PRODUKTIVITAS BAWANG MERAH MAJA CIPANAS PADA DATARAN TINGGI DAN MEDIUM Bawang merah (Allium ascalonicum) merupakan komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani. Komoditas sayuran ini termasuk ke dalam kelompok rempah tidak bersubstitusi yang berfungsi sebagai bumbu penyedap makanan serta bahan obat tradisional. Komoditas ini merupakan tanaman semusim yang banyak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari yang kebutuhannya semakin meningkat karena hampir semua masakan membutuhkan komoditas ini.Komoditas ini secara umum dapat tumbuh dan beradaptasi dengan baik di dataran rendah maupun dataran tinggi hingga sekitar 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Dari sekian banyak varietas bawang merah seperti: Bima Brebes, Medan, Keling, Maja Cipanas, Super Philip, Bauji, Kramat 1, Kramat 2, Batu Ijo, Tiro, salah satu varietas bawang merah yang banyak diusahakan oleh petani adalah Varietas Maja Cipanas. Varietas ini merupakan varietas lokal asal Cipanas, Cianjur. Umur panennya 60 hari setelah tanam dengan jumlah produksi mencapai 11 ton/ha umbi kering. Susut bobot umbi kering tergolong besar, yakni 25% dari bobot panen basah. Daunnya berwarna hijau tua, berbentuk silindris, dan berlubang. Umbi berwarna merah tua, berbentuk bulat“gepeng, dan berkeriput. Jumlah anakan umbi 6-12 per rumpun. Maja Cipanas cukup resisten terhadap penyakit busuk umbi, tetapi peka terhadap penyakit busuk ujung daun. tanaman ini dapat ditanam di dataran tinggi maupun medium. Beberapa literatur menyatakan bahwa permasalahan yang sering ditemui pada usahatani bawang merah adalah fluktuasi produksi yang disebabkan adanya perbedaan produksi di musim kemarau dan musim hujan. Pada musim hujan intensitas serangan hama terutama Spodoptera exigua dan penyakit seperti Fusarium, Alternaria dan Antraknose semakin tinggi. Sehingga kegagalan panen sering terjadi pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim hujan, kelembaban udara lebih tinggi dibandingkan musim kemarau sehingga intensitas serangan penyakit lebih tinggi. Sedangkan pada musim kemarau suhu udara lebih tinggi dibandingkan musim hujan sehingga intensitas serangan hama lebih tinggi dibandingkan intensitas serangan penyakit. Oleh karenanya produktivitas di musim hujan semakin menurun dan pasokan produksi juga menurun yang mengakibatkan terjadinya fluktuasi harga. Permasalahan seperti ini justru berbeda dengan yang terjadi di Provinsi Bengkulu. Di Provinsi Bengkulu, varietas Maja Cipanas yang ditanam pada dataran tinggi (1.100 m dpl) dimusim hujan, justru lebih baik hasilnya bila dibandingkan dengan dataran medium (ketinggian 600 m dpl) pada musim kemarau. Varietas Maja Cipanas yang ditanam pada bulan September 2016 di dataran tinggi Kabupaten rejang Lebong, mampu memberikan hasil rata-rata 21 ton/ha umbi basah (penimbangan di lapangan dengan kondisi habis hujan) dibandingkan dengan Varietas Maja Cipanas yang ditanam pada bulan Mei 2016 di dataran medium Kabupaten Kepahiang yang hanya memberikan hasil rata-rata 8,67 ton/ha umbi basah.Kondisi pertanaman pada dataran medium musim kemarau yang selalu disiram, setelah tanaman berumur 60 hari, semua daun tanaman sudah kuning dan sudah banyak yang terlepas. Sedangkan penanaman di dataran tinggi musim hujan, tanaman dipanen setelah berumur 85 hari setelah tanam dengan daun masih hijau namun pangkal batang sudah lunak (Ahmad Damiri).