Peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam budidaya kedelai dapat dicapai dengan penerapan teknologi yang bersifat spesifik lokasi pada masing-masing wilayah agroekosistem. Permasalahan yang bersifat spesifik lokasi pada setiap agroekosistem diatasi untuk mendapatkan persyaratan tumbuh optimal untuk tanaman kedelai. Paket teknologi produksi kedelai untuk agroekosistem lahan kering dataran rendah iklim basah seperti uraian berikut ini. Agroekosistem lahan kering dipilahkan mejadi dua kelompok besar, yaitu: (a) lahan kering tidak masam, dan (b) lahan kering masam. Pada umumnya pola tanam kedelai di lahan kering seperti berikut: 1. Kedelai “ kedelai “ bera 2. Padi gogo “ kedelai “ bera 3. Jagung “ kedelai “ tembakau 4. Kedelai “ kedelai “ kacang-kacangan lainnya Pada pertanaman masa musim hujan pertama atau MH I yaitu bulan Oktober “ Januari, dianjurkan menggunakan varietas kedelai umur sedang, sedangkan pertanaman kedelai pada musim marengan atau MH II (Februari “ Mei) dapat dipilih umur sedang atau genjah. Paket teknologi budidaya kedelai spesifik lokasi lahan kering masam dataran rendah iklim basah terdiri atas komponen seperti berikut: 1. Penyiapan lahan. Lahan disiapkan dengan pengolahan tanah sampai gembur menjelang musim hujan, yakni dengan dibajak 1 sampai 2 kali, kemudian digaru 1 kali dan diratakan. 2. Pembuatan saluran drainase. Pembuatan saluran drainase dilakukan dengan jarak antar saluran drainase 3 sampai 5 m dengan ukuran lebar 30 cm dan kedalaman 25 - 30 cm. Interval antar saluran drainase dapat lebih rapat sesuai dengan jenis tanah dan kemiringan lahannya. Pada tanah dengan tekstur halus atau biasa disebut tanah berat, dan lahan yang bertopografi datar, pembuatan saluran drainase lebih rapat dengan jarak antar saluran 2 sampai 3 m. 3. Penggunaan Varietas Unggul Varietas kedelai yang dianjurkan untuk agroekologi Lahan Kering Masam Dataran Rendah Iklim Basah seperti berikut: a. Ditanam pada Musim Hujan I (Oktober “ Januari), antara lain: · Varietas berbiji besar : Anjasmoro dan Rajabasa · Varietas berbiji sedang : Slamet, Tanggamus, Nanti, Sibayak, Ratai, dan Sinabung. b. Ditanam pada Musim Hujan II (Februari -Mei), antara lain: · Varietas berbiji besar : Anjasmoro dan Rajabasa · Varietas berbiji sedang : Slamet, Tanggamus, Nanti, Sibayak, Ratai, dan Sinabung. Deskripsi dan karakter beberapa varietas unggul kedelai untuk lahan kering masam dataran rendah iklim basah seperti Lampiran 1. 4. Penggunaan Benih Berkualitas. Penggunaan benih berkualitas, bernas dan memiliki daya tumbuh lebih besar dari 85%, murni, sehat, dan bersih, dengan total kebutuhan benih antara 40 kg/ha sampai 60 kg/ha, tergantung pada ukuran biji kedelai. Semakin besar ukuran biji maka semakin banyak benih kedelai yang dibutuhkan. 5. Perlakuan Benih (seed treatment) Perlakuan benih dengan insektisida berbahan aktif carbosulfan (10 g Marshal 25 ST/kg benih) atau fiponil (10 m Regent/kg benih) dimaksudkan untuk mengendalikan Lalat Bibit Kacang (Agromzya phaseoli) dan insekta lainnya. 6. Penggunaan pupuk hayati sumber Rhizobium Perlakuan benih dengan pupuk hayati sumber rhizobium bagi lahan yang sebelumnya tidak pernah ditanami kedelai (20 g sumber rhizobium/kg benih). 7. Populasi tanaman Popuasi tanaman 350.000 “ 500.000 rumpun per hektar, pengaturan jarak tanam berturut-turut 40 x 15 cm, 40 x 10 cm, dua tanaman/lubang. Pada tanah yang subur dan hujan/air cukup jarak tanam 40 x 15 cm, sedang pada tanah yang kurang subur dan hujan/air terbatas, jarak tanam 40 x 10 cm. 8. Penambahan amelioran Penggunaan amelioran secara teknis ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan aluminium (Al) yang memiliki hubungan kuat dengan tingkat kemasaman tanah (pH tanah). Teknik pengapuran tanaman kedelai di lahan masam seperti Lampiran 2. 9. Pemupukan NPK Berimbang Pemupukan tanaman kedelai disesuaikan dengan kondisi agroekologi dan kadar hara dalam tanah. Anjuran pemupukan meliputi hara makro utama yaitu NPK, hara mikro dan pupuk kandang serta penggunaan jerami padi pada Lampiran 3. 10.Pengairan Pengairan diberikan jika kelembaban tanah tidak mencukupi terutama pada stadium tanaman pada: awal pertumbuhan, berbunga, dan pengisian polong. Sumber pengairan dapat berasal dari sumur atau dari sungai kalau memungkinkan dengan pompanisasi atau irigasi. 11.Pengendalian gulma. Gulma dikendalikan berdasarkan pemantauan baik secara mekanis, konvensional, manual (penyiangan dengan cangkul atau sistem cabut), mekanisasi, maupun secara kimia dengan menggunakan herbisida pra tumbuh atau pasca tumbuh. Penyemprotan herbisida pra tumbuh dilakukan seminggu (7 hari) sebelum tanam, sedang penyemprotan herbisida pasca tumbuh perlu hati-hati dengan menggunakan tudung nozzle supaya tidak meracuni daun tanaman kedelai. 12.Pengendalian OPT. Pengendalian hama dan penyakit berdasarkan petunjuk teknis Pengendalian Hama terpadu (PHT). 13.Panen dan Pascapanen Tanaman kedelai siap dipanen apabila daun sudah luruh dan 95% polong sudah berwarna kuning-kecoklatan, atau coklat-kehitaman (tergantung varietas) dilakukan secara konvensional (disabit atau dicabut). 14.Perontokan Perontokan kedelai dapat dilakukan secara manual (sistem geblok, pemukul kayu) atau secara mekanis dengan mesin perontok. Sumber: Balitkabi Malang Ditulis: Jamhari Hadipurwanta, Tri Kusnanto dan Edwin Herdiansyah