Keberadaan benih unggul dari tanaman lada sangat terbatas, hal ini disebabkan oleh terbatasnya kebun sumber benih lada yang mampu menghasilkan benih bermutu secara berkelanjutan. Benih merupakan faktor utama penentu keberhasilan dalam pengembangan suatu komoditas. Benih lada bermutu hanya bisa diperoleh dari tanaman induk yang sehat dengan pertumbuhan vegetatif yang optimal. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman lada melalui pemberian hara N, P, K, Ca, Mg. Cara pemupukan yang umum dilakukan adalah ditebarkan dipermukaan tanah, dibenamkan di dalam tanah, disemprotkan pada daun, atau melalui air irigasi yang biasa disebut fertigasi. Cara terakhir dipandang lebih efisien mengingat pemupukan dengan cara ditebarkan di permukaan tanah ternyata banyak terbuang, demikian juga pemupukan dengan cara dibenamkan di dalam tanah memerlukan lebih banyak air dan lama dapat diserap oleh tanaman sedangkan pemupukan dengan diseprotkan pada daun mudah menguap. Untuk itu pengaturan komposisi hara dengan teknik fertigasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan vegetatif sehingga dapat meningkatkan produksi dan mutu setek. Teknik fertigasi merupakan gabungan aspek irigasi dan pemberian hara yang diaplikasikan secara bersamaan baik secara manual maupun menggunakan alat pendukung. Pengelolaan hara tanaman dengan teknik fertigasi utamanya adalah pada hara makro seperti nitrogen, kalium, fosfat dan magnesium. Akan tetapi untuk melengkapi kebutuhan hara mikro yang dibutuhkan tanaman lada dapat diberikan secara bersama-sama melalui teknik fertigasi ini. Keunggulan teknik fertigasi pada tanaman lada antara lain menghemat biaya pemupukan, meningkatkan efektivitas serapan hara oleh tanaman karena pemberian air dan hara langsung ke bagian perakaran, meningkatkan pertumbuhan tanaman, meningkatkan kandungan klorofil daun serta meningkatkan mutu fisik dan fisiologis benih yang dihasilkan. Jaringan fertigasi dapat berupa pipa paralon yang dipasang sepanjang pertanaman lada. Berdasarkan target area pemberian air ke tanaman, operasional fertigasi dapat dilakukan bersamaan dengan teknik irigasi yang dapat dibedakan menjadi irigasi overhead, irigasi permukaan (surface irrigation), irigasi tetes (drip irrigation) dan irigasi sub permukaan (sub irrigation). Irigasi overhead, air diberikan melalui unit semprotan yang menyerupai hujan dengan unit sprinkler. Sistem irigasi permukaan dilakukan melalui cara irigasi saluran (furrow irrigation) dan cara penggenangan (flooding method). Sistem irigasi permukaan hanya efektif untuk diterapkan pada lahan yang relatif datar. Irigasi tetes dioperasionalkan melalui unit emitter atau nozel yang menetes langsung ke area perakaran tanaman. Sedangkan untuk jenis irigasi sub permukaan diberikan pada area perakaran melalui pipa kapiler di bawah tanah, namun irigasi sub permukaan ini jarang diterapkan karena memerlukan biaya investasi awal yang mahal. Pada perbibitan tanaman lada dengan tiang panjat mati, teknik fertigasi memberikan hasil yang baik dimana pemanenan stek pertama dapat dilakukan pada tanaman lada berumur 6 (enam) bulan setelah tanam dengan produksi benih lada stek sulur 1 (satu) buku yang dihasilkan kokoh, tinggi, jumlah daun banyak dan diameter lebih besar. Selain pada pembibitan, teknik fertigasi sebaiknya juga diterapkan pada perkebunannya. Hal ini dikarenakan seiring tuntutan peningkatan efisiensi budidaya on-farm agar lada nasional tetap kompetitif ke depan, maka penghematan penggunaan sumberdaya pupuk yang semakin mahal mengharuskan untuk dilakukan perbaikan teknik pemupukan. Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Joko Pitono, 2018. Prospek Fertigasi Untuk Pengelolaan Hara Pada Budidaya Lada. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Perspektif Vol 17 (2), Desember 2018. Devi Rusmin dan Melati, 2021. Produksi Benih Lada Melalui Teknik Fertigasi. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri Vol 26 (1), April 2021.