Loading...

REKOMENDASI PENGENDALIAN TIKUS PADA PERTANAMAN PADI

REKOMENDASI PENGENDALIAN TIKUS PADA PERTANAMAN PADI
Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama utama penyebab kerusakan pertanaman padi. Rata-rata tingkat kerusakan tanaman padi mencapai 20% per tahun. Serangan tikus sawah terjadi sejak pertanaman di persemaian hingga panen, bahkan dalam gudang penyimpanan padi. Pengendalian tikus sawah relatif lebih sulit karena sifat biologi dan ekologinya yang berbeda dibanding hama padi lainnya. Hama tikus selalu menjadi permasalahan setiap musim pertanaman padi di Lampung, hal ini disebabakan (1) penanganan terlambat: pada umumnya pengendalian tikus dilakukan setelah terjadi serangan, (2) monitoring lemah: sering terjadi ledakan populasi yang tidak diantisipasi sebelumnya sehingga menimbulkan kerugian besar, (3) pengendalian tidak intensif: alat dan sarana pengendalian terbatas, tidak kompak, dan tidak berkelanjutan, (4) percaya mitos: akibat tidak diketahui dan belum dipahaminya aspek dinamika populasi tikus. Sehubungan dengan kondisi di tersebut, maka pengendalian hama tikus dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Disamping itu pelaksanaan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam, untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan yang cepat pada stadium generataif padi, dan pelaksanaan pengendalian dilakukan secara bersama-sama atau berkelompok dan terkoordinasi dalam cakupan hamparan skala luas. Rekomendasi Pengendalian Tikus Rekomendasi pengendalian tikus dianjurkan dengan menerapkan tujuh jurus mengatasi tikus meliputi; (1) tanam serempak, (2) sanitasi habitat, (3) gropyokan massal, (4) fumigasi massal, (5) LTBS, (6) TBS, (7) rodentisida. Tujuh jurus tersebut penerapannya harus memperhatikan kondisi lingkungan sawah atau stadia pertanaman padi yaitu:1. Kondisi Lingkungan Sawah Bera Pratanam. Pengendalian dilakukan dengan sanitasi habitat, gropyokan missal, fumigasi massal, penggunaan LTBS, dan pemakaian rodentisida apabila populasi tikus tinggi. Sanitasi habitat Pembersihan habitat tikus seperti di tepi kampung, tanggul irigasi, tanggul jalan, pematang, dan saluran irigasi. Lebar dan tinggi pematang dibuat kurang dari 30cm agar tidak digunakan tikus untuk membuat lubang sarangnya.Gropyokan Massal Beragam cara tangkap tikus, penggalian & penggenangan lubang aktif, perburuan dengan anjing, ngobor malam, penjeratan, pemukulan, penjaringan, dan lain-lain dengan melibatkan seluruh petani dalam hamparan. Fumigasi / PengemposanFumigasi efektif membunuh tikus beserta anak-anaknya dalam lubang sarang. Tutup lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Penerapan LTBS (Linear Trap Barrier System)LTBS berupa bentangan plastik / terpal setinggi 60-70cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap 1m, dipasang bubu perangkap setiap 20m berselang-seling arah corong masuknya. Dipasang di antara habitat tikus dengan sawah atau memotong arah migrasi tikus. RodentisidaPengumpanan hanya dilakukan apabila populasi tikus sangat tinggi, terutama pada saat awal tanam atau bera. Penggunaan rodentisaida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus. seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan. 2. Waktu Pengolahan Tanah Saat olah lahan, fokuskan untuk melakukan tindakan pengendalian dengan sanitasi habitat, gropyok massal, penggunaan Trap Barrier System (TBS) tanam awal dan LTBS. Pengumpanan rodentisida masih dapat dilakukan. 3. Stadia Pesemaian Pengendalian yang dilakukan adalah dengan sanitasi habitat, gropyok massal, dan pemanfaatan pesemaian sebagai petak TBS dengan pemagaraan plastik dan pemasangan bubu perangkap. Penerapan TBS tanam awal (Trap Barrier System)Terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS terdiri atas (i) tanaman perangkap untuk menarik kedatangan tikus, yaitu petak padi 25m x 25m yang ditanam 3 minggu lebih awal, (ii) pagar plastik untuk mengarahkan tikus agar masuk perangkap, berupa plastik/terpal setinggi 70-80cm, ditegakkan ajir bambu setiap 1m dan ujung bawahnya terendam air, (iii) bubu perangkap untuk menangkap dan menampung tikus, berupa perangkap dari ram kawat 20cm x 20cm x 40cm dipasang pada setiap sisi TBS. 4. Stadia Penanaman Pengendalian yang dilakukan dengan cara tanam serempak. Selisih waktu tanam dalam satu hamparan usahakan tidak lebih dari 2 minggu, agar pakan terbatas sehingga tikus tidak berkembangbiak terus menerus. 5. Stadia Tunas Pengendalian yang dilakukan cukup dengan pemasangan LTBS 6. Stadia Bunting Pengendalian yang dilakukan adalah sanitasi habitat, fumigasi massal, LTBS. 7. Stadia Matang/Menjelang Panen Pengendalian yang dilakukan adalah cukup dengan fumigasi masal. 8. Waktu Bera Pasca Panen Pengendalian yang dilakukan adalah gropyok massal, fumigasi massal, LTBS dan TBS.Memanfaatan Musuh Alami. Selain rekomendasi pengendalian tersebut di atas, pengendalian tikus dengan memanfaatan musuh alami dapat diterapakan tanpa harus memperhatikan kondisi lingkungan sawah atau stadia pertanaman padi, dan merupakan cara termudah adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain. (Dari berbagai sumber) Penulis: Kiswanto dan Fauziah YA