Loading...

SEMAI PADI SISTIM DAPOG BAGI WANITA TANI PERBATASAN MALAYSIA

SEMAI PADI SISTIM DAPOG BAGI WANITA TANI PERBATASAN MALAYSIA
Wanita tani di perbatasan antara Kalimantan Barat dan Malaysia adalah tenaga kerja utama pada sistim budidaya padi baik pada agro-ekosistem lahan pasang surut maupun tadah hujan. Pekerjaan utama mereka antara lain adalah mempersiapkan persemaian, mencabut bibit padi, menanam, memupuk, menyiang, dan memanen. Saat mendampingi mereka pada Gelar Teknologi Sistim Jajar Legowo Super seluas 100 hektar di wilayah perbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malaysia terlihat bahwa kegiatan mencabut bibit padi didominasi oleh tenaga kerja wanita. Pencabutan bibit padi untuk lahan sawah seluas 1 hektar biasa dilakukan oleh 10 orang tenaga kerja wanita tani. Mereka diberi upah sekitar Rp.60.000 per hari untuk tugas mencabut bibit padi. Dari rumah mereka umumnya sudah berbekal kursi kayu yang disebut dingklik untuk tempat duduk ketika mencabut bibit. Bibit yang sudah dicabut diikat lalu diletakkan di tempat berair agar tetap segar untuk ditanam esok harinya. Oleh petani kegiatan ini dinilai merepotkan sekaligus memerlukan biaya tidak sedikit. Mata para wanita tani ini berbinar ketika penyuluh BPTP Kalimantan Barat menawarkan inovasi teknologi persemaian padi sistim dapog. Mereka belum pernah mendengar cara menyemai padi yang dapat dilakukan di halaman rumah. Para wanita tani bahkan tidak percaya bahwa bibit padinya dapat dilipat seperti karpet. Setelah praktek barulah para wanita tani ini sadar bahwa inovasi teknologi persemaian padi sistim dapog ini cocok untuk membantu meringankan wanita tani pada kegiatan persemaian dan pencabutan bibit padi. Bu Sagi yang menjadi ketua rombongan wanita tani beranggotakan 10 orang dengan tugas mencabut dan menanam bibit padi mengungkapkan kegembiraannya. "Kenapa ya BPTP baru sekarang mengajari kita semai sistim dapog?" kata bu Sagi. Semai sistim dapog yang dimaksud adalah semai sistim basah yang oleh IRRI disebut modified nursery mat yang tidak menggunakan dapog tetapi dimodifikasi dengan kerangka dari kayu rengseng dengan ukuran sesuai keperluan. Karena para petani belum memiliki alat tanam maka ukurannya dibuat sesuai ukuran kayu agar tidak banyak yang dibuang misalnya 116x360 cm. Menurut para wanita tani menyemai benih padi sistim dapog memiliki berbagai kelebihan dan mudah diadopsi petani. Yang terpenting adalah caranya mudah dilakukan petani. Pertama, petani hanya perlu membuat bingkai dapog bentuk segi empat dari bahan kayu rengseng. Ukurannya bisa 116x360 cm. Bagian tengah bingkai dapog dibuat sekat sehingga dapok terbagi 2 ukuran 58x360 cm. Dengan ukuran ini dapat dihasilkan semaian dapok ukuran 18x58 cm sesuai ukuran dapog standard sebanyak 40 buah. Bingkai dapog dialasi dengan lembaran plastic dan kertas koran, terpal, atau bahan lain agar akar tidak masuk ke dalam tanah dan bibit mudah diangkat. Bingkai kayu pengganti dapog ini diisi dengan tanah dicampur pupuk organic dan sekam dengan perbandingan 3:2:1. Ketiga bahan ini dicampur secara merata seperti membuat adukan semen. Tanahnya berasal dari lumpur di sawah. Pupuk organik untuk membantu bibit padi tumbuh subur. Sekam padi dimaksudkan untuk memudahkan tanah gembur dan bibit mudah dipisahkan. Campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam padi dihamparkan di atas bingkai dapog setebal 2 cm sambil diratakan. Tebarkan benih padi yang sudah direndam dan diberi perlakuan benih misalnya perlakuan fungisida untuk mengindari penyakit blast dan aplikasi pupuk hayati Agrimeth guna mempercepat pertumbuhan tanaman. Tutup semaian dengan terpal atau plastic setinggi 5 cm dari permukaan media semai untuk menghindari serangan burung pipit. Setelah 5 hari semaian dibuka. Biasanya semaian ini dijemur dari umur 7-13 hari agar tidak mudah patah. Jika lokasinya banyak keong mas dapat digunakan bibit padi umur 18-21 hari baru dipindah tanam. Menurut mereka inovasi semai sistim dapog yang sudah dimodifikasi ini menjadi inovasi yang paling mudah diadopsi selain penggunaan varietas unggul baru. Bu Sagi selaku wanita tani yang menjadi pelaku utama dalam kegiatan persemaian dan penanaman padi sangat yakin dengan hal ini. Pertama, biaya persemaian padi sistim basah yang merupakan modifikasi sistim dapog ini murah dan terjangkau petani. Modalnya hanya kayu rengseng, lembaran plastic untuk alas persemaian, tanah, pupuk organic, dan benih padi. Jadi penerapan inovasi teknologinya terjangkau oleh petani. Kedua, para wanita tani tinggal memotong persemaian dapok sesuai ukuran yang diinginkan tanpa harus mencabut bibit padi seperti pada sistim persemaian tradisional. Ketiga, setelah bibit dipotong lalu digulung seperti karpet sehingga memudahkan membawa bibit padi ke tempat para petani menanam padi. Keempat, bibit padi yang disemai dengan sistim ini terlihat tidak stress karena akarnya tidak banyak terganggu terutama tidak dipotong oleh petani dan media semai yang mengandung berbagai mikroba dari pupuk hayati Agrimeth ikut terbawa ke sawah. (Penulis : Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc, BPTP Kalimantan Barat) Sumber: Hasil pendampingan transfer teknologi dalam rangka Gelar Teknologi Jajar Legowo Super untuk mendukung Hari Pangan Sedunia ke-37 tahun 2017 di Desa Tunggal Bhakti, Sanggau, Kalimantan Barat, hasil kerjasama antara BPTP Kalimantan Barat dengan SMARTD-Badan Litbang Pertanian