Data merupakan sekumpulan informasi yang terorganisir dan dapat dianalisis untuk digunakan dalam pengambilan keputusan. Data mempunyai fungsi penting dalam pengolahan informasi sebagai komponen dasar dalam pengambilan keputusan, khususnya dalam penentuan arah kebijakan dan skala prioritas. Data dan informasi sangat penting dalam proses pengambilan keputusan yang strategis. Pengambilan, pengolahan dan analisis data yang tepat menjadi sangat penting untuk mendapatkan data yang akurat. Data statistik mengenai luas baku sawah dan produksi padi dari berbagai lembaga pemerintah belum satu data karena perbedaan metode dan cara analisis analisis. Hal ini menyulitkan bagi pemerintah dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, kebijakan Pemerintah dalam tata kelola data melalui Perpres No. 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, ditujukan untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan digunakan antar instansi, baik pusat maupun daerah. Langkah perbaikan dalam perhitungan luas panen, produksi dan produktivitas padi terus dilakukan agar didapatkan data yang semakin akurat. Perhitungan data produksi padi yang dilakukan oleh BPS saat ini menggunakan metode pengukuran Kerangka Sampel Area (KSA). Penggunaan metode KSA mulai digunakan tahun 2018 menggantikan metode pengukuran mata (eye estimate) yang bersifat subjektif. Tujuan penggunaan KSA adalah untuk memperoleh data yang lebih objektif, akurat, cepat, dan modern. KSA merupakan survei berbasis area yang dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap sampel segmen untuk mengestimasi luasan dengan ekstrapolasi dari sampel ke populasi dalam periode yang relatif pendek (rapid estimate). Metode KSA dikembangkan oleh BPPT sejak tahun 1998, digunakan untuk menghitung estimasi produksi padi terkini dan potensi 3 bulan ke depan dengan menggunakan statistik spasial. Menurut BPS, metode KSA yang dikembangkan bersama Kementerian ATR/BPN masih dianggap sebagai metode terbaik dalam perhitungan data produksi padi. Badan Litbang Pertanian, yang saat ini sudah bertransformasi ke Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Kementerian Pertanian (Berdasarkan Perpres Nomor 117 Tahun 2022 tanggal 21 September 2022), menhyatakan bahwa SISCrop 1.0 telah dirilis tahun 2020 melalui kerja sama dengan LAPAN, Kementerian Lembaga dan Perguruan Tinggi, namun mempunyai kelemahan yaitu hanya menyediakan informasi fase pertumbuhan tanaman (standing crop) dan tidak dapat menembus awan karena berbasis optik. Oleh karena itu SISCrop 1.0 terus dievaluasi untuk dilakukan perbaikan terhadap kelemahan yang dimiliki. Pada tahun 2021, Kementerian Pertanian kembali merilis SISCrop 2.0, yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari SISCrop 1.0. Menurut Kepala BSIP, Kementerian Pertanian, SISCrop 2.0 memanfaatkan data citra satelit Sentinel-1, berfungsi untuk memonitor lahan pertanian, kondisi tanaman padi secara lebih akurat karena sudah berbasis satelit radar. Keunggulan SISCrop 2.0 dapat memonitor, fase pertumbuhan padi, luas tanam, luas panen, produktivitas, dan indeks pertanaman secara real time untuk seluruh wilayah Indonesia. Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (saat ini telah berubah nama menjadi Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Sumber Daya Lahan Pertanian/BBPSI SDLP), menyatakan bahwa teknologi ini merupakan terobosan berbasis satelit radar yang menghasilkan pertanian presisi, yang dapat memberikan informasi mengenai estimasi luas tanam, luas panen, produktivitas, dan produksi padi nasional. SISCrop 2.0 divsualisasikan melalui peta interaktif secara spasial, data numerik berbentuk tabular dan grafik yang diperbarui setiap 15 hari. Selain itu, SISCrop 2.0 dapat diakses melalui web browser dan akan terus dikembangkan melalui mobile application. Menurut peneliti BBPSI SDLP, informasi produktivitas padi yang dianalisis dari beberapa model spesifik lokasi memiliki simpangan Root Square Mean Error (RSME) sebesar 0,17 – 0,27 ton per hektar dengan keakurasian sekitar 80 persen. Penggunaan citra satellit berbasis radar untuk pengukuran luas panen, produksi dan produktivitas padi merupakan teknologi masa depan. Pengembangan SISCrop 2.0 merupakan bentuk dukungan Kementerian Pertanian terhadap BPS dalam penyempurnaan metode perhitungan data luas panen dengan model KSA BPS, dalam kerangka kebijakan Satu Data Indonesia. Pada SISCrop 2.0 pengukuran produktivitas dilakukan menggunakan radar satelit dengan berdasarkan pada kekasaran dari obyek yang ditangkap, pixel warna yang tertangkap dicatat oleh radar dan diberi nomor digital, yang kemudian akan diterjemahkan menjadi perhitungan produktivitas dengan menggunakan model yang ada. Sedangkan pada KSA perhitungan produktivitas menggunakan metode perhitungan ubinan di lapangan pada lokasi yang sudah ditentukan. Berdasarkan SISCrop 2.0, data standing crop tanaman padi Provinsi Sulawesi Barat pada bulan April 2023, menunjukkan bahwa luas baku sawah (LBS) seluas 39.455,4 ha, luas tutupan air 13.287,8 ha, tanaman fase vegetatif 1 (Veg1) seluas 2.363,1 ha, fase vegetatif 2 (Veg2) seluas 1.336,2 ha, fase generatif 1 (Gen1) seluas 4.033,9 ha, fase generatif 2 (Gen2) seluas 9.516 ha, dan fase bera seluas 6.882,2 ha. Penyusun Ir. Marthen P. Sirappa, M.Si (Penyuluh Pertanian BPSIP Sulawesi Barat) Disadur dari berbagai referensi http://scs1.litbang.pertanian.go.id/home