Berdasarkan hasil analisis Agro Ekosistem Wilayah (AEZ) oleh BPTP Kalimantan Barat terdapat sekitar 250.000 hektar lahan gambut yang cocok untuk pertanian. Untuk usahatani maka lahan gambut ini diperbaiki dulu kondisinya terutama dari aspek-aspek (1) Perbaikan sifat gambut yang masam dengan pH 3,5-4,5 hingga mendekati optimal pH 6,5-7,0 dengan pembuatan saluran drainase dan penambahan amelioran. (2) Mengatur tinggi muka air tanah 20-40 cm dengan mengatur saluran drainase untuk memperlambat penurunan (subsidence) lahan gambut sekaligus mencegah munculnya fenomena sifat kering tidak balik (irreversible drying). (4) Membangun pondok pembuatan abu bakar untuk mencegah kebakaran lahan gambut dan memproduksi ameliorant berupa abu bakar. (5) Menyediakan pupuk organic yang diperlukan tanaman untuk memasok keperlukan unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman. Setelah lahan gambut diperbaiki kondisinya barulah petani dapat memulai penanaman komoditas yang diinginkan. Untuk memudahkan alur persiapan lahan gambut hingga penanaman maka sekali lagi akan diuraikan secara ringkas proses penyiapan lahan gambut hingga siap tanam berikut ini. Persiapan lahan gambut Jika kita memiliki sebidang lahan gambut misalnya seluas 5.000 m2 dengan kedalaman gambut 5 meter dan ingin memanfaatkan lahan gambut yang masih ditumbuhi tanaman paku-pakuan atau bawas ini untuk tanaman sayuran maka dapat dilakukan persiapan sebagai berikut: 1. Pembuatan parit Buatlah parit keliling lahan yang akan menjadi parit batas antar lahan. Parit ini dapat dibangun dengan ukuran lebar 1 meter dan dalam 1 meter. Dengan ukuran parit seperti ini maka tinggi muka air diharapkan dapat dipertahankan antara 20-40 cm. Bila tinggi muka air terlalu dalam misalnya mencapai 75 cm maka parit ini harus disesuaikan agar lebih dangkal hingga tercapai tinggi muka air cukup 20 cm. Parit ini diharapkan sudah mampu untuk membuang kelebihan air yang ada di lahan gambut. Bila ukuran lahan 25 x 200 meter maka total panjang parit akan menjadi 450 meter dan dapat dibuat menjadi sekitar 200 bedengan.Buatlah parit lintang untuk setiap jarang 50 meter. Untuk lahan dengan panjang 200 meter maka dapat dibuat 3 buah parit lintang. Parit ini dapat dibangun dengan ukuran lebar 1 meter dan dalam 1 meter. Ukuran parit disesuaikan dengan tujuan utama yaitu mempertahankan tinggi muka air tanah sekitar 20 cm untuk lahan gambut ayang akan ditanami sayuran atau 40 cm untuk tanaman tahunan.Buatlah kolam di bagian tengah parit lintang sebagai sumber air yang diperlukan untuk penyiraman tanaman. Kolam ini dapat berukuran 2x3 meter dan dalamnya sekitar 2 meter. Air kolam ini akan mengalami pasang dan surut sesuai dengan kondisi air tanah. Oleh karena itu perlu dibuat tangga kayu untuk memudahkan mengambil air pada saat air surut. Air kolam ini juga bermanfaat untuk mencuci hasil sayuran yang dipanen. 2. Pembuatan pondok abu Buatlah bangunan berupa pondok abu. Ukuran idealnya 5x6 meter dengan tiang kayu belian, dipagar keliling dengan papan setinggi satu meter, dan akan lebih baik diberi atap yang kuat misalnya seng bekas drum aspal. Pondok ini digunakan untuk membuat abu bakar, tempat menyimpan pupuk organic misalnya kotoran ayam, dan tempat mencampur abu bakar dengan pupuk organic, serta pupuk kulit udang. 3. Pembersihan lahan Pembersihan lahan dapat dimulai dari petakan lahan gambut yang pertama dengan ukuran 25 meter x 50 meter. Sisa pembersihan lahan berupa paku-pakuan, sisa batang dan akar pepohonan, dan rumput pada awal pembukaan lahan biasanya ditumpuk dan dibakar langsung di lapangan. Alasan utama petani biasanya adalah kekurangan tenaga bila harus diangkut dan dibakar di dalam pondok abu. Pembakaran sisa pembersihan lahan ini dijaga agar tetap terkendali karena sudah ada parit penyekat berupa parit keliling batas antar lahan dan parit lintang yang pertama. 4. Pembersihan lanjutan Setelah hasil pembersihan lahan itu dibakar maka lahan mulai tampak lapang. Lakukan pembersihan lanjutan dengan cara mengumpulkan kayu dan akar pohon yang biasanya tidak terbakar sempurna. Sisa-sisa kayu dan akar pohon ini perlu dikumpulkan lagi untuk dibakar sehingga lahan bersih dan diperoleh abu bakar. 5. Pembuatan bedengan Pengukuran bedengan yang akan dibuat 1,8 x 12 meter menggunakan tali at atau raffia. Ukuran ini penting karena disesuaikan dengan ukuran gembor untuk menyiram tanaman sehingga penyiraman tepat 1 pikul gembor berisi air untuk satu bedengan.Cangkulan pertama pembuatan bedengan ini sedalam 30-40 cm atau sedalam 2 mata cangkul.Campurkan abu ke atas bedengan lalu diaduk merata dengan dosis 2 kg/m2.Biarkan bedengan ini terjemur selama 2 hari.Campurkan lagi abu dan diaduk hingga merata dengan dosis 2 kg/m2. Tujuannya untuk menetralkan keasaman tanah gambut.Bentuklah bedengan dengan panjang 10 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi cukup 20 cm. Pada musim kemarau bedengan ini biasanya dipadatkan sedangkan pada musim penghujan tidak perlu dipadatkan.Sekarang kita sudah memiliki bedengan yang siap untuk ditanami. Langkah selanjutnya adalah memulai penanaman komoditas tanaman yang ingin kita kembangkan. Pada tulisan ini diberikan gambaran penanaman sayuran daun. Meskipun demikian menurut pengamatan penulis tidak kurang dari 20 jenis tanaman sudah dapat dikembangkan pada bedengan yang sudah siap ini. (Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., Penyuluh Pertanian BPTP Kalimantan Barat) Sumber : Ir. Sigit Sapto Wibowo, MSc., BPTP Kalimantan Barat. Praktek Gelar Teknologi Pengelolaan Lahan Gambut Tanpa Pembakaran Lahan di Sungai Selamat, Pontianak Utara, dari tahun 2003-2017