Loading...

STANDAR BERTANAM JAGUNG

STANDAR BERTANAM JAGUNG
Budidaya jagung menjadi tanaman pangan kedua setelah usaha tani padi. Apa saja upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi dan produktivitas jagung. Pemerintah telah bertekad untuk mencapai swasembada jagung. Komoditas jagung pada saat ini merupakan komoditas andalan, disebabkan ± 50% bahan baku industri pakan ternak berasal dari jagung. Oleh karenanya upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas terus digalakkan baik melalui mutu intensifikasi maupun luas areal intensifikasi antara lain dengan penerapan teknologi peningkatan produksi jagung. SYARAT TUMBUH Syarat tumbuh yang dibutuhkan antara lain tanah dan iklim. Tanah harus yang bertekstur lempung, lempung berdebu dan lempung berpasir, struktur tanah gembur, pH 5,5 – 7,5 dan kemiringan < 8o PERSIAPAN BENIH Benih terdapat dua jenis antara lain untuk dataran rendah dan dataran tinggi. Dataran rendah ada dua macam yang berumur dalam atau tengahan antara lain Arjuna, Kalingga, Wiyasa, Abimanyu, Hibrida, C1, C3, Perikesit, Harapan baru, IPB4, Semar 1, Semar 2, Pioner 5, CPI-2. Yang berumur genjah adalah Perjalin, Gejah Kertas. Sedangkan untuk Dataran Tinggi benih yang berumur dalam antara lain Bastar Kuning, Bima, Pandu dan Harapan. Syarat – syarat mutu benih yang baik : Bebas hama dan penyakit, daya tumbuh minimal 80%, sehat bernas dan mengkilat, murni secara fisik maupun genetik, dan berlabel/bersertifikat. Untuk jagung hibrida menggunakan benih bersertifikat label biru, sedangkan jagung non hibrida menggunakan benih label merah jambu. Kebutuhan benih yang dibutuhkan per hektar tergantung jarak tanam yang digunakan dan jenis benih yang digunakan (benih hibrida atau non hibrida). Jarak tanam yang dianjurkan 75 x 25 cm, 75 x 45 cm dan 75 x 20 cm. Untuk jarak tanam 75 x 25 xm, benih hibrida yang digunakan 20 kg/ha dan benih non hibrida 32 kg/ha. Sedangkan jarak tanam 75 x 45 cm biasanya digunakan untuk penanaman benih hibrida sebanyak 30 – 40 kg/ha. Jarak tanam 75 x 20 cm digunakan untuk penanaman benih non hibrida sebanyak 40 kg/ha. Selain jarak tanam tersebut, ada juga yang menggunakan jarak tanam 100 x 40 cm dengan kebutuhan benih hibrida 22,5 kg/ha. Serta jarak tanam 50 x 20 cm dengan benih non hibrida 60 kg/ha. PENANAMAN Penanaman ialah proses peletakan benih dibentuk anakan kedalam lubang tanam yang telah disediakan. Penanaman ini disesuaikan dengan jarak tanam yang bertujuan supaya benih bisa tumbuh dengan optimal,sama dan tak adanya kompetisi dalam penyerapan unsur hara serata cahaya matahari. Cara bercocok tanam ada beberapa macam antara lain : Pengolahan sempurna; Tanah dibajak/dicangkul 2 kali sedalam15 – 20 cm, gulma dan sisa tanaman dibenamkan, tanah digaru sampai rata. Waktu pengolahan tanah minimal 1 minggu sebelum tanam. Minimum Tillage; Tanah yang sangat peka erosi (bertekstur ringan) diperlukan usaha konservasi tanah seperti penggunaan mulsa dan sedikit mungkin dilakukan pengolahan tanah. Bila waktu tanam mendesak pengolahan tanah hanya pada barisan tanaman saja selebar 60 cm dengan kedalaman 15 – 20 cm. Tanpa pengolahan tanah; dilakukan pada lahan sawah yang tanahnya ringan. Tanah dicangkul untuk lubang tanaman. Perlu mulsa untuk mengatasi erosi dan menekan gulma. Cara bertanam adalah jumlah benih 2 -3 biji/lubang sedalam 3 – 5 cm, untuk benih non hibrida, sedangkan benih hibrida 1 biji/lubang dengan jarak tanam 75 x 25 cm. PEMELIHARAAN Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pertama antara lain: Penyulaman yang dilakukan sampai umur satu minggu setelah tanam. Penjarangan pada umur 2 – 3 minggu sesuai dengan populasi yang dianjurkan. Pemupukan; ada 2 jenis pupuk yang diberikan Pupuk alam; pupuk kandang,kompos atau pupuk hijau 15 – 20 ton/ha diberikan seluruhnya pada Waktu pengolahan tanah Pupuk buatan; Dosis pupuk disesuaikan dengan rekomendasi setempat atau secara umum dapat diberikan : Hibrida : Urea 250 – 350 kg/ha, TSP 100 – 150 kg/ha, KCl 50 – 75 kg/ha dan ZA 0 – 100 kg/ha.itu Sebagai pupuk dasar yaitu 1/3 Urea, seluruh ZA, TSP dan KCl diberikan pada saat penanaman Sebagai pupuk susulan adalah 2/3 Urea, diberikan pada saat ± 30 hari setelah tanam Penggunaan PPC/ZPT; Pupuk Pelengkap Cair (PPC) dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) yang telah dianjurkan penggunaannya untuk tanaman jagung adalah Fosto N, Gemari, IKA, Metalik, Sitozim, Liftonik dan Tress. Pengendalian hama/penyakit; bila ada serangan hama/penyakit di atas ambang ekonomi disemprotkan pestisida dengan dosis yang telah dianjurkan. Pengairan; Tanaman jagung membutuhkan pengairan yang cukup untuk pertumbuhan dan memberikan hasil produksi yang baik. Pengairan diperlukan terutama pada saat pertumbuhan vegetatif, pembuangan dan pengisian biji. Pembuatan drainase untuk mengatasi adanya genangan air. PANEN Tanaman jagung dapat panen, apabila sudah mencapai masak optimal, hal itu tergantung dengan varietas dan ketinggian tempat. Tanda-tanda jagung siap untuk dipanen adalah apabila klobotnya berwarna coklat muda dan kering, bijinya mengkilat. Perlakuan untuk benih adalah setelah dikupas tongkol diseleksi, dikeringkan sampai kadar air 18%, lalu dipilih dan dikeringkan lagi sampai kadar air mencapai 12%. Pengeringan dapat berupa tongkol berklobot atau tongkol kupasan dan pipilan sampai kadar air mencapai 12 – 14%.