Provinsi Lampung dikenal dengan oleh-oleh khas yang berupa kripik pisang dengan berbagai aneka rasa. Kripik pisang aneka rasa sudah terkenal seperti rasa coklat, keju, sapi panggang, melon, jagung bakar. Tidak heran jika Tanaman pisang memang salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan di Lampung.Pengolahan pascapanen pisang menjadi kripik menghasilkan limbah padat berupa kulit pisang yang melimpah. Tentu saja limbah itu membawa dampak pada pencemaran lingkungan.BPTP Lampung menawarkan solusi untuk mengatasi limbah kulit pisang tersebut, yaitu melalui pembuatan silase kulit pisang. Hal ini sekaligus menjawab kebutuhan pakan bagi ternak sapi potong yang juga banyak dipelihara masyarakat Lampung. Menurut Disnakkeswan, pada tahun 2014 tercatat populasi sapi potong di Lampung sebanyak 723.394 ekor.Potensi pakan silase kulit pisang ini dapat menjadi salah satu alternatif sumber karbohidrat yang baik bagi semua fase kehidupan ternak. Analisis proksimat oleh BPTP Lampung menunjukkan kandungan bahan kering (BK) sekitar 20%, protein kasar (PK) sekitar 7%, lemak kasar sekitar 13% dan serat kasar (SK) sekitar 11%.Proses pembuatan silase ini memang tidak hanya memanfaatkan keberlimpahan limbah kulit pisang, akan tetapi juga dengan penambahan beberapa bahan aditif, seperti tetes, urea, tepung tapioka atau dedak padi.Tujuan penambahan bahan aditif ini antara lain untuk mempercepat pembentukan asam laktat dan asam asetat dan untuk mempercepat penurunan pH agar tidak terjadi fermentasi berlebihan, serta sebagai suplemen zat gizi dalam pakan ternak.Cara pembuatan silase kulit pisang pun sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh masyarakat awam. Berikut cara membuat silase kulit pisang.1. Kulit pisang segar (kadar air 60-70%) setelah dipanen ditimbang sesuai dengan kebutuhan, kemudian dipotong-potong dengan ukuran sekitar 3 “ 5 cm. Pemotongan dan pencacahan perlu dilakukan agar mudah dimasukkan dalam silo (tempat penyimpanan pakan). Hal ini bertujuan untukn mengurangi terperangkapnya ruang udara di dalam silo serta memudahkan pemadatan.2. Bahan yang sudah siap dibuat silase diberi imbuhan bahan aditif berupa urea/molases/tepung tapioka/dedak padi, kemudian dicampur secara merata.3. Bahan tersebut dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik (poly ethylene) yang tebal dan ditutup rapat; perlu dinjak-injak hingga betul-betul padat dan dicapai kondisi an-aerob, secara bertahap, lapis demi lapis. 4. Biarkan silo tertutup rapat serta diletakkan pada ruang yang tidak terkena matahari atau kena hujan secara langsung, selama tiga minggu (21 hari).5. setelah 21 hari, Proses silase berjalan baik ditandai dengan tidak adanya jamur dan baunya asam, maka penyimpanan dapat diteruskan sampai waktu diperlukan lagi. Guna menjaga kestabilan kualitas gizi silase selama penyimpanan, maka selama penyimpanan tetap harus diupayakan sedikit mungkin udara luar (O2) masuk ke dalam kantung plastik.Peneliti BPTP Lampung, Reny Debora Tambunan, S.Pt, M.Sc juga menyampaikan bahwa pembuatan silase kulit pisang dengan penambahan urea 5% menghasilkan kandungan protein kasar (PK) tertinggi sekitar 7,26 % disbanding perlakuan lainnya, Dimana kandungan bahan kering (BK) sekitar 20,36 %, lemak kasar sekitar 12,92 % dan serat kasar (SK) sekitar 10,62%. Dengan teknologi yang dikaji BPTP ini permasalahan limbah kulit pisang beruba menjadi lebih pakan ternak yang menguntungkan. Penyusun : Reni Debora Tambunan, Suryani, Gohan O.M., Ely N. BPTP Lampung