Loading...

Sukses Panen Padi, Nurdin Kondong Diusul Jadi Petani Berprestasi di Kabupaten Pinrang, Sulsel

Sukses Panen Padi, Nurdin Kondong Diusul Jadi Petani Berprestasi di Kabupaten Pinrang, Sulsel
Sukses Panen Padi, Nurdin Kondong Diusul Jadi Petani Berprestasi Ketua kelompoktani Mattunru-Tunrue kelurahan Macinnae kecamatan Paleteang Pinrang Nurdin Kondong tahun ini diusul oleh tim penilai petani berprestasi dari Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Pinrang ke tingkat propinsi. Dari tiga petani yang dikirim ke Bakorluh propinsi Sulsel beberapa waktu lalu Nurdin Kondong menempati posisi teratas untuk diperlombakan dengan petani dari kabupaten lain di Sulsel. Dipilihnya Nurdin Kondong mewakili petani padi dari Pinrang untuk diusul meraih predikat terbaik nasional karena keberhasilannya meningkatkan produksi padi melebihi yang ditargetkan oleh peneliti dari Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi Jawa barat. "Jarang ada petani memiliki kemampuan untuk jalin kerjasama dengan peneliti dalam rangka meningkatkan produksi pertanian sehingga Nurdin Kondong sangat tepat untuk diberi kesempatan mengikuti perlombaan petani berprestasi tingkat nasional tahun ini," kata Ir. Ahmad Said salah seorang tim penilai dari BP4K Pinrang. Pada musim tanam April-September 2011 lalu BB-Padi Sukamandi menjalin kerjasama dengan kelompoktani Mattunru-tunrue kelurahan Macinnae kecamatan Paleteang untuk melakukan demonstrasi plot (demplot) varietas unggul padi hibrida dengan teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Dari demplot tersebut diujicoba beberapa varietas unggul bermutu di antaranya varietas Maro, Hipa 10, Hipa 11, Inpari 6, Inpari 13, Ciherang, dan Mapan P05. Dari semua varietas yang dicoba di lahan sawah milik Nurdin Kondong sebagian besar produksinya melebihi dari potensi hasil yang ditargetkan oleh peneliti. Kerjasama peneliti dengan kelompoktani Mattunru-tunrue sudah berjalan sejak 2010 silam. Pada awalnya peneliti dari BPTP Sulsel melakukan ujicoba adaftasi varietas inpari 1, Inpari 3 dan Inpari 9. Dengan benih unggul bermutu tersebut sebanyak 1 kg ditanam di lahan sawah Nurdin setelah panen bisa menghasilkan 4-5 karung atau sekitar 500 kg. Pada ujicoba 5 kg benih varietas inpari 8 hasil panen mencapai 15 karung atau sekitar 1,5 ton. "Dari keberhasilan ini tersebar sampai ke lembaga penelitian padi yang ada di Bogor dan Sukamandi maka datanglah tim dari BB Padi Sukamandi Dr. Satoto, dkk melakukan demplot yang dipanen pada musim tanam lalu," kata Nurdin Kondong. Demplot di lokasi kelompok tani Mattunru-tunrue yang dikawal peneliti dari BB-Padi Sukamandi salah satu dari empat titik demplot di Indonesia paling memuaskan hasilnya bila dibanding demplot yang ada di Jawa timur, Jawa tengah dan Jawa barat. Ketua kelompoktani Mattunru-tunrue Nurdin Kondong menjelaskan ujicoba varietas Inpari 3 yang ditargetkan panen 7 ton gabah/ha namun realisasinya bisa mencapai 14 ton/ha. Demikian juga varietas Mapan 05 ditarget 8 ton terealisasi 12 ton/ha, Inpari 9 ditarget 9 ton/ha terealisasi panen ubinan mencapai 13 ton/ha. Meningkatnya hasil panen tersebut kata Nurdin Kondong karena semua komponen teknologi PTT padi yang dikawal peneliti dan penyuluh pertanian diterapkan dengan sempurna. Komponen teknologi tersebut kata Nurdin Kondong antara lain penggunaan benih unggul bermutu, penanaman tepat waktu dengan populasi optimal dengan cara jajar legowo 2:1 dan legowo 4:1, pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah, pengairan yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, melakukan perlindungan tanaman dengan prinsip dan strategi pengendalian hama terpadu, panen dan pascapanen sesuai dengan umur padi dan cara panen yang tepat Dikatakan Nurdin sebelum kerjasama dengan peneliti, petani di daerah itu hanya menanam padi varietas ciliwung secara turun temurun dengan hasil sekitar 6-7 ton/ha. Setelah ketua kelompoktani Mattunru-tunrue itu membuktikan kebenaran teknologi PTT maka petani di sekitarnya akan mengikuti petunjuk teknis dari penyuluh dan peneliti padi dari Bogor. "Awalnya petani di kelompok ini tidak percaya dengan teknologi jajar legowo, disangkanya mengurangi produksi tapi setelah melihat hasilnya baru mereka percaya," jelas Nurdin Kondong. Selain komponen teknologi PTT tadi, Nurdin juga melakukan ujicoba produksi beras tanpa menggunakan pupuk dan pestisida sintetis. Pada musim tanam lalu ia mencoba menanam padi varietas inpari 8 dengan system tanam jajar legowo 4:1 dengan perlakuan pupuk cair organik tanpa pestisida. Pemupukan pertama ketika tanaman padi berumur 15 hari sesudah tanam sebanyak 1 liter dengan cara disemprotkan. Pemupukan selanjutnya setiap 7-10 hari hingga habis 6 botol jelang panen. Dari hasil ujicoba itu mampu menghasilkan gabah kering panen sebanyak 10 ton/ha. Namun yang menjadi persoalan kata Nurdin, beras yang dihasilkan tanpa pupuk kimia tersebut belum memiliki legalitas beras sehat sehingga harga pasarannya sama dengan beras yang diproduksi secara konvensional. (Abdul Salam Atjo)