Loading...

PRODUKTIVITAS KEDELAI PADA LAHAN RAWA LEBAK

PRODUKTIVITAS KEDELAI PADA LAHAN RAWA LEBAK
Tanaman Kedelai merupakan tanaman penting dalam memenuhi kebutuhan pangan dalam rangka perbaikan gizi masyarakat, karena merupakan sumber protein nabati yang relatif murah bila dibandingkan sumber protein lainnya seperti daging, susu, dan ikan. Kadar protein biji kedelai lebih kurang 35%, karbohidrat 35%, dan lemak 15%. Di samping itu, kedelai juga mengandung mineral seperti kalsium, fosfor, besi, vitamin A dan B 1. Teknik budidaya konvensional yang biasa dilakukan pada budidaya kedelai merupakan teknik budidaya yang menghasilkan produktivitas persatuan lahan yang relatif kecil sampai sedang saja dan biasanya dilakukan pada lahan non suboptimal. Terbatasnya lahan penanaman kedelai karena bersaing dengan komoditas lainnya yang nilai ekonominya lebih tinggi, menyebabkan penanaman kedelai harus dilakukan dengan memanfaatkan lahan lain yang relatif kurang subur berupa lahan sub-optimal. salah satu lahan sub-optimal yang dapat digunakan untuk penanaman kedelai adalah lahan rawa lebak. Lahan rawa lebak merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi semakin menyusutnya lahan subur khususnya di pulau Jawa akibat konversi lahan. Budidaya pada lahan sub-optimal seperti lahan rawa lebak mempunyai beberapa kendala dalam budidaya, namun bisa diatasi dengan teknologi budidaya yang tepat. Lahan rawa lebak merupakan lahan sub optimal yang secara alamiah mempunyai produktivitas rendah karena faktor internal dan eksternal. Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh adanya genangan dengan lama genangan > 3 bulan dan tinggi genangan > 50 cm. Masalah yang dihadapi dalam pengembangan lahan rawa lebak adalah pengendalian air, pH tanah pada umumnya rendah, dan ketersediaan unsur hara dalam tanah relatif rendah dengan tingkat kesuburan tanah yang rendah sampai sedang. Oleh karena itu diperlukan pengujian produktivitas dari kacang kedelai yang ditanam pada lahan rawa lebak yang diperlakukan dengan pengapuran dan pupuk kandang. Secara umum kedelai dapat tumbuh hampir di setiap jenis tanah termasuk tanah rawa lebak. Pengembangan kedelai di lahan rawa lebak merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai nasional. Penggunaan benih bermutu serta berlabel sangat dianjurkan, begitu pula dengan pemilihan varietas dianjurkan yang adaptif di lahan rawa seperti varietas biji besar (Anjasmoro, Argomulyo dan Rajabasa) dan varietas biji sedang (Lawit, Menyapa, Slamet, Seulawah, Wilis, Ijen, Gema, Dering). Oleh karena itu pengkajian terhadap varietas kedelai pada lahan rawa seperti lahan rawa lebak perlu dilakukan. Pengkajian yang dilakukan Saleh dan Herman (2017) terhadap Kacang Kedelai varietas Dega 1, Lawit, Menyapa dan Galur Grayak di Kebun Percobaan Banjarbaru, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa lebak dangkal secara hamparan pada musim kemarau yang dimulai dari bulan Mei sampai dengan Juli 2016. Petak percobaan berukuran 3 m x 4 m, dan benih kedelai ditanam dengan jarak tanam 40 cm x 10 cm. Setiap lubang tanam dimasukkan benih kedelai sebanyak satu biji. Kapur diberikan 7 hari sebelum tanam dengan dosis 250 kg/ha dengan cara ditabur merata pada permukaan lahan. Pupuk kandang diberikan sebelum tanam dengan cara dilarik di sepanjang barisan tanaman dengan dosis 1,0 t/ha. Pemeliharaan yang dilakukan meliputi pengendalian gulma dan pengendalian hama tanaman dilakukan secara intensif. Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa Varietas Dega 1 menunjukkan hasil tertinggi dibandingkan dengan varietas dan galur lainnya. Produktivitas yang tinggi ini dipengaruhi terutama oleh bobot 100 butir yang lebih berat. Perbandingan bobot 100 butir masing-masing varietas dan galur kedelai yaitu: Menyapa : Lawit : Galur Grayak : Dega 1 adalah: 6,92 g : 8,06 g : 12,72 g : 20,02 g. Demikian juga perbandingan hasil masing-masing varietas dan galur kedelai yaitu: Menyapa : Lawit : Galur Grayak : Dega 1 adalah: 1,302 t/ha : 1,426 t/ha : 1,591 t/ha : 1,753 t/ha (Ahmad Damiri)