Sebagai salah satu wilayah yang dapat diandalkan menjadi penyangga peningkatan pembangunan peternakan, maka Provinsi Bengkulu dengan kondisi wilayah dan agrosistemnya dapat dikategorikan sebagai salah satu daerah berpotensi dalam pengembangan ternak penghasil daging. Terutama ternak sapi potong, sebagai penyuplai utama akan ketersediaan sumber pangan asal daging hewani. Sampai saat ini ketersediaan daging sapi masih dirasakan belum mencukupi akan kebutuhan konsumsi daging masyarakat. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan konsumsi daging itu sendiri, Indonesia masih harus mengimpor daging dari beberapa negara penghgasil daging sapi. Untuk antispasi kondisi dan ketergantungan akan daging impor, kita perlu mendorong pengembangan peternakan menuju swasembada daging sapi sebagai sumber pangan asal hewani utama. Untuk mencapai hal tersebut, maka melalui optimalisasi percepatan peningkatan produksi dan populasi penggemukan sapi potong yang dipelihara masyarakat, perlu didukung dengan kecukupan asupan pakan dan nutrisi yang dibutuhkan ternak sapi dalam memproduksi daging. Pakan utama ternak sapi adalah hijauan, namun untuk dapat meningkatkan produktivitasnya perlu disuplai dengan pakan tambahan sebagai upaya pemenuhan akan kecukupan asupan nutrisi memproduksi daging. Ketersediaan pakan tambahan ini dapat disuplai dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya lokal yang ada dan sesuai dengan potensi daerah disekeliling kita. Seperti halnya pada daearah sentra kopi, dengan memanfaatkan limbah kulit buah kopi yang dapat diolah sebagai sumber pakan konsentrat bagi penggemukan sapi potrong. Selama ini limbah kulit buah kopi belum dimanfaatkan oleh masyarakat sentra perkebunan kopi yang jumlahnya mencapai 40 - 50% dari hasil panen setelah biji kopi diambil, umumnya terbuang dan ditumpuk disekitar lokasi penggilingan atau pemukiman dan dibakar begitu saja yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan. Apalagi untuk diberikan kepada ternak sapi untuk dijadikan sumber pakan, sama sekali belum diupayakan peternak di daerah sentra kopi. Hal ini disebabkan kulit kopi yang masih segar memiliki beberapa kelemahan dan terutama kandungam proteinnya relatif rendah yang hanya berkisar antara 6,11“7,9%. Oleh karena itu untuk pengoptimalan pemanfa'atannya, diperlukan teknologi biofermentasi yang berperan dalam proses pemecahan senyawa organik kompleks menjadi senyawa sederhana melibatkan mikroorganisme dengan sasaran dapat meningkatkan nilai nutrisi kulit kopi, sehingga daya cernanya menjadi lebih efisien dan akhirnya dapat diberdayakan untuk pakan ternak sapi. Dengan penerapan tekonlogi biofermentasi pada limbah kulit kopi, maka kualitas dan pemanfaatan kulit kopi dapat ditingkatkan sebagai salah satu sumber utama suplai pakan bagi ternak sapi disamping pemberian hijauan. Sehingga perlu dilakukan pengkajian agar pemanfaatannya menjadi optimal, sekaligus akan berdampak pada potensi pengembangan peternakan sapi potong dengan dukungan sumber pakan berbasis sumberdaya lokal. Hasil kajian yang dilakukan selama 2 bulan pada daerah sentra kopi di Bengkulu terhadap 10 ekor sapi Bali jantan umur 2 - 3 tahun, diberi pakan tambahan (1% dari berat badan sapi) berupa konsentrat dari hasil fermentasi limbah kulit kopi bersama dedak padi (komposisi 60 : 40%) dengan kandungan protein kasar menjadi 11,31% (analisis proksimat Laboratorium Pakan Balitnak Ciawi). Mampu memberikan pertambahan berat badan harian (PBBH) sapi Bali sampai mencapai rata-rata 0,604 kg/ekor/hari., jauh lebih baik dibanding hanya diberi hijauan (PBBH 0,339 kg/ekor/hr) atau terjadi peningkatan produksi daging sebesar 0,265 kg/ekor/hrDengan demikian limbah kulit kopi, berpotensi besar dioptimalkan sebagai sumber bahan pakan bermutu bagi ternak sapi potong di derah sentra kopi. Terbukti setelah melalui sentuhan teknologi biofermentasi, telah dapat mengoptimalkan limbah kulit kopi sebagai pakan ternak yang dapat meningkatkan suplai ketersediaan daging menyongsong percepatan Indonesia menuju swasembada pangan asal daging sapi. (Ruswendi)