TANAMAN UMBILIN (KAPORO) Kemampuan produksi langan dalam negeri dari tahun ketahun semakin terbatas. Agar kecukupan pangan dalam negeri dapat terpenuhi, maka upaya yang dilakukan adalah peningkatan produksi budidaya pangan dengan pemanfaatan teknologi dan upaya diversifikasi pangan. Uapaya diversifikasi pangan menjadi sangat penting karena semakin terbatasnya kemampuan produksi pangan nasional. Dalam rangka memenuhi kebutuhanpangan karbohidrat dimasa mendatang terdapat berbagai kendala seperti laju pertumbuhanpenduduk yang cukup besar, terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Kesemuanya itu akan mengakibatkan semakin sulitnya penyediaan pangan lebih-lebih bila masih tertumpu kepada beras semata (single commodity). Kebutuhan karbohidrat dari tahun ketahun terus meningkat dimana penyediaan karbohidrat dari serelia tidak mencukupi. Sehingga peranan tanaman penghasil karbohidrat dari umbi-umbian seperti tanaman umbilin semakin penting. Tanaman Umbilin atau dalam bahasa Enrekang disebut KAPORO adalah tanaman dalam bentuk umbi. Kaporo adalah tanaman yang merambat dengan bentuk daun agak lebar yang tumbuh disekitar batang yang lunak. Kaporo merupakan tanaman pangan lokal yang saat ini mulai terlupakan. Tanaman kaporosangat kaya akan kandungan karbohidrat yang sangatbaiksetaradengankandungankarbohidrat dalam beras. Tanaman kaporo kini mulai dikembangkan kembali. Umbilin atau Kaporo dapat diolah dengan cara direbus atau digoreng, bahkan sekarang telah banyak ditemukan produk-produk olahan dari umbilin (Kaporo). Persiapan bibit Kaporo Bibit kaporo di dapatkan dari umbi tanaman kaporo yang telah dipanen. Dari satu buah umbi kaporo bisa dijadikan beberapa bibit dengan cara umbi tersebut dibelah-belah menjadi beberapa bagian. Setelah dibelah-belah umbi tersebut bisa langsung ditanam. Tetapi jika langsung ditanam butuh waktu yang agak lama sampai umbi tersebut mengeluarkan tunas. Cara lain, Umbi yang telah dipotong-potong tersebut di biarkan sampai beberapa hari sampai muncul tunas baru kemudian umbi tersebut ditanam.Penanaman Kaporo:Untuk penanaman kaporo terlebih dahulu dilakukan pembuatan lubang tanam dengan kedalaman ± 30 cm, lebar lubang 30 x 30 cm. Lubang tanam tersebut dibiarkan selama 2 sampai 3 bulan baru ditanami. Tanaman Kaporo adalah tanaman yang merambat sehingga harus disiapkan tiang pemanjat. Jika ditanam pada lahan kosong (tidak ada pohon) harus disiapkan tiang biasanya dari bambu atau batang kayu yang ditancapkan di sekitar pertanaman kaporo. Kaporo juga dapat ditanam di sekitar batang pohon, sehingga batang pohon tersebut berfungsi sebagai tiang panjat. Jika ditanamdi sekitar pohon dapat ditanam sampai 4 bibit kaporo di sekeliling pohon tersebut. Setelah lubang tanam siap dan telah dibiarkan selama 2 sampai 3 bulan selanjutnya dilakukan penanaman. Tanah galian lubang di campur pupuk kandang kemudian bibit tesebut ditimbun. Setelah tunas sudah agak panjang segera dipasang tiang panjat dan batang pohon kaporo akan merambat mengelilingi tiang panjat tersebut dengan sendirinya. Untuk pemeliharaan cukup dibersihkan dari gulma yang tumbuh di sekitar pertanaman. Tanaman kaporo tidak memerlukan pemberian pupuk an organik karena pemberian pupuk anorganik akan mempengaruhi rasa umbi bahkan menimbulkan rasa sepat pada umbi kaporo. Setelah ± 2 bulan umbi telah membesar ditandai dengan munculnya umbi atau tanah timbunan menggembung ke atas. Jika umbi muncul dipermukaan tanah harus dilakukan pembumbunan. Caranya ambil tanah kemudian campur dengan pupuk kandang kemudian umbi yang muncul di timbun kembali. PanenTanaman kaporo dapat dipanen setelah 8 sampai 10 bulan setelah tanam. Ciri-ciri tanaman Kaporo yang telah siap dipanen yaitu daun menguning dan kering. Jika diperkirakan umbi masih terlalu kecil maka tanaman dibiarkan saja sampai tumbuh kembali tunas baru dan diberikan perlakuan sama seperti waktu menanam pertama, setelah daunnya kembali menguning dan kering baru dipanen. Jika dibiarkan sampai 2 kali mati maka akan di dapatkan umbi yang lebih besar. Oleh :Djabbari, SP.Nip. 19641231 199103 1 129