Daun Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) mengandung steviosida yang mempunyai tingkat kemanisan 200-300 kali lebih tinggi dari sukrosa. Stevia bersifat alami, tanpa kalori, dan memiliki indek glikemik sangat rendah sehingga dapat menggantikan pemanis sintetis dan sesuai bagi penderita diabetes dan obesitas. Pengembangan stevia juga dapat membantu program swasembada gula, disamping menyediakan pemanis alami yang sehat (Sumaryono dan Masna Maya Sinta, 2015)Tanaman stevia dapat tumbuh dengan baik di Indonesia pada dataran tinggi, > 800 m dpl, dengan curah hujan 1.500-3.000 mm/tahun, suhu udara 20-250C, kelembaban 60-90%, dan periode penyinaran matahari sekitar 12 jam per hari . Melihat taksonomi dan morfologi tanaman ini, dapat dikatakan sangat cocok dikembangkan di Indonesia, seperti di Sulawesi Utara tanaman ini dapat tumbuh baik (Arnold C.Turang,SP. dan Janse Tutu SPd, 2015)Stevia termasuk tanaman perdu yang berasal dari Paraguay, Amerika Selatan yang telah digunakan sebagai pemanis minuman teh dan obat-obatan sejak ratusan tahun yang lalu. Peneliti botani Dr. M.S. Bertoni "menemukan kembali" tanaman stevia pada tahun 1888 dan kemudian tahun 1905 diberi namaStevia rebaudiana sebagai penghormatan kepada ahli kimia Paraguay Dr. Rebaudi.Kemudian Stevia dibawa ke berbagai negara terutama di Eropa dan berhasil ditanam di daerah lintang Utara. Namun pengembangannya sangat lambat, karena gula tebu pada saat itu tersedia melimpah. Perhatian mulai menigkat sejak 1970-an, ketika pemanis kimia sintetis seperti siklamat, sakarin dan aspartam mulai dilarang penggunaannya. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dengan kembali kebahan alami.Momentum penting berikutnya adalah ketika rebaudiosida A, salah satu senyawa dalam gula Stevia diberi status GRAS (generally recognized as safe ) yakni aman untuk makanan dan minuman oleh US FDA pada tahun 2008 dan oleh Uni Eropa pada tahun 2011.Sejak saat intu, permintaan gula stevia di dunia mencapai 3.500 ton dengan nilai USD 285 juta. Pada tahun 2004, permintaanya diperkirakan mencapai 11.000 ton sehingga diperlukan tiga kali lipat produksi daun stevia untuk memenuhi kebutuhan tersebut (Sumaryono dan Masna Maya Sinta, 2015) .Di Indonesia Stevia sangat prospek dan sudah pernah di kembangkan di tahun 1980 sampai 1990. Tanaman ini berkembang lagi saat ini seperti di : Bogor, Cianjur, Sukabumi dan Garut, Kranganyer, Segoro Gunung, Tawangmangun. Dalam 1 ha lahan dapat ditanami 120.000 tanaman ((Arnold C.Turang,SP. dan Janse Tutu SPd, 2015).Disusun : Ely Novrianty dan Gohan Octora Manurung (BPTP Lampung)Sumber : Sumaryono dan Masna Maya Sinta. 2015. Stevia, Tanaman Pemanis Alami Nan Sehat. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Volume 37 Nomor 1. Arnold C.Turang,SP. dan Janse Tutu SPd. 2015. Jadikan Stevia sebagai Komoditas Unggulan. http://www.sulut.litbang.pertanian.go.id. Diakses pada 9 Februari 2016