PENDAHULUAN Benih unggul bermutu merupakan salah satu teknologi yang berperan penting dalam peningkatan kuantitas dan kualitas produksi pertanian. Untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi tersebut, permasalahan yang sering dihadapi salah satu diantaranya adalah penyediaan benih yang bermutu/berkualitas sering tidak tersedia di lapangan. Penyelenggaraan produksi benih merupakan upaya untuk mendapatkan benih yang bersertifikat agar viabilitas, kemurnian genetik dan kemurnian fisik benih memenuhi syarat. Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi berupa varietas padi uggul merupakan salah satu teknologi yang utama dan disarankan sebagai benih bermutu, karena (1) akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar banyak, (2) merupakan benih baik yang akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dan benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi (Suryana, 2007). Salah satu syarat dari benih bermutu adalah memiliki tingkat kemurnian genetik yang tinggi, oleh karena itu Roguing perlu dilakukan dengan benar dan dimulai mulai fase vegetatif sampai akhir pertanaman (Heryanto, 2013). Roguing dilakukan untuk membuang rumpun-rumpun tanaman yang ciri-ciri morfologisnya menyimpang dari ciri-ciri varietas tanaman yang diproduksi benihnya. Roguing adalah membuang tipe simpang, campuran varietas lain, dan membuang tanaman lain. Tanaman yang terinfeksi oleh stemborer atau penyakit tanaman lainnya seperti tungro juga harus dibuang. Roguing biasanya dilakukan sebelum tanaman diperiksa oleh BPSB (Wirawan dan Wahyuni, 2002). TAHAPAN ROGUING Dalam Produksi benih ada 7 tahapan yang perlu diperhatikan yaitu mulai dari penyiapan lahan dan benih, penanaman, pemeliharaan, Roguing/seleksi tanaman, Pemanenan, Pengolahan Benih serta Penyimpanan Benih. Roguing dilakukan pada beberapa tahap yaitu: Stadia Vegetatif awal (35-45 HST); b). Stadia vegetatif akhir/ anakan maksimum ( 50-60 HST) Dengan memperhatikan Jumlah tunas Panjang dan lebar daun Sudut pelekatan daun Warna daun; c). Stadia generatif awal/ berbunga (85-90 HST). Tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain; d).Stadia generatif akhir/masak (100-115 HST). Tanaman/rumpun yang tipe tumbuhnya menyimpang dari sebagian besar rumpun-rumpun lain. Kegiatan produksi benih sumber dilakukan pada kegiatan perbanyakan benih sumber VUB padi melalui kerjasama dengan petani penangkar. Tahap Roguing memiliki beragam versi yang berbeda, menurut Heryanto (2013),Purwoko, dkk., (2007) dan (Ishaq, 2009)., Roguing dilakukan sebanyak 4 tahap yaitu; (a) Stadia Vegetatif Awal (35-45 HST); (b) Stadia Vegetatif akhir/anakan maksimum (50-60 HST); (c) Stadia Generatif awal/berbunga (85-90 HST); dan (d) Stadia generatif akhir/masak (100-115 HST). Menurut Wirawan dan Wahyuni (2002), Roguing dilaksanakan sebanyak 3 kali yaitu (a) pada fase vegetatif (umur 30 hari); (b) pada fase berbunga (lebih kurang 50-60 hst); (c) Saat menjelang panen atau 80 % malai telah kuning (± 100 hst). Pelaksanaan Roguing yang dilakukan di PT. Sang Hyang Seri dilakukan 3 tahap dan atau 2 tahap. PelaksanaanRoguing 2 tahap dilakukan oleh PT. Sang Hyang Seri atas dasar % varietas lain yang terdapat dilapang tidak terlalu tinggi dan pelaksanaan Roguing jika tetap dilakukan akan menambah biaya operasional. Pelaksanaan Roguing secara 2 tahap yaitu pada vase vegetatif dan generatif saja. PENGAMATAN TANAMAN PADA ROGUING. Sifat-sifat fisik tanaman padi yang diamati pada saat roguing meliputi Tipe pertumbuhan, Kehalusan daun, Warna helai daun, Warna lidah daun, Warna tepi daun, Warna pangkal batang, Bentuk/tipe malai, Bentuk gabah, Bulu pada ujung gabah, Warna ujung gabah, Warna gabah. Stadia vegetatif awal (35-45 HST) Tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan tipe pertunasan awal berbeda/menyimpang bentuk dan ukuran daun,warna kaki dan pelepahnya menyimpang dari sebagian besar rumpun yang lain Tinggi tanaman mencolok dengan dari rumpun yang lain. Stadia vegetatif akhir (50-60 HST) Tanaman yang tumbuh di luar jalur/barisan tipe pertunasan berbeda/menyimpang bentuk dan ukuran daun,warna kaki dan pelepahnya menyimpang dari sebagian besar rumpun yang lain Tinggi tanaman mencolok dengan dari rumpun yang lain. Stadia Berbunga/generatif awal(85-90HST) tanaman /rumpun tipe tumbuhnya menyimpang dari se-bagian besar rumpun yang lain Tanaman yang bentuk dan ukuran daun bendera berbeda dengan sebagian besar rumpun yang lain Tanaman yang berbunga terlalu cepat atau terlalu lambat dari sebagian besar rumpun yang lain. Stadia Masak fisiologis/generatif akhir(>100HST) Tanaman /rumpun yang malainya terlalu cepat matang. Tanaman yang memiliki eksersi malai yang berbeda berbeda bentuk, ukuran, warna gabah dan ujung gabah ( rambut/tidak berambut) Bahan bacaan: dari berbagai sumber Penyusun: Fauziah Yulia Adriyani (Penyuluh Madya di BPSIP Lampung)