Dalam kelompok tanaman pangan, kedelai merupakan komoditas terpenting ke tiga setelah padi dan jagung. Kebutuhan kedelai terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan baku industri olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco, snack, dan sebagainya. Mengingat Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat, maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri. Upaya tersebut dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, peningkatan kualitas produk, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infrastruktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha.Guna meningkatkan produktivtas, salah satu komponen teknologi yang paling mudah dan cepat menyebar adalah varietas unggul baru (VUB) yang berdaya hasil tinggi, karena kontribusi varietas unggul dalam meningkatkan produktivitas paling mudah dilihat dan dipahami oleh petani. Perakitan varietas unggul baru yang mempunyai karakter produktivitas tinggi serta toleran terhadap cekaman lingkungan biotik dan abiotik sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi kedelai. Oleh karenanya agar varietas unggul selalu digunakan petani sebagai bahan tanaman, ketersediaan benih varietas unggul baru harus selalu tersedia bilamana petani memerlukan untuk pertanaman selanjutnya.Selama ini BBI Lubuk Kembang Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu jarang melakukan penangkaran kedelai, karena sulitnya mendapatkan benih unggul baru yang diharapkan dan kurangnya permintaan petani terhadap benih untuk penanaman kedelai. Di sisi lain bahwa peraturan perbenihan di Indonesia, Untuk benih-benih dengan klas benih Breder Seed (BS) tidak boleh dilakukan oleh penangkar, tetapi harus dilakukan oleh Balai Benih selaku penanggung jawab teknis perbenihan. Oleh karena itu Dalam rangka mendukung ketersediaan benih varietas unggul baru, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu pernah melakukan demplot kedelai yang merupakan kerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Rejang Lebong melalui Balai Benih Induk (BBI) Lubuk Kembang.Dasar pemilihan varietas yang ditanam, disamping kesesuaiannya dengan kondisi lahan, juga perlu memperhatikan keinginan pasar atau pengguna. Karakter pokok yang menjadi tolok ukur pilihan terhadap varietas kedelai adalah umur tanaman dan tipe biji yang dibedakan menurut ukuran biji, warna biji, dan bentuk biji. Umur tanaman dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu umur genjah ( 90 hari). Dari pertimbangan umur tanaman, petani menyenangi varietas umur genjah sampai sedang karena tanaman yang demikian dapat cepat dipanen, risiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) lebih rendah, dan mendukung peningkatan indeks pertanaman (IP). Varietas kedelai menurut ukuran biji dibedakan ukuran biji kecil (12 g/100 biji). Pengrajin tahu dan tempe umumnya menyenangi kedelai yang berukuran sedang sampai besar. Varietas yang dipilih dalam demplot ini adalah Anjasmoro yang merupakan varietas yang berumur sedang dengan ukuran biji besar.Hasil demplot menunjukkan bahwa umur tanaman menjadi lebih panjang sekitar 7 hari dibandingkan deskripsinya, sehingga lebih lambat panen. Hal ini karena tanaman kedelai ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian ± 1.000 m dpl. Sedangkan umumnya, tanaman kedelai ditanam di dataran rendah. Perbandingan antara hasil demplot dengan deskripsi tanaman: 1) tinggi tanaman = 93,0 : 64 “ 68 cm, 2) jumlah cabang = 3,5 : 2,9 “ 5,6 cabang, 3) jumlah buku cabang utama = 12,5 : 12,9 “ 14,8 buku, 4) bobot 100 butir = 20,94 : 14,8 “ 15,3 gram, 5) umur polong masak = 101,0 : 82,5 “ 92,5 hari, 6) hasil per hektar = 2,54 : 2,03 “ 2,25 ton (Ahmad Damiri).