rendah. Pada lahan kering dataran tinggi, faktor pembatas lainnya adalah suhu rendah. Kendala tersebut tidak berdiri sendiri, namun saling berinteraksi, sehingga persoalan budidaya tanaman pangan pada lahan kering semakin kompleks. Upaya yang diperlukan untuk pemanfaatan lahan kering terutama lahan kering beriklim kering dalam mendukung penyediaan pangan adalah eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya air permukaan dan air tanah serta distribusinya, teknologi konservasi, ameliorasi dan pemupukan terutama pupuk organik dan pupuk hayati untuk meningkatkan kemampuan tanah mengikat air. Faktor lain yang perlu mendapat perhatian adalah peningkatan kapasitas SDM pertanian, penyuluh dan petani dalam penerapan teknologi perlu terus dilakukan untk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman agar sejang hasil hasil lapangan dan potensi genetiknya tidak terpauh jauh. Pemilahan wilayah berdasarkan sifat-sifat tanah dan lingkungan (zona-zona satuan lahan) akan banyak membantu dalam peruntukan lahannya sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lahan. Pertanian berkelanjutan hanya akan terwujud apabila lahan untuk sistem pertanian dipergunakan dengan tepat dan cara pengelolaannya yang sesuai (Wahyunto et al. 2016). Kesesuaian lahan adalah kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tipe penggunaan lahan (jenis tanaman dan tingkat pengelolaan) tertentu (Hardjowigeno & Widiatmaka 2007). Hasil penilaian kesesuaian lahan masing-masing kabupaten, Provinsi Sulawesi Barat untuk beberapa komoditas pertanian tanaman pangan strategis (pajale) Sebagian besar tergolong dalam kelas kesesuaian sesuai marginal (S3), cukup sesuai (S2), dan tidak sesuai (N). Hanya sebagian kecil yang tergolong sesuai (S1), yang terdapat di Kabupaten Mamuju Tengah (Badan Litbang Pertanian 2016 a; 2016 b 2016 c; 2016 d; 2016 e dan 2016 f). Menurut Wahyunto et al. (2016), FAO 1976 dalam Ritung et al. (2011); Biro Perencanaan Deptan (1997), lahan dengan kelas S1 tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata terhadap penggunaan berkelanjutan, atau hanya mempunyai factor pembatas yang bersifat minor dan tidak mereduksi produktivitas lahan secara nyata; lahan dengan kelas S2 mempunyai faktor pembatas yang berpengaruh terhadap produktivitasnya dan memerlukan tambahan masukan (input), dimana faktor pembatas tersebut biasanya dapat diatasi oleh petani sendiri; lahan kelas S3 mempunyai faktor pembatas yang berat dan berpengaruh pada produktivitas lahannya, serta perlu adanya masukan yang besar dan modal tinggi sehingga perlu adanya bantuan atau campur tangan (intervensi) pemerintah atau pihak swasta. Tanpa adanya bantuan tersebut petani tidak dapat mengatasinya sendiri. Sedangkan lahan dengan kelas kesesuaian N (tidak sesuai), memiliki faktor pembatas yang sangat berat dan/atau sangat sulit diatasi dan tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Membiarkan lahan dalam kondisi alaminya merupakan cara terbaik mengatasi kemungkinan terjadinya degradasi lahan. Faktor pembatas yang ditemukan di Sulawesi Barat untuk pertanian lahan kering antara lain adalah retensi hara (nr), hara tersedia (na), tingkat bahaya erosi (eh), media perakaran (rc), ketersediaan air (wa), dan temperatur (tc) (Badan Litbang Pertanian 2016 a; 2016 b 2016 c; 2016 d; 2016 e dan 2016 f). Faktor retensi hara dikarenakan karakteristik lahannya memiliki kapasitas tukar kation (KTK) tanah rendah, kejenuhan basa (KB) rendah, kemasaman tanah masam sampai agak masam dan kandungan C-organik tanah rendah. Untuk faktor pembatas ketersediaan hara disebabkan karena karakteristik lahannya memiliki kandungan unsur N, P dan K sangat rendah. Faktor pembatas media perakaran disebabkan karena tekstur tanah agak kasar, dan solum tanah dangkal sekitar 25 – 40 cm. Sedangkan pada faktor pembatas ketersediaan air disebabkan karena kekeringan atau kekurangan air, dan untuk Kabupaten Mamuju yang termasuk dalam iklim Zona B1 yang memiliki bulan basah (> 200 mm/bulan) 7 – 8 bulan yang dapat menyebabkan genangan dan erosi. Faktor bahaya erosi disebabkan karena sebagian besar wilayah Sulawesi Barat mempunyai kelerengan yang curam sampai sangat curam sehingga potensi erosi sangat besar. Oleh karena itu dalam pemanfaatan lahan kering untuk pertanian pangan berkelanjutan diperlukan inovasi teknologi dan pengelolaan lahan dan tanaman yang tepat. Model pertanian konservasi dan penggunaan bahan organik melalui sistem pertanian terpadu merupakan solusi untuk pemanfaatan lahan kering di Sulawesi Barat. Usahatani Tanaman Pangan Lahan Kering Tanaman pangan strategis yang banyak diusahakan pada lahan kering di Sulawesi Barat adalah tanaman jagung, menyusul padi ladang dan kedelai. Luas panen, produksi dan produktivitas tanaman pangan startegis (pajale) dalam 5 tahun disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan data statistik, luas panen pertanaman padi ladang, jagung dan kedelai di Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2018, masing-masing seluas 32.024 ha, 145.121 ha dan 9.293 ha (Badan Pusat Statistik 2019). Produksi padi ladang, jagung dan kedelai cenderung meningkat setiap tahunnya, meskipun produktivitas rata-rata yang dicapai masih rendah dibandingkan dengan potensi hasil padi ladang, jagung dan kedelai atau hasil penelitian dan pengkajian. Rata-rata produktivitas padi ladang, jagung dan kedelai pada lahan kering di Sulawesi Barat tahun 2018 masing-masing sebesar 2,74 t/ha, 4,84 ton/ha dan 1,62 t/ha. Tabel 4. Data luas panen, produksi dan produktivitas pajae di Provinsi Sulawesi Barat (2014-2018) Tahun Padi Ladang Jagung Kedelai Luas panen (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) Luas panen (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) Luas panen (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) 2014 6.921 22.908 3,31 24.341 110.665 4,55 3.410 3.989 1,17 2015 5.596 19.530 3,49 20.752 100.811 4,86 4.106 4.229 1,03 2016 19.872 56.436 2,84 51.346 284.213 5,54 3.802 5.931 1,70 2017 19.323 55.650 2,88 154.174 724.222 4,70 3.103 4.841 1,56 2018 32.024 87.746 2,74 145.121 702.339 4,84 9.293 15.055 1,62 Sumber : Badan Pusat Statistik (2019) (Data Diolah) Kondisi eksisting pertanaman padi ladang, jagung dan kedelai di tingkat petani pada lahan kering di Sulawesi Barat dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 3. Teknik budidaya yang dilakukan petani pada umumnya masih konvensional dengan menggunakan benih varietas lokal (khusus untuk padi ladang) atau benih bantuan atau benih yang dibeli di kios tani (jagung dan kedelai), penggunaan jarak tanam yang rapat dan tidak teratur serta penggunaan pupuk yang belum sesuai dengan rekomendasi pemupukan (umumnya hanya mengunakan urea atau NPK dengan dosis rendah) sesuai kemampuan petani, dan belum menerapkan budidaya konservasi pada lahan miring sehingga potensi erosi sangat terbuka. Penerapan inovasi teknologi yang baik dan benar selain hasil tanaman meningkat, introduksi teknologi budidaya tanaman sistem konservasi di lahan kering berlereng dengan penanaman memotong arah lereng dapat meminimalkan terjadinya erosi terutama jika dilakukan pengolahan lahan. Salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian adalah konservasi tanah dan air. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis terlihat menurunkan hasil panen. Penerapan inovasi teknologi yang baik dan benar selain hasil tanaman meningkat, introduksi teknologi budidaya tanaman sistem konservasi di lahan kering berlereng dengan penanaman memotong arah lereng dapat meminimalkan terjadinya erosi terutama jika dilakukan pengolahan lahan. Salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian adalah konservasi tanah dan air. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis terlihat menurunkan hasil panen. Optimalisasi Potensi Lahan Kering untuk Pertanian Pangan Berkelanjutan Untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional ke depan, pemanfaatan lahan kering menjadi tumpuan harapan dengan dukungan inovasi teknologi yang telah dihasilkan oleh berbagai lembaga pemerintah maupun swasta. Aplikasi inovasi teknologi merupakan syarat mutlak dalam memberdayakan lahan kering, baik dalam penanggulangan faktor pembatas lahan maupun dalam meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya lahan. Inovasi teknologi pengelolaan lahan yang menjadi penopang utama optimalisasi lahan suboptimal di Sulawesi Barat dengan cara memperbaiki teknik budidadaya tanaman dan pengelolaan lahan. Pengelolaan lahan yang tepat didasarkan untuk mengatasi faktor pembatas kerusakan tanah (Pusponegoro et al. 2018). Beberapa komponen teknologi yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi lahan kering, yaitu penyiapan lahan, penggunaan bahan organik dan pembenah tanah, penggunaan varietas unggul bermutu yang adaptif, pengaturan jarak tanam dan sistem tanam pada lahan miring, penggunaan pupuk yang berimbang, pengelolaan air, pengendalian OPT dan gulma secara terpadu, serta penerapan inovasi teknologi lainnya sesuai agroekosistemnya. Selain beberapa usaha optimalisasi lahan kering yang telah dijelaskan, berdasarkan Permentan No. 47/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman Umum Budidaya Pertanian pada Lahan Pegunungan, tanggal 9 Oktober 2006 (Menteri Pertanian RI 2006) serta memperhatikan karakteristik lahan kering di Sulawesi Barat, perlu adanya penerapan konservasi tanah dan air. Teknik konservasi yang dapat diterapkan adalah teknik konservasi mekanik dan vegetatif. Secara garis besar teknik konservasi tanah ditujukan untuk pengendalian erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Pada prinsipnya konservasi mekanik dalam pengendalian erosi harus diikuti oleh cara vegetatif, yaitu penggunaan tanaman dan sisa-sisa tanaman (misalnya mulsa dan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun. Teknik konservasi yang memungkinkan untuk diterapkan yaitu dengan melakukan penanaman memotong arah lereng dalam upaya mengurangi laju erosi tanah. Selain upaya intensifikasi, perlu dilakukan ekstensifikasi dengan memperluas area penanaman tanaman pangan di Sulawesi Barat. Berdasarkan ketersediaan lahan kering dengan kategori belum dimanfaatkan dengan kelas kesesuaian lahan cukup sesuai dan sesuai marginal, dapat dijadikan potensi pengembangan pertanian tanaman pangan kedepannya. Perlu adanya upaya serius baik dari pihak pemerintah maupun masyarakat untuk kolaborasi dalam meningkatkan produktivitas tanaman pangan dalam upaya mendukung ketersediaan pangan nasional. Penulis : Ir. Marthen P. Sirappa, M.Si (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) n (ha) Produksi (ton) Produk-tivitas (t/ha) 2014 6.921 22.908 3,31 24.341 110.665 4,55 3.410 3.989 1,17 2015 5.596 19.530 3,49 20.752 100.811 4,86 4.106 4.229 1,03 2016 19.872 56.436 2,84 51.346 284.213 5,54 3.802 5.931 1,70 2017 19.323 55.650 2,88 154.174 724.222 4,70 3.103 4.841 1,56 2018 32.024 87.746 2,74 145.121 702.339 4,84 9.293 15.055 1,62 Sumber : Badan Pusat Statistik (2019) (Data Diolah) Kondisi eksisting pertanaman padi ladang, jagung dan kedelai di tingkat petani pada lahan kering di Sulawesi Barat dapat dilihat pada Gambar 1, 2 dan 3. Teknik budidaya yang dilakukan petani pada umumnya masih konvensional dengan menggunakan benih varietas lokal (khusus untuk padi ladang) atau benih bantuan atau benih yang dibeli di kios tani (jagung dan kedelai), penggunaan jarak tanam yang rapat dan tidak teratur serta penggunaan pupuk yang belum sesuai dengan rekomendasi pemupukan (umumnya hanya mengunakan urea atau NPK dengan dosis rendah) sesuai kemampuan petani, dan belum menerapkan budidaya konservasi pada lahan miring sehingga potensi erosi sangat terbuka. Penerapan inovasi teknologi yang baik dan benar selain hasil tanaman meningkat, introduksi teknologi budidaya tanaman sistem konservasi di lahan kering berlereng dengan penanaman memotong arah lereng dapat meminimalkan terjadinya erosi terutama jika dilakukan pengolahan lahan. Salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian adalah konservasi tanah dan air. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis terlihat menurunkan hasil panen. Penerapan inovasi teknologi yang baik dan benar selain hasil tanaman meningkat, introduksi teknologi budidaya tanaman sistem konservasi di lahan kering berlereng dengan penanaman memotong arah lereng dapat meminimalkan terjadinya erosi terutama jika dilakukan pengolahan lahan. Salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan oleh para praktisi pertanian adalah konservasi tanah dan air. Hal ini terjadi antara lain karena dampak degradasi tanah tidak selalu segera terlihat di lapangan, atau tidak secara drastis terlihat menurunkan hasil panen. Penulis : Ir. Marthen P. Sirappa, M.Si (Penyuluh Pertanian BSIP Sulawesi Barat) Sumber Bacaan: Badan Litbang Pertanian. 2016 b. Atlas Peta Kesesuaian Lahan dan Arahan Komoditas Pertanian Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat Skala 1:50.000. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Badan Litbang Pertanian. 2016 c. Atlas Peta Kesesuaian Lahan dan Arahan Komoditas Pertanian Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat Skala 1:50.000. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Badan Litbang Pertanian. 2016 d. Atlas Peta Kesesuaian Lahan dan Arahan Komoditas Pertanian Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat Skala 1:50.000. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.