Loading...

SUSUT UMBI BAWANG MERAH VARIETAS LOKAL BALI

SUSUT UMBI BAWANG MERAH VARIETAS LOKAL BALI
Bawang merah mempunyai sifat yang mudah rusak dan tidak tahan lama setelah dipanen. Kerusakan pascapanen yang sering terjadi pada bawang merah adalah tumbuhnya tunas, pelunakan umbi, tumbuhnya akar dan busuk serta timbulnya massa berwarna gelap akibat kapang. Kerusakan lainnya adalah penampilan, warna, rasa dan tekstur yang rusak akibat pembusukan yang disebabkan oleh mikroorganisme, enzim, lalat dan lainnya. Oleh karena itu penanganan pascapanen sangat diperlukan. Salah satu penanganan pascapanen yang perludilakukan adalah pengeringan melalui penjemuran.Penjemuran umbi bawang merah dimaksudkan untuk menghilangkan air yang terkandung dalam kulit luar dan leher batang (bagian ujung umbi) supaya kering sedemikian rupa sehingga tidak menarik air keluar dari bagian dalam umbi itu sendiri. Sehingga tidak terjadi pembusukan serta banyaknya kehilangan bobot. Dengan demikian umbi bawang merah tidak akan mengerut (keropos) serta sedikit sekali kemungkinan akan terserang penyakit busuk umbi selama penyimpanan. Umbi bawang merah demikian dapat disimpan lama. Bagi para tengkulak, pengeringan bawang merah hasil pembelian dari petani supaya tidak terjadi pembusukan ketika dibawa keluar kota untuk mendapatkan harga yang lebih tinggi dan menguntungkan. Selain itu pengeringan bawang merah merupakan syarat mutlak sebagai cara membuatan bibit bawang merah.Pengeringan tradisional dilakukan dengan menjemur umbi bawang merah yang telah diikat di bawah sinar matahari pada alas anyaman bambu (gedeg). Biasanya penjemuran ini berjalan antara 1-2 minggu bergantung keadaan cuaca pada waktu penjemuran. Awal penjemuran umbinya di bawah dan daunnya di atas, kemudian setelah hampir kering posisinya dibalik umbinya di atas dan daunnya di bawah, supaya warnanya menjadi baik. Proses pengeringan dihentikan pada saat umbi bawang mencapai susut bobot 25 “ 40% dan kadar air umbi bawang mencapai 80 “ 84%. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan BPTP Balitbangtan Bengkulu, bawang merah umbi besar varietas Lokal Bali yang ditanam di dataran tinggi Kabupaten Rejang Lebong, setelah dikeringkan diruang pengeringan yang beratap plastik bergelombang dan dinding kasa, mengalami susut bobot sampai 36,58% selama 19 hari pengeringan. Dari 35 sampel yang diamati, penurunan bobot umbi terjadi setiap hari dan penurunan tertinggi yang terjadi pada pengamatan 3 hari pertama sebesar 24,66% dan pada hari ke 18 sebesar 36,37% dan pada hari ke 19 sebesar 36,66%. Persentase rata-rata penurunan bobot umbi setiap hari mengalami pertambahan dengan penambahan susut semakin kecil (Ahmad Damiri).